Limited Time

Salah satu kriteria memilih bisnis adalah ketersediaan waktu kita untuk mengelolanya secara maksimal untuk menghasilkan profit secara optimal. Misalkan kita memilih bisnis jadi developer properti. Artinya kita harus tahu konsekuensi menjadi developer properti adalah konsisten untuk terus berburu lahan setiap hari, sambil menjalankan proyek yang sudah berjalan, dan tetap punya waktu untuk keluarga. Kalau kita tidak full time terjun di situ ya agak repot. Misalnya Continue reading

Make Up Your Mind

Pilihan banyak, tapi kalau kita tidak memilih akhirnya kita tidak akan maksimal. Atau kita memilih semuanya, lebih banyak dari yang bisa kita handle, akhirnya juga tidak maksimal juga.

Tentukan satu, dua, tiga pilihan, tekuni sampai menghasilkan.

Fokus

Setelah mencoret game dari daftar kebiasaan, sudah langsung keliatan hasilnya bisa lebih fokus ke kerjaan baru. Sekarang mau coret satu kebiasaan lagi, cuman harus ada pola penggantinya supaya tidak kembali ke kebiasaan lama. Sedang dipikirkan, kalau perlu dibicarakan berdua supaya sama-sama enak 😀

Kekuatan yang Menggerakkan Kehidupan

Untuk ke sekian kalinya denger cerita tentang orang desa yang santai mancing dan orang kota yang kaya yang juga mau mancing. Bla bla bla, karena cerita itu lalu suatu saat di suatu titik kehidupan, saya sampai pada kesimpulan, “Kalau semua orang pada akhirnya mati, kenapa kita harus hidup?”

Untungnya seorang ilmuwan menyadarkan saya, bahwa banyak orang seringkali menganggap bahwa makna hidup, tujuan hidup, alasan mengapa kita hidup, itu adalah sesuatu yang sudah ada dan tersembunyi sehingga harus kita cari dan temukan. Hanya sedikit orang yang berpikir bahwa barangkali hal itu bukan sesuatu yang sudah ada lalu kita cari dan temukan, melainkan sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri.

Lalu suatu kenangan membawa sepotong ayat Alkitab ke pikiran saya, bahwa manusia diciptakan serupa dengan Tuhan. Karena itulah manusia tidak hanya menjadi ciptaan melainkan juga menjadi pencipta. Tidak hanya mencipta hal-hal di luar diri tetapi juga hal-hal di dalam diri.

Lalu kenangan lain membawa sepotong kalimat dari seorang pembelajar kehidupan, bahwa kita harus belajar mengendalikan emosi kita. Kalau tidak, maka hidup kita akan dikendalikan oleh emosi kita. Dan bagi sebagian orang yang belajar tentang emosi, mengendalikan emosi orang lain itu sesuatu yang tidak sulit. Pengetahuan tentang itu bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang baik maupun tujuan yang jahat.

Eh, anda tahu persamaan Ahok dan Jonru? Keduanya sama-sama digerakkan oleh emosi. Ahok sekian tahun lalu emosi karena pabriknya dibuat tutup oleh para pejabat bermoral bengkok, sedangkan Jonru sekian tahun lalu emosi karena perasaan superioritasnya sebagai anggota partai dakwah hancur setelah calon gubernur partainya kalah dari cagub PDIP, partai yang dianggap memusuhi ideologi PKS. Berlanjut ke pilpres, kalah lagi oleh PDIP lagi.

Emosi bisa bikin akal anda sehat, tapi bisa juga bikin anda kehilangan akal sehat. Karena itu hati-hatilah dengan emosi anda.

Refreshing

Pengen refreshing in between tasks, apa aja ya pilihannya? Dulu suka main game, tapi ternyata terlalu banyak makan waktu. Alasannya cuman bentar, tahu-tahu udah tengah malam.

Being too productive can be exhausting sometimes. Nah katanya, yang bagus itu kerja maksimal sekian jam gitu (empat ato berapa gitu saya lupa) diselingi istirahat/refreshing selama sekitar 15 menit. Nah kira-kira apa aja ya pilihan refreshing 15 menit itu?

