in Bisnis, Pribadi

Sekian tahun mencoba belajar tentang dunia bisnis, akhirnya memang harus menentukan syarat bisnis yang mau dijalani. Karena tidak semua bisnis itu sama, dan tidak semua bisnis cocok untuk semua orang. Belajar dari Pak Adi W. Gunawan yang menentukan syarat untuk bisnis yang mau ditekuninya, aku juga mau menentukan seperti apa bisnis yang ingin kutekuni dan kukembangkan.

  1. Ngurusin produksi itu capek. Banyak detail pekerjaan yang harus diperhatikan. Akhirnya kapasitas produksi terbatas pada kemampuan fisikku. Tapi aku pernah dalam satu masa orderan banyak namun tidak merasa capek. Aku cuma menghandle beberapa bagian persiapan kerjaan, selanjutnya sampai finishing dikerjakan oleh karyawan. Aku kebagian kerja lagi di bagian quality control. Tentu saja aku harus memastikan barang produksiku sesuai standar kualitasku, demi menjaga tingkat kepuasan konsumen. Kuncinya ternyata memang harus punya karyawan, harus punya tim. Jadi syarat pertama bisnis yang ingin kutekuni adalah harus menggunakan sesedikit mungkin tenaga fisikku. Mayoritas harus dihandle oleh karyawan, sehingga aku punya banyak waktu untuk berpikir, merancang dan mempromosikan daganganku.
  2. Jualan barang fast moving itu lebih menyenangkan dalam hal kontinuitas pekerjaan. Aku sedang mencoba menjalankan bisnis properti tapi duitnya tidak datang tiap hari seperti bisnis harianku. Ya emang sekali laku untungnya gede, tapi aku masih belum dapet feelnya. Belum lagi kapitalisasi modalnya besar, jadi rasanya sumber daya sudah tersedot duluan sebelum mulai mendulang laba. Fine-fine saja sih sebenarnya. Barangkali memang harus punya bisnis harian di samping bisnis bulanan atau tahunan. Jadi syarat ke-dua bisnis yang ingin kutekuni adalah, harus mendatangkan laba harian atau setidaknya mingguan.
  3. Punya bisnis kecil itu kembang kempis. Kalo pas rame ya seneng, kalo pas sepi pusing. Apalagi tagihan jalan terus 😀 Saat ini rata-rata laba bersih bisnisku per bulan masih di kisaran low 8 digit. Itupun ada bulan-bulan rame dan ada bulan-bulan sepi. Aku ingin income yang stabil dan cukup besar untuk kebutuhan hidup keluarga. Jadi syarat ke-tiga bisnis yang ingin kutekuni adalah punya potensi laba bersih di kisaran Rp. 50-100 juta/bulan. Jadi sesepi-sepinya penjualan masih bisa ngantongi Rp. 50 juta sebulan kan masih lumayan.
  4. Salah satu alasan aku terjun ke dunia bisnis adalah agar aku bisa selalu dekat dengan keluargaku. Trauma masa laluku punya Bapak yang kerja jauh dari keluarga bikin aku ingin selalu dekat dengan keluargaku. Aku juga tidak ingin kerja kantoran yang berangkat tiap hari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Mana tahan 😀 Aku pengen punya waktu yang cukup untuk beraktivitas bersama keluargaku. Masak bareng istri, maen sama anak, jalan-jalan, dll. Karena itu syarat ke-empat bisnis yang ingin kutekuni adalah bisnis itu harus memberiku waktu luang yang cukup supaya aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluargaku. Barangkali butuh waktu untuk set up, tapi begitu bisnisnya sudah jalan aku bisa jalan-jalan sama keluargaku. Kalaupun harus fokus kerja harian, cukuplah kira-kira tiga jam per hari fokus ngurusi kerjaan. Sisanya bisa disambi momong 🙂

Sementara segitu dulu yang terbayang.

Nah dari ke-empat syarat itu barulah aku cari bisnis yang cocok. Saat ini yang sudah ada yaitu bisnis harianku produksi atribut seragam dan bisnis propertiku yang baru satu lokasi. Dua-duanya belum memenuhi empat syarat di atas 😀 Tapi tidak apa-apa. Namanya proses, dinikmati saja. Sebenarnya bisnis harianku yang sekarang kalau sudah dapat tim yang bagus bisa lah memenuhi ke-empat syarat tadi. Kalau punya tim kerja yang cakap, aku punya cukup waktu untuk memperbaiki sisi marketingnya. Dan dengan scale up dan scale out yang tepat, profit 9 digit per bulan adalah sebuah keniscayaan. Cuman ternyata tidak gampang cari karyawan yang tekun, kerjaannya rapi dan gaya hidupnya sederhana. Pernah punya karyawan yang kerjanya bagus, ngerasa gajinya cukup trus langsung kredit motor baru. Yasalam gajinya kepotong 600ribu per bulan buat cicilan motor. Blom lagi ongkos bensin, biaya pacaran, bla bla bla. Mana jadi telat tiap hari katanya nganter mamaknya ke pasar. Byuh. Akhirnya resign sendiri karena malu sering telat n bolos. Pernah juga punya karyawan tekun, tapi kecil hati. Ditegur karena kualitas pekerjaan yang masih di bawah standarku, eh besoknya resign. Yawdah. Pernah juga punya karyawan sederhana, eh tiba-tiba suatu hari korslet kayak orang sakit jiwa. Ternyata memang dia punya banyak masalah keluarga. Hadeh.

Eh tapi pengalaman punya berbagai macam tipe karyawan itu bagus lho. Aku jadi belajar memperlakukan karyawan dengan lebih baik, mengendalikan emosiku dengan lebih baik, bicara dengan lebih baik, dll. Yang kuamati sekarang, kalau karyawan masih muda mereka tidak cuma butuh pekerjaan tapi juga aktualisasi diri. Makanya keinginannya banyak. Kalau karyawan yang sudah berkeluarga, biasanya lebih bisa irit. Tapi kadang kasihan juga karena UMR itu menurutku hanya cukup untuk hidup seorang diri alias bujangan. Kalau sudah berkeluarga, pasangannya tidak bekerja, gajinya jadi kurang. Solusinya memang kalau ada keluarga yang hidup dengan gaji UMR, suami istri harus kerja semua. Apalagi kalau anaknya tidak cuma satu dan masih usia sekolah. Kalau yang bekerja hanya suaminya, dia harus kerja di level manajemen atau marketing yang potensi pendapatannya dua kali UMR. Solusi lainnya, dia harus jadi partner produksi yang potensi pendapatannya 2,5 sampai 3 kali UMR. Dengan jadi partner, berarti dia sudah jadi pengusaha sendiri meski orderan masih bergantung pada kita.

Pilihan bisnis yang lain, aku sedang menjajaki bisnis baru yang sepertinya memenuhi empat syarat bisnisku tadi. Tantangannya adalah aku harus belajar banyak tentang periklanan. Dan karena lingkup bisnisnya adalah internasional, mau tidak mau aku harus belajar tentang bahasa dan budaya orang luar negeri. Untungnya aku dapet mentor yang sudah berhasil di bisnis itu. Besok dah kalo aku sudah dapat Rp. 50 juta/bulan atau lebih dari bisnis itu, aku banyak share di sini. Doakan ya 🙂

Leave a Reply