in Pemikiran, Publik

Human Trafficking itu kalo manusia yang dijual tidak menghendaki diperlakukan demikian. Orang-orang yang dijual sebagai budak, perempuan-perempuan yang dijual sebagai pelacur, bayi-bayi yang dicuri dari Rumah Sakit lalu dijual untuk diadopsi, anak-anak yang diculik lalu dijual pada bandar pengemis, itu semua human trafficking. Kalo manusianya rela dengan senang hati diperlakukan demikian ya bukan human trafficking namanya. Itu relasi bisnis biasa, kayak perempuan yang dilatih jadi babysitter trus ditawarkan ke keluarga-keluarga kaya, atau anak-anak muda yang dilatih jadi buruh kemudian ditawarkan ke perusahaan-perusahaan Malaysia. Toh semua karyawan “menjual” dirinya ke perusahaan, menjual kemampuan otaknya, fisiknya, tenaga dan waktunya. Yang menyalurkan pekerja ke perusahaan-perusahaan asing atau ke rumah-rumah tangga di negara lain juga disebut PJTKI, Penyalur Jasa Tenaga Kerja, bukan Penjual Manusia Untuk Dipekerjakan.

Jadi NM dan PR bukan korban. Barangkali mereka korban tuntutan gaya hidup mereka sendiri. Atau korban himpitan ekonomi untuk kebutuhan keluarganya. Barangkali ibunya butuh duit banyak buat operasi penyakit parah. Who knows? Yang jelas mereka bukan korban human trafficking.

Kalo yang dibidik soal prostitusi, beda lagi urusannya. Prostitusi bisa dilegalkan, bisa pula dilarang sama sekali. Tapi seperti kata Nikita Meidy, prostitusi itu sama tuanya dengan peradaban manusia. Jadi mau dilarang seperti apapun prostitusi tetap akan menemukan caranya sendiri. Dolly ditutup, prostitusi pindah ke hotel, villa, dan rumah-rumah kos. Pelakunya jadi sulit dikontrol, termasuk penyebaran penyakit menular seksualnya. Alhasil tahun ini terjadi peningkatan jumlah penyandang HIV / AIDS. Kalau sudah begitu, mau gimana lagi?

Selama ada demand, selama itu pula prostitusi akan tetap ada.

nikita-mirzani-bugil

Leave a Reply