Refreshing

Pengen refreshing in between tasks, apa aja ya pilihannya? Dulu suka main game, tapi ternyata terlalu banyak makan waktu. Alasannya cuman bentar, tahu-tahu udah tengah malam.

Being too productive can be exhausting sometimes. Nah katanya, yang bagus itu kerja maksimal sekian jam gitu (empat ato berapa gitu saya lupa) diselingi istirahat/refreshing selama sekitar 15 menit. Nah kira-kira apa aja ya pilihan refreshing 15 menit itu?

  1. Tidur. Pilihan yang cukup bagus, kalau pakai teknik tidur otak alias relaksasi pikiran. Kalau tidur fisik butuh waktu lebih lama. Nah relaksasi pikiran 15 menit sudah cukup untuk recharging aki fisik dan psikis.
  2. Membaca. Pilihan bagus, tapi kalo bacaannya berat ya sama aja 😀 Barangkali berguna kalau membaca sesuatu yang sama sekali berbeda dengan bidang yang sedang difokuskan. Misalnya tentang budaya, atau wisata, atau wanita. 😀
  3. Nonton video. Bisa film, TV, atau Youtube dan sebangsanya. Menarik sih, tapi sepertinya 15 menit bakal berasa kurang.
  4. Bercinta. Pilihan mantap! Sayangnya perlu bantuan istri, sementara istri tidak bisa diajak bercinta tiap 4 jam 😀 Jangankan tiap jam, tiap hari pun tidak bisa. Kata dokter harus dikasih jarak 2-3 hari biar spermanya matang dulu 😀
  5. Menulis. Pilihan menarik. Sayangnya kalau sudah asyik menulis, butuh waktu setidaknya 1-3 jam untuk menghasilkan tulisan yang memuaskan. Alternatifnya barangkali menulis hal-hal ringan di blog. Tantangannya, yang ringan kadang jadi berat kalau sudah berkaitan tentang perenungan kehidupan. Mau nulis cerita panas takut jadi pengen bercinta 😀
  6. Ngelamun. Alah palingan ngelamun jorok 😀

Sepertinya dari pilihan di atas, alternatif yang paling menarik dan berguna adalah alternatif pertama. Relaksasi pikiran. Jadi inget kata-kata Pak Adi W. Gunawan, kalau kamu sedang tidak sibuk, ambillah waktu setengah jam setiap hari untuk relaksasi pikiran. Kalau kamu sedang sangat sibuk, satu jam.

Plus sepertinya relaksasi pikiran bisa dimanfaatkan untuk terapi Ego Personality.

Okesip.

Bug

Theme Independent Publisher ini sepertinya punya bug kalo ada postingan Quote di list paling atas halaman baru, maka infinite scroll akan membuat tag li:before di CSS-nya ter-append sejak dari halaman paling atas. Sedikit mengganggu, tapi biarlah. Tidak penting dan tidak mendesak 😀

Distraction

Salah satu alasan mengapa kita selalu menunda hal yang penting adalah karena waktu kita penuh dengan hal yang tidak penting.

~ Tung Desem Waringin

Akhir-akhir ini banyak distraction yang cukup mengganggu. Facebook semakin riuh rendah dan seperti tidak berhenti membahas isu-isu yang silih berganti. Sejak Pemilu 2014, topik politik terus saja tidak berhenti bergaung di dunia maya. Munculnya para hater ababil yang kayak gak pernah kehabisan energi menjelek-jelekkan pemerintah, akhirnya memancing para orang-orang pinter untuk ikut bersuara melawan kebodohan. Bagus sih, untuk pembelajaran masyarakat. Fitnah ditebar, kebenaran diungkapkan, masyarakat belajar. Tapi ya karena tidak pernah berhenti, lama-lama pusing sendiri bacanya.

Tambah lagi tingkah polah para politisi yang gak berhenti bikin kontroversi. Gerombolan raksasa yang terus bikin onar, mulai foto bareng capres rasis Amerika, sampe dagelan Mahkamah Kehormatan Dewan dalam kasus Papa Minta Saham.

Lalu ada isu-isu minor seperti isu LGBT yang memancing banyak orang berpendapat, termasuk orang-orang yang tidak kompeten di bidang itu. Lalu heboh status bego Tere Liye, novelis roman yang sok bicara sejarah padahal jadi kelihatan gak tau sejarah.

Bla bla bla bla, gak rampung-rampung rasanya. Pemilu sudah tahun 2014, tahu-tahu sekarang sudah 2016. Rasanya dua tahun terbuang sia-sia ter-distract oleh Facebook.

Selain Facebook, distraction lainnya adalah game. Sejak kemunculannya, aku seperti terbius oleh game Path of Exile. Game bergenre ARPG ini awalnya hanya untuk pelarian kalau sedang stress karena kerjaan. Lama-lama kok ya mengganggu, sampai kerjaan keteter karena terlalu asyik main game. Padahal tentu saja ada hal yang lebih penting dari sekedar achievement di game. Real life achievement jelas jauh lebih penting.

Selain itu ada distraction lagi, tapi itu gak usah diomongin lah ya. NSFW 😀

Intinya, kita perlu tahu bahwa ada hal yang penting dan yang tidak penting. Nah lalu ada hal yang mendesak dan tidak mendesak. Mana yang harus didahulukan? Apakah yang penting dan mendesak? Salah. Kenapa? Klik di sini untuk tahu jawabannya.

f9d9bef1a6b57d379bad2346819bcc0a.jpg

Disiplin

Kayak kena tampar waktu nonton videonya Tung Desem Waringin