in Catatan Kehidupan, Impian, Pribadi

Refleksi

Satu hal yang menarik dalam khotbah tadi pagi adalah ketika Pak Pendeta memaparkan ide bahwa hambatan yang menjatuhkan bisa datang dari dalam. Kemudian beliau bercerita tentang seorang warga yang datang ke rumah beliau dan berkata bahwa tidak mungkin gereja kecil yang tidak kaya ini bisa memiliki sebuah stasiun radio. Ini adalah contoh bagaimana kejatuhan bisa dimulai justru dari dalam.

Aku tidak menentang ide itu. In fact, aku malah tidak peduli dengan ide itu. Aku sudah bosan dengan curhatan beliau tentang perjuangannya menghadapi tentangan warga dan majelis yang dianggap tidak suka dengan ide beliau. Padahal menurutku tentangan itu cuma efek ketidakmampuan beliau menyederhanakan dan memaparkan ide kepada semua kalangan dan membuat semua warga memiliki keinginan untuk bekerja bersama.

Yang menarik adalah justru setelah itu, beliau melontarkan sebuah ketidakyakinannya bahwa negara Indonesia ini akan bertahan sampai umur 100 tahun. Well… Mungkin cuma aku yang melihat, tapi aku melihat kontradiksi di sini. Di satu sisi beliau memperingatkan bahwa hambatan bisa datang dari sisi internal, sementara beliau sendiri mengemukakan ide yang menjatuhkan tentang kemungkinan negara kita mencapai umur 100 tahun.

Aku tidak hendak menyerang pribadi beliau sih. Gak ada gunanya juga. Cuman yang kembali aku pelajari adalah bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah refleksi / pantulan dari apa yang kita pancarkan dari dalam pikiran kita. Ketika Pak Pendeta mengalami berbagai macam hal yang menurut beliau adalah hambatan dari dalam, itu sebenarnya reaksi dari program dalam pikiran bawah sadarnya yang menganggap bahwa selalu akan ada hambatan dari dalam. Dan itu tercermin dalam kata-kata beliau tentang ketidakyakinannya pada umur negara ini. Terlebih tadi pagi ketika aku sedang memanasi mobil, aku mendengar rekaman renungan pagi beliau di radio yang juga senada.

Karena itulah sudah sejak lama kalau aku mendengar beliau (dan pendeta-pendeta setipe) berkhotbah aku selalu memegang prinsip bahwa yang masuk ke pikiran bawah sadarku hanyalah hal-hal yang aku setujui untuk masuk ke pikiran bawah sadarku. Pikiran ini terlalu berharga untuk diserahkan kepada orang lain untuk mengisinya. Kehidupan kita adalah buah dari pikiran kita. Untuk mendapatkan buah yang baik, kita harus menanam benih yang baik. Karena itu penting untuk selalu menjaga kesadaran, berjaga-jaga di depan pintu pikiran kita, supaya hanya benih yang baik yang tertanam dalam pikiran kita. Hanya dengan demikianlah kita bisa mengalami kehidupan yang baik dan menyenangkan.

On a side note, kemarin aku baru beli jam tangan baru, Casio G-Shock GA-100. Udah pengen punya jam tangan G-Shock sejak jaman masih SD atau SMP gara-gara liat iklannya di majalah Bobo. Dulu ortu gak kuat beli karena waktu itu tergolong mahal buat kantong keluarga kami. Puji Tuhan kemarin bisa beli pakai uang sendiri. Gak mahal banget sih. Cuma sekitar 1,3 juta. Tapi baru kali ini punya jam yang harganya di atas 1 juta. Pernah sekali beli jam di atas 1 juta tapi buat kado orang lain. Jamku sendiri harganya gak pernah lebih dari 500 ribu. Hehe..

Yang aku suka dari jam ini adalah kedap air, plus tampilannya keren. Fungsi memang jadi patokan utamaku kalau membeli segala sesuatu. Kalo gak fungsional, mending gak usah beli. Misalnya smartphone tablet yang segede buku. Pengen sih beli. Duitnya juga ada. Tapi aku ngebayanginnya aja males, ke mana-mana musti bawa barang yang gak bisa dikantongi. Ribet. Fungsinya juga gak jauh beda sama hape yang layarnya di bawah 5″. Paling cuma buat foto-foto, facebook, twitter, instagram, BBM, email, baca berita, udah. Hehe.

Selain kedap air, aku suka fitur auto light-nya. Jadi jam ini bisa disetting lampunya otomatis menyala kalau tangan kita berada pada sudut tertentu. Fitur ini berguna terlebih pada malam hari. Jadi ketika kita menghadapkan jam ini ke wajah kita, lampunya otomatis menyala menerangi bagian dalam jam ini.

Catatan ini bukan pamer. Hanya menunjukkan kembali bahwa apapun yang kita impikan suatu saat pasti akan terwujud asalkan kita tidak pernah berhenti memimpikannya. Karena kehidupan adalah buah dari pikiran kita.

review jam tangan casio g-shock ga-100

LIhat lampunya menyala ketika jam tangannya kuhadapkan ke wajahku. Bukan karena sensor wajah, tapi karena tanganku membentuk sudut kemiringan tertentu yang mengaktifkan lampunya. Maap gambarnya kabur. Hape yang kameranya auto fokus lagi abis baterenya. Hehe

Leave a Reply