in Catatan Kehidupan, Pribadi

Barusan gak sengaja lihat nama Angelina Miracle di salah satu template kerjaanku, nama yang kusiapkan untuk anakku kalau kelak lahir perempuan. Nama yang kupilih yang bermakna malaikat keajaiban, karena ia tercipta dalam kondisi yang hampir tidak mungkin. Tiba-tiba terlintas dalam benak, bahwa itu adalah belief yang salah. Aku ingat kejadian ketika dulu punya belief bahwa kalau kita lihai menyetir mobil di jalan, selalu anggap sopir lain itu bodoh. Karena kalaupun kita sudah berhati-hati, seringkali orang lain yang tidak berhati-hati. Alhasil, belief itu membuat mobilku ditabrak orang sampai 7 kali dalam setahun. Nah, sekarang aku tidak mau anakku kelak terlahir sebagai sebuah keajaiban. Aku ingin anakku dikandung secara normal, lahir juga secara normal, tidak ada keajaiban di dalamnya.

Einstein pernah berkata,

“There are two ways to live: you can live as if nothing is a miracle; you can live as if everything is a miracle.”

— ALbert einstein —

Aku ingin anakku kelak tidak dikandung dan terlahir dalam kondisi yang hampir tidak mungkin, karena semuanya mungkin. Namanya mungkin masih akan tetap malaikat, namun sekarang aku mengubah beliefku bahwa tidak ada keajaiban, karena semuanya adalah keajaiban.

There’s no miracle because everything is a miracle.

— saya —

Leave a Reply