  1. Tidur. Pilihan yang cukup bagus, kalau pakai teknik tidur otak alias relaksasi pikiran. Kalau tidur fisik butuh waktu lebih lama. Nah relaksasi pikiran 15 menit sudah cukup untuk recharging aki fisik dan psikis.
  2. Membaca. Pilihan bagus, tapi kalo bacaannya berat ya sama aja 😀 Barangkali berguna kalau membaca sesuatu yang sama sekali berbeda dengan bidang yang sedang difokuskan. Misalnya tentang budaya, atau wisata, atau wanita. 😀
  3. Nonton video. Bisa film, TV, atau Youtube dan sebangsanya. Menarik sih, tapi sepertinya 15 menit bakal berasa kurang.
  4. Bercinta. Pilihan mantap! Sayangnya perlu bantuan istri, sementara istri tidak bisa diajak bercinta tiap 4 jam 😀 Jangankan tiap jam, tiap hari pun tidak bisa. Kata dokter harus dikasih jarak 2-3 hari biar spermanya matang dulu 😀
  5. Menulis. Pilihan menarik. Sayangnya kalau sudah asyik menulis, butuh waktu setidaknya 1-3 jam untuk menghasilkan tulisan yang memuaskan. Alternatifnya barangkali menulis hal-hal ringan di blog. Tantangannya, yang ringan kadang jadi berat kalau sudah berkaitan tentang perenungan kehidupan. Mau nulis cerita panas takut jadi pengen bercinta 😀
  6. Ngelamun. Alah palingan ngelamun jorok 😀

Sepertinya dari pilihan di atas, alternatif yang paling menarik dan berguna adalah alternatif pertama. Relaksasi pikiran. Jadi inget kata-kata Pak Adi W. Gunawan, kalau kamu sedang tidak sibuk, ambillah waktu setengah jam setiap hari untuk relaksasi pikiran. Kalau kamu sedang sangat sibuk, satu jam.

Plus sepertinya relaksasi pikiran bisa dimanfaatkan untuk terapi Ego Personality.

Okesip.

Signs

Baca postingan blognya Pak Roni Yuzirman, sepertinya relevan dengan apa yang sedang kualami. Ada beberapa tanda yang kudapat dalam perjalananku mencapai impian. Let’s see.

Sekitar dua minggu lalu ketemu temen SMA di Jodo. Ngobrol-ngobrol, ternyata suaminya adalah developer properti juga di Purworejo, dan menawarkan untuk membantu menjualkan properti daganganku. Oh wow. How stupid I am kalau tidak kuterima tawarannya.

Kemaren, PPh Final dan BPHTB turun jadi total 1,5% untuk DIRE (Dana Investasi Real Estate). Entah apa itu, tapi terdengar bagus untuk pebisnis properti dan yang baru beli properti.

Tadi pagi nonton Metro Bisnis, ada pengusaha tour and travel online Alfafa yang pake segala macem ilmu marketing revolution-nya Pak Tung Desem Waringin. Keren.

Byuh apalagi ya. Signs, kalau tidak dicatat begini, seringnya dilupakan dan tidak termanfaatkan.

Pilihan Bisnis

Sekian tahun mencoba belajar tentang dunia bisnis, akhirnya memang harus menentukan syarat bisnis yang mau dijalani. Karena tidak semua bisnis itu sama, dan tidak semua bisnis cocok untuk semua orang. Belajar dari Pak Adi W. Gunawan yang menentukan syarat untuk bisnis yang mau ditekuninya, aku juga mau menentukan seperti apa bisnis yang ingin kutekuni dan kukembangkan.

