in Catatan Kehidupan, Pribadi

Kalau orang baik mati muda, masihkah engkau mau terus berbuat baik?

Tahun ini dua orang kenalan saya meninggal dalam usia yang belum lanjut. Dua-duanya meninggal karena kanker dalam usia kepala lima. Saya tahu kanker memang penyakit yang sulit diduga kehadirannya. Orang bilang semua orang punya sel kanker, tapi apakah sel itu berkembang atau tidak tergantung berbagai macam hal yang berbeda dalam diri masing-masing orang. Ada yang bilang hubungannya erat dengan emosi, ada juga yang bilang hubungannya dengan makanan. Saya mencatatnya sebagai sebuah catatan, karena datanya tidak cukup untuk mengambil kesimpulan. Orang-orang yang saya kenal itu orang-orang baik yang rasanya jauh dari segala macam emosi yang merusak. Makanan juga tidak macam-macam. Toh mereka tetap terkena kanker.

Tidak hanya kanker yang mengakhiri hidup orang-orang dalam usia yang belum tua. Bapak mertua saya meninggal juga dalam usia yang belum lanjut. Penyebabnya kemungkinan serangan jantung. Tapi beliau memang perokok, walaupun secara emosi beliau orang baik.

Banyak orang baik yang saya kenal meninggal dalam usia yang relatif muda, membuat saya pada suatu titik mempertanyakan mengapa orang-orang baik justru sering mati muda? Mengapa justru orang-orang yang menjengkelkan malah panjang umur nggak mati-mati? Setiap kali ada orang baik yang meninggal dalam usia muda pertanyaan itu selalu menggelayuti pikiran saya.

Bertanyalah maka engkau akan menemukan jawaban, meski jawaban itu seringkali menimbulkan pertanyaan baru.

Pergumulan sekian lama akhirnya saya menemukan benang merah mengapa orang-orang baik seringkali mati muda. Beberapa kesimpulan yang saya dapat yaitu:

1. Orang-orang baik seringkali memikirkan orang banyak namun lupa memikirkan dirinya sendiri. Akibatnya tubuhnya sendiri justru tidak terawat dengan baik. Seperti besi yang kuat bila didiamkan lama-lama pasti berkarat, tubuh juga bila tidak dirawat pasti melemah dari dalam. Akhirnya, kematian hanyalah akibat dari kerusakan sistem yang terjadi terus menerus dan saling mengkait pada tubuh fisik.

2. Orang-orang baik seringkali terlihat sangat kuat, tidak pernah mengeluh, tapi bukan karena mereka memang sangat tabah. Mereka hanya tidak suka mengeluh bahkan ketika tubuh mereka memberi isyarat ada yang tidak beres dengan sistem internalnya. Akibatnya ketika akhirnya bibir mengucap kata sakit, kondisinya sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Masih ada beberapa catatan lagi tapi saya lupa. Besok kapan kalau ingat saya tulis lagi.

Catatan-catatan itu membawa saya ke kesimpulan lain lagi yaitu bahwa kalau kita ingin jadi orang baik yang panjang umur, maka syaratnya:

1. Kita harus mendengar diri kita sendiri terlebih dahulu. Ketika tubuh berbisik minta istirahat, istirahatlah. Jangan tunggu sampai ia berteriak kesakitan.

2. Memperhatikan kesehatan. Merokok tidak apa-apa tapi cukup sebatang sehari. Kakek istri saya perokok tapi usianya sampai 70an. Tapi sehari paling satu dua batang saja, bukan satu dua bungkus. Olahraga khusus tidak perlu, asal kerjanya melibatkan aktivitas fisik berjalan atau angkat-angkat barang. Kalau kerjanya kebanyakan duduk, ya usahakan berangkat kerja naik sepeda atau jalan kaki, atau naik kendaraan umum biar ada olahraga ngejar bis kota. Atau kalau mau ekstrim, lari di belakang bis kota.

Tidak semua orang baik mati muda, dan tidak semua yang mati muda itu orang baik. Tapi berapapun usia kita, tua maupun muda, tetaplah berbuat baik. Kematian hanyalah soal waktu. Bukan melulu soal tubuh fisik. Saya ingat dulu kakek seorang teman sakit. Waktu saya tengok saya bisa rasakan energinya masih kuat. Saya bilang ke teman saya, umur simbah masih lama. Eh ternyata beberapa hari kemudia beliau meninggal. Barangkali beliau meninggal karena beliau memang memutuskan bahwa usianya sudah cukup. Well, we can only predict the future, but the future is about probability, not a certainty.

Lima puluh tahun lagi mungkin bahkan manusia tidak perlu takut cepat mati karena teknologi sudah memungkinkan manusia mengganti spare part tubuhnya yang rusak dengan cukup murah. Tapi toh hidup bukan soal seberapa lama kita hidup, tapi seberapa besar kemampuan kita menghidupkan Hidup di dalam hidup kita ini.

Kalau orang baik memang mati muda, masihkah engkau mau terus berbuat baik? Masih. Karena kebaikan adalah satu-satunya cara mensyukuri kehidupan.

Leave a Reply