in Hidup, Pemikiran, Publik

Untuk ke sekian kalinya denger cerita tentang orang desa yang santai mancing dan orang kota yang kaya yang juga mau mancing. Bla bla bla, karena cerita itu lalu suatu saat di suatu titik kehidupan, saya sampai pada kesimpulan, “Kalau semua orang pada akhirnya mati, kenapa kita harus hidup?”

Untungnya seorang ilmuwan menyadarkan saya, bahwa banyak orang seringkali menganggap bahwa makna hidup, tujuan hidup, alasan mengapa kita hidup, itu adalah sesuatu yang sudah ada dan tersembunyi sehingga harus kita cari dan temukan. Hanya sedikit orang yang berpikir bahwa barangkali hal itu bukan sesuatu yang sudah ada lalu kita cari dan temukan, melainkan sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri.

Lalu suatu kenangan membawa sepotong ayat Alkitab ke pikiran saya, bahwa manusia diciptakan serupa dengan Tuhan. Karena itulah manusia tidak hanya menjadi ciptaan melainkan juga menjadi pencipta. Tidak hanya mencipta hal-hal di luar diri tetapi juga hal-hal di dalam diri.

Lalu kenangan lain membawa sepotong kalimat dari seorang pembelajar kehidupan, bahwa kita harus belajar mengendalikan emosi kita. Kalau tidak, maka hidup kita akan dikendalikan oleh emosi kita. Dan bagi sebagian orang yang belajar tentang emosi, mengendalikan emosi orang lain itu sesuatu yang tidak sulit. Pengetahuan tentang itu bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang baik maupun tujuan yang jahat.

Eh, anda tahu persamaan Ahok dan Jonru? Keduanya sama-sama digerakkan oleh emosi. Ahok sekian tahun lalu emosi karena pabriknya dibuat tutup oleh para pejabat bermoral bengkok, sedangkan Jonru sekian tahun lalu emosi karena perasaan superioritasnya sebagai anggota partai dakwah hancur setelah calon gubernur partainya kalah dari cagub PDIP, partai yang dianggap memusuhi ideologi PKS. Berlanjut ke pilpres, kalah lagi oleh PDIP lagi.

Emosi bisa bikin akal anda sehat, tapi bisa juga bikin anda kehilangan akal sehat. Karena itu hati-hatilah dengan emosi anda.

Leave a Reply