  1. Ngurusin produksi itu capek. Banyak detail pekerjaan yang harus diperhatikan. Akhirnya kapasitas produksi terbatas pada kemampuan fisikku. Tapi aku pernah dalam satu masa orderan banyak namun tidak merasa capek. Aku cuma menghandle beberapa bagian persiapan kerjaan, selanjutnya sampai finishing dikerjakan oleh karyawan. Aku kebagian kerja lagi di bagian quality control. Tentu saja aku harus memastikan barang produksiku sesuai standar kualitasku, demi menjaga tingkat kepuasan konsumen. Kuncinya ternyata memang harus punya karyawan, harus punya tim. Jadi syarat pertama bisnis yang ingin kutekuni adalah harus menggunakan sesedikit mungkin tenaga fisikku. Mayoritas harus dihandle oleh karyawan, sehingga aku punya banyak waktu untuk berpikir, merancang dan mempromosikan daganganku.
  2. Jualan barang fast moving itu lebih menyenangkan dalam hal kontinuitas pekerjaan. Aku sedang mencoba menjalankan bisnis properti tapi duitnya tidak datang tiap hari seperti bisnis harianku. Ya emang sekali laku untungnya gede, tapi aku masih belum dapet feelnya. Belum lagi kapitalisasi modalnya besar, jadi rasanya sumber daya sudah tersedot duluan sebelum mulai mendulang laba. Fine-fine saja sih sebenarnya. Barangkali memang harus punya bisnis harian di samping bisnis bulanan atau tahunan. Jadi syarat ke-dua bisnis yang ingin kutekuni adalah, harus mendatangkan laba harian atau setidaknya mingguan.
  3. Punya bisnis kecil itu kembang kempis. Kalo pas rame ya seneng, kalo pas sepi pusing. Apalagi tagihan jalan terus 😀 Saat ini rata-rata laba bersih bisnisku per bulan masih di kisaran low 8 digit. Itupun ada bulan-bulan rame dan ada bulan-bulan sepi. Aku ingin income yang stabil dan cukup besar untuk kebutuhan hidup keluarga. Jadi syarat ke-tiga bisnis yang ingin kutekuni adalah punya potensi laba bersih di kisaran Rp. 50-100 juta/bulan. Jadi sesepi-sepinya penjualan masih bisa ngantongi Rp. 50 juta sebulan kan masih lumayan.
  4. Salah satu alasan aku terjun ke dunia bisnis adalah agar aku bisa selalu dekat dengan keluargaku. Trauma masa laluku punya Bapak yang kerja jauh dari keluarga bikin aku ingin selalu dekat dengan keluargaku. Aku juga tidak ingin kerja kantoran yang berangkat tiap hari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Mana tahan 😀 Aku pengen punya waktu yang cukup untuk beraktivitas bersama keluargaku. Masak bareng istri, maen sama anak, jalan-jalan, dll. Karena itu syarat ke-empat bisnis yang ingin kutekuni adalah bisnis itu harus memberiku waktu luang yang cukup supaya aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluargaku. Barangkali butuh waktu untuk set up, tapi begitu bisnisnya sudah jalan aku bisa jalan-jalan sama keluargaku. Kalaupun harus fokus kerja harian, cukuplah kira-kira tiga jam per hari fokus ngurusi kerjaan. Sisanya bisa disambi momong 🙂

Sementara segitu dulu yang terbayang.

Nah dari ke-empat syarat itu barulah aku cari bisnis yang cocok. Saat ini yang sudah ada yaitu bisnis harianku produksi atribut seragam dan bisnis propertiku yang baru satu lokasi. Dua-duanya belum memenuhi empat syarat di atas 😀 Tapi tidak apa-apa. Namanya proses, dinikmati saja. Sebenarnya bisnis harianku yang sekarang kalau sudah dapat tim yang bagus bisa lah memenuhi ke-empat syarat tadi. Kalau punya tim kerja yang cakap, aku punya cukup waktu untuk memperbaiki sisi marketingnya. Dan dengan scale up dan scale out yang tepat, profit 9 digit per bulan adalah sebuah keniscayaan. Cuman ternyata tidak gampang cari karyawan yang tekun, kerjaannya rapi dan gaya hidupnya sederhana. Pernah punya karyawan yang kerjanya bagus, ngerasa gajinya cukup trus langsung kredit motor baru. Yasalam gajinya kepotong 600ribu per bulan buat cicilan motor. Blom lagi ongkos bensin, biaya pacaran, bla bla bla. Mana jadi telat tiap hari katanya nganter mamaknya ke pasar. Byuh. Akhirnya resign sendiri karena malu sering telat n bolos. Pernah juga punya karyawan tekun, tapi kecil hati. Ditegur karena kualitas pekerjaan yang masih di bawah standarku, eh besoknya resign. Yawdah. Pernah juga punya karyawan sederhana, eh tiba-tiba suatu hari korslet kayak orang sakit jiwa. Ternyata memang dia punya banyak masalah keluarga. Hadeh.

Eh tapi pengalaman punya berbagai macam tipe karyawan itu bagus lho. Aku jadi belajar memperlakukan karyawan dengan lebih baik, mengendalikan emosiku dengan lebih baik, bicara dengan lebih baik, dll. Yang kuamati sekarang, kalau karyawan masih muda mereka tidak cuma butuh pekerjaan tapi juga aktualisasi diri. Makanya keinginannya banyak. Kalau karyawan yang sudah berkeluarga, biasanya lebih bisa irit. Tapi kadang kasihan juga karena UMR itu menurutku hanya cukup untuk hidup seorang diri alias bujangan. Kalau sudah berkeluarga, pasangannya tidak bekerja, gajinya jadi kurang. Solusinya memang kalau ada keluarga yang hidup dengan gaji UMR, suami istri harus kerja semua. Apalagi kalau anaknya tidak cuma satu dan masih usia sekolah. Kalau yang bekerja hanya suaminya, dia harus kerja di level manajemen atau marketing yang potensi pendapatannya dua kali UMR. Solusi lainnya, dia harus jadi partner produksi yang potensi pendapatannya 2,5 sampai 3 kali UMR. Dengan jadi partner, berarti dia sudah jadi pengusaha sendiri meski orderan masih bergantung pada kita.

