Malas Berpikir Karena Terlalu Banyak Membaca

Sudah seminggu lebih ini aku mengurangi aktivitasku di Facebook. Entahlah, rasanya membaca begitu banyak tulisan dari berbagai macam tipe manusia dalam daftar teman Facebookku membuatku pusing. Padahal aku sudah menyembunyikan banyak sekali teman dari homepage Facebookku. Dari sekitar 1100 teman, sekarang yang kutampilkan (dan aktif menampilkan dirinya) di halaman utama Facebookku mungkin hanya sekitar 100-200an. Apalagi sejak aku berlibur seminggu di rumah Simbah, jauh dari kota, tanpa koneksi internet termasuk di handphone/BlackBerry, dan bacaanku satu-satunya adalah buku Awaken The Giant Within-nya Anthony Robbins, aku merasa dunia rasanya tenang sekali. Interaksi dengan orang-orang beneran di sekitar rumah dan dengan keluarga membuatku sadar bahwa selama ini aku telah tanpa sadar membiarkan dunia maya merampas dunia nyataku. Memang ada banyak manfaat yang kudapatkan di dunia maya, tapi ini sudah terlalu banyak. Mungkin inilah titik di mana aku menyadari bahwa too much information will kill you. Filter informasiku serasa tak berfungsi dan banjir informasi telah memenuhi otakku, membuatnya lumpuh.

Pagi ini, aku membuka Google Readerku, iseng membuka feed RSS dari salah satu blog langgananku. Tertulis di sana ada sekitar 140 artikel baru yang belum terbaca. Buset. Banyak amir. Lalu kubacalah satu per satu artikel itu. Baru selesai sekitar 30an artikel, aku sudah lelah. Aku bahkan sampai bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku harus membaca semuanya ini? Apakah benar-benar bermanfaat bagiku? Ataukah ini justru hanya kenikmatan sesaat yang bisa membuatku kehilangan kenikmatan jangka panjang?” Akupun menghentikan membaca feed RSS itu.

Sekolah Internet Indonesia

Saat akan menutup tab Google Reader, aku tertarik untuk membaca feed RSS dari salah satu blog favoritku yaitu blog milik Pak Roni Yuzirman. Kupikir, aku tak pernah akan rugi membaca tulisan-tulisan dari orang hebat seperti beliau. Berbeda dengan blog dengan ratusan artikel tadi yang memang hanya informasi-informasi unik dan menarik dengan sedikit sekali kandungan ilmu di dalamnya.

Benar juga. Aku terhenyak ketika membaca salah satu artikelnya yang berjudul Banyak Membaca = Malas Berpikir? Terjemahan kutipan kata-kata Albert Einstein dalam artikel itu membuatku terhenyak. Aku segera mencari kutipan aslinya dalam bahasa Inggris dan aku menemukannya. Begini bunyinya,

Reading, after a certain age, diverts the mind too much from its creative pursuits. Any man who reads too much and uses his own brain too little falls into lazy habits of thinking. (Albert Einstein)

Terjemahan bebasnya :

Membaca, setelah jangka waktu tertentu, terlalu banyak mengalihkan pikiran dari upaya kreatifnya. Siapapun yang membaca terlalu banyak dan menggunakan otaknya terlalu sedikit jatuh ke dalam kebiasaan malas berpikir. (Albert Einstein)

Nah ! Rupanya itu yang telah memerangkapku selama ini. Aliran update status Facebook dan banjir informasi lainnya dari internet telah membuatku jatuh dalam kebiasaan malas berpikir. Buktinya, seminggu di pedesaan, aku malah mulai aktif lagi menulis. Aku menginstall WordPress di localhost laptopku dan menulis beberapa artikel yang kutulis tanpa tujuan untuk dipublish. Write as if no one will read. Begitu tagline yang kupilih untuk tulisan-tulisan di laptopku itu. Salah satunya akhirnya kupublish, yaitu artikel berjudul Kemenangan yang kutulis tepat pada hari raya Idul Fitri lalu. Sekarang bahkan aku kembali lagi menulis di sini, langsung di dashboard blog ini. Einstein berkata bahwa terlalu banyak membaca mengalihkan pikiran dari kreativitasnya dan membuat orang malas berpikir. Mungkin kalau Einstein lahir di era ini, ia akan berkata, “Terlalu banyak membaca update status dan informasi yang tidak penting bisa membuat orang kehilangan kreativitasnya, malas berpikir dan malas menulis, apalagi update blog.” Hehehe

Seperti yang kupelajari dari Anthony Robbins dalam bukunya Awaken The Giant Within, sekarang aku mengambil keputusan untuk semakin mengurangi aktivitas di Facebook. Untuk itu aku juga akan mengurangi lagi jumlah teman yang muncul di homepage Facebook-ku. Bukan aku ingin memutuskan tali silaturahmi, aku hanya merasa bahwa Facebook dan social media lainnya harusnya hanya menjadi sarana tambahan untuk hubungan antar sahabat dan bukan yang utama. Media maya hanyalah sarana mendekatkan diri dengan orang lain yang tak terjangkau di dunia nyata. Relasi di dunia nyata terlalu berharga untuk digantikan dengan relasi di dunia maya. Aku juga memutuskan untuk berhenti membaca blog-blog dengan ratusan informasi yang kurang penting itu. Terlalu banyak kepedihan jangka panjang dibandingkan kenikmatan jangka pendeknya. Berani berkata tidak adalah pelajaran yang kuterima hari ini. Steve Jobs pernah berkata,

And it comes from saying no to 1,000 things to make sure we don’t get on the wrong track or try to do too much. We’re always thinking about new markets we could enter, but it’s only by saying no that you can concentrate on the things that are really important. (Steve Jobs)

Sekarang saatnya aku berkata tidak pada banyak hal dan berkonsentrasi pada hal-hal yang benar-benar penting. Semangat ! :)

Akibat Facebook
Terlalu banyak Facebookan bisa membuat Anda menjadi seperti ini. Hehehe

Related posts:

{ 5 comments… read them below or add one }

honeylizious 22 September 2011

semangaaat!!!!

Reply

Berlin Sianipar 22 September 2011

ganbate!

Reply

fandy 12 October 2011

nice info… aq juga sering bnget brfikir yg tidak2, dan melupakan hal terpenting yang harusnya menjadi prioritas qu…. artikel ini membuat qu sadar. thanksss

Reply

Berlin Sianipar 12 October 2011

u r welcome ! back to focus ! semangat !

Reply

AhSyai 15 February 2012

ngeri juga ya klo pek sama kayak ilustrasinya,,gendut pek kayak gitu.,, berapa ton tu..hehe
emang sharusnya kita lebih banyak action daripada hanya belajar.. membaca untuk mencari referensi aja.. :D

Reply

Leave a Comment

[+] kaskus emoticons

Previous post:

Next post: