Blokir

Sebagian orang senang memelihara annoying people. Buktinya banyak yang benci Jonru tapi masih aja ngelike pagenya. Makin ge-er-lah si Jonru. Atau salah satu teman Facebook yang nyampah di Facebook, mengeluh terus-terusan tentang orang menyebalkan yang sering bikin masalah sama dia. Tetangga, sekaligus teman Facebook. Ada yang menyarankan untuk memblokir orang itu dari Facebooknya biar gak perlu lagi lihat orang itu bikin status yang mancing emosinya di Facebook. Tahu bagaimana jawabannya? “Biarin aja. Jangan balas kejahatan dengan kejahatan.” Hadeh. Saya langsung tepok jidat lalu klik Hide untuk menyembunyikannya dari beranda Facebook saya.

Heran sih, kenapa ada orang yang hobi liat orang yang menyebalkan. Kalo saya sih tinggal klik Hide, Unfriend, atau Block. Bahkan waktu buka Facebook pakai akun alternatif saya, lihat Jonru di daftar Page yang disarankan, langsung saya blokir. Belum ngelike sudah mblokir. Ngapain memberi celah kesempatan buat orang yang senang lihat kita marah? 😀

Pikiran kita hanya bisa memikirkan satu hal dalam satu waktu. Sayang kalo kita kasih kesempatan buat berpikir negatif. Buang-buang waktu, buang-buang energi.

Ego Sang Guru

Bagiku, seseorang yang gampang tersinggung bila dikritik atau ditegur tidaklah pantas untuk menjadi seorang guru. Terlebih lagi dalam bidang spiritual, di mana salah satu pembelajarannya adalah bagaimana memahami gerak ego atau sang aku dalam diri dan menjadikan Aku sebagai tuan atas aku. Ini topik panjang, tapi salah satu ciri orang yang sudah mengalami kebangkitan, dilahirkan kedua kalinya, pencerahan, manunggaling kawula gusti atau apapun itu namanya, adalah ia tidak lagi mudah – atau malah tidak lagi bisa – tersinggung. Ini karena tersinggung adalah kerja ego. Seseorang yang tersinggung kemudian marah berarti egonya masih berkuasa atas dirinya. Bila seseorang telah menjadi tuan atas egonya sendiri, maka perkataan apapun dari orang lain tidak akan membuatnya tersinggung. Ia sadar bahwa ia hanya bisa marah kalau ia mengijinkan dirinya marah. Pikiran adalah seperti sebuah rumah, sementara emosi adalah tamu yang datang dan pergi. Emosi hanya bisa menguasai diri kita kalau kita mengijinkannya masuk ke dalam rumah pikiran kita.

Diri kita terdiri dari tubuh, pikiran, emosi/perasaan dan ingatan. Ketika kita tersinggung, siapa yang sebenarnya sedang tersinggung? Apakah tubuh kita, perasaan kita, ingatan kita, ataukah perasaan kita? Benar, yang tersinggung adalah perasaan kita. Tapi apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Tidak. Kita bukanlah perasaan kita. Emosi datang dan pergi. Tapi pikiran kita tinggal tetap. Ia yang telah memahami siapa dirinya akan mudah melihat setiap gerak emosi dalam dirinya sehingga pikirannya tetap jernih dalam keadaan apapun.

Everyday I’m Something New

Everyday I’m something new. Setiap hari setiap kali relaksasi, aku bertumbuh, berubah menjadi sesuatu yang lebih baik, lebih baru. Bahkan tak jarang ketika bagian-bagian diriku yang selama ini mengidentifikasikan diri sebagai ‘aku’ menghilang atau berubah fungsi menjadi bagian diri yang baru, aku benar-benar berubah menjadi sesuatu yang baru. Everyday I’m something new.