Pilihan bisnis yang lain, aku sedang menjajaki bisnis baru yang sepertinya memenuhi empat syarat bisnisku tadi. Tantangannya adalah aku harus belajar banyak tentang periklanan. Dan karena lingkup bisnisnya adalah internasional, mau tidak mau aku harus belajar tentang bahasa dan budaya orang luar negeri. Untungnya aku dapet mentor yang sudah berhasil di bisnis itu. Besok dah kalo aku sudah dapat Rp. 50 juta/bulan atau lebih dari bisnis itu, aku banyak share di sini. Doakan ya 🙂

33

Tahun-tahun yang berlalu tidak akan bisa kembali. Bahkan detik yang sudah terjadi tak lagi bisa dijalani.

Kadang ada hal besar dalam hidup yang harus diputuskan. Karena hidup tanpa tujuan bukanlah sebuah pilihan. Hidup harus diarahkan, karena biduk tak lagi dikayuh sendirian.

Ada cinta yang harus disemai, ada hati yang harus dibelai. Karenanya hidup tak bisa cuma berandai-andai.

Kerja keras barangkali memang tidak diajarkan, pun kadang tidak dicontohkan. Tapi kerja keras itu karakter, dan karakter memang harus secara sadar ditentukan. Dipilih, dipilah lalu diasah.

Keraguan kadang membayangi, ketakutan kadang menguasai. Tapi justru di situlah keberanian itu diuji.

Masa depan memang tanpa jaminan, seperti berlayar di gelap malam di tengah kabut yang menghadang. Ke mana arah tujuan bila mata tak lagi mampu memandang? Berhentilah barang sejenak, berdoa mengumpulkan keberanian, mematahkan ketakutan, sambil menunggu mentari terbit di ufuk pagi. Karena gelap tak selamanya gelap, karena mentari selalu setia menyapa hari.

Kadang awan kelam dan badai menghantam. Bertahanlah, karena tak ada badai yang tak berkesudahan.

Kadang lelah menerpa, lelah raga serta lelah jiwa. Berbaringlah menengadah, pejamkan mata lalu ingatlah, apa yang dulu membuatmu pertama kali melangkah. Apakah harta? Atau tahta? Atau wanita yang kini duduk bersamamu di biduk cinta? Ataukah petualangan, yang membuat semangatmu menjulang dan layarmu mengembang? Jatuh bangun lagi! Jatuh bangun lagi! Tenggelam bangkit lagi! Tenggelam bangkit lagi!

Barangkali kamu berpikir bahwa wanitamu itu alasanmu untuk bertahan. Tapi pernahkah kamu berpikir, bahwa barangkali wanitamu itu malaikat kiriman Tuhan untuk menjagamu supaya tetap bertahan?

Barangkali Tuhan dan agama bagimu adalah absurditas yang tak bisa diverifikasi kebenarannya. Tapi bukankah lebih menyenangkan bertualang mengarungi samudra nan menantang, bukan cuma untuk melatih diri menghadapi badai dan menghindari karang melainkan untuk bertemu sang kekasih pujaan di akhir perjalanan?

Ada awal dari semuanya, ada akhir untuk semuanya. Ketika kamu mengakhiri semuanya, apa yang akan kaukatakan pada dirimu sendiri? Sebagian orang tidak mengatakan apapun karena memang tidak punya kisah yang bisa diceritakan. Sebagian lagi memandang nanar masa lalunya dengan penuh penyesalan. Sebagian menyesal karena melakukan sesuatu kesalahan, sebagian lagi menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan seandainya mereka punya cukup keberanian.

Tapi kamu, kamu harus memandang masa lalumu dengan penuh syukur. Syukur karena melakukan sesuatu yang benar, syukur karena melakukan sesuatu dengan penuh keberanian, syukur karena mengakhiri petualanganmu dengan penuh kemenangan.

Selamat ulang tahun, diriku. You are a soul inside a human body. You are unlimited. You are awesome!