in Pemikiran, Publik, Spiritualitas

Ego Sang Guru

Bagiku, seseorang yang gampang tersinggung bila dikritik atau ditegur tidaklah pantas untuk menjadi seorang guru. Terlebih lagi dalam bidang spiritual, di mana salah satu pembelajarannya adalah bagaimana memahami gerak ego atau sang aku dalam diri dan menjadikan Aku sebagai tuan atas aku. Ini topik panjang, tapi salah satu ciri orang yang sudah mengalami kebangkitan, dilahirkan kedua kalinya, pencerahan, manunggaling kawula gusti atau apapun itu namanya, adalah ia tidak lagi mudah – atau malah tidak lagi bisa – tersinggung. Ini karena tersinggung adalah kerja ego. Seseorang yang tersinggung kemudian marah berarti egonya masih berkuasa atas dirinya. Bila seseorang telah menjadi tuan atas egonya sendiri, maka perkataan apapun dari orang lain tidak akan membuatnya tersinggung. Ia sadar bahwa ia hanya bisa marah kalau ia mengijinkan dirinya marah. Pikiran adalah seperti sebuah rumah, sementara emosi adalah tamu yang datang dan pergi. Emosi hanya bisa menguasai diri kita kalau kita mengijinkannya masuk ke dalam rumah pikiran kita.

Diri kita terdiri dari tubuh, pikiran, emosi/perasaan dan ingatan. Ketika kita tersinggung, siapa yang sebenarnya sedang tersinggung? Apakah tubuh kita, perasaan kita, ingatan kita, ataukah perasaan kita? Benar, yang tersinggung adalah perasaan kita. Tapi apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Tidak. Kita bukanlah perasaan kita. Emosi datang dan pergi. Tapi pikiran kita tinggal tetap. Ia yang telah memahami siapa dirinya akan mudah melihat setiap gerak emosi dalam dirinya sehingga pikirannya tetap jernih dalam keadaan apapun.

Leave a Reply