in Catatan Kehidupan, Keluarga, Pribadi

Mama

Tiga hari lagi Natal. Tapi Natal tahun ini berbeda, tanpa Mama di sini. Sore tadi beliau dan Bapak berangkat ke Medan untuk urusan keluarga. Tadi istriku sempat memberi kejutan bunga mawar untuk Mama di hari Ibu, lalu kami berfoto-foto bersama.

hari ibu 2015

Istriku memang suka memberi kejutan untuk orang lain. Aku dulu suka memberinya kejutan, kadang bunga, kadang boneka. Tapi itu dulu waktu masih pacaran. Sekarang, ke mana-mana berdua, gimana mau ngasih kejutan? #alasan. Sekarang paling banter ngasih kejutan ngumpet di belakang pintu lalu mak bedunduk muncul tiba-tiba ketika ia lewat. Lalu biasanya dia kaget trus marah, ngomel-ngomel.

Barangkali bagi sebagian orang Natal tanpa berkumpul dengan keluarga sudah biasa. Tapi tidak bagiku. Natal itu toko libur, dan kami sekeluarga bersantai di rumah, lalu muter ke rumah keluarga-keluarga dekat untuk saling mengucapkan selamat Natal. Tahun lalu, kami menghabiskan hari Natal bersama Bapak dan Mama di kantor polisi. Bukan karena Mama minta pulsa, tapi karena mobil yang disetiri Bapak ditabrak oleh sepeda motor. Jadilah kami seharian menyelesaikan urusan di kantor polisi.

Kadang aku berpikir jauh ke depan. Terlalu jauh, mungkin. Ketika Mama sudah tidak lagi ada. Ah, tapi lalu segera kuhapus angan itu. Meskipun aku sadar bahwa tak kan selamanya beliau di sini, tapi bayangan itu terlalu mengaduk emosi. Biarlah semuanya terjadi pada saatnya dan baik adanya.

Natal tahun ini berbeda. Tanpa Mama dan Bapak. Namun bukankah seringkali kita menyadari perasaan cinta kita pada seseorang ketika ia tak lagi berada di dekat kita? Bertahun-tahun lalu aku bertanya-tanya, mengapa orang menangis ketika orangtuanya meninggal? Bukankah setiap orang pasti mati? Bukankah seharusnya kita sadar bahwa orang-orang yang kita kasihi itu suatu saat pasti meninggal dan berpisah dengan kita? Banyak orang menjawabnya, tapi tidak ada jawaban yang memuaskanku. Hanya ibuku yang akhirnya membuatku berhenti mempertanyakan hal itu.

“Ma, kenapa sih orang kalo orangtuanya meninggal kok menangis?” tanyaku padanya.

“Ya karena sedih. Sedih karena rindu. Rindu tak bisa bertemu lagi dengan orang yang dikasihi,” jawab beliau.

Aku termenung, lalu mengangguk setuju. Aku akhirnya paham, bahwa rindu bisa meneteskan air mata. Terlebih ketika rindu itu tak bisa terpenuhi lagi.

Tahun ini aku merayakan Natal hanya bersama istri, adik dan bulik. Tanpa Mama dan Bapak. Meski beliau hanya berpisah jarak, namun kuakui, aku rindu.

Anyway, semua ada hikmahnya. Barangkali ini waktuku untuk kembali belajar menjadi Sang Alpha. Leading my own pack.

 

Leave a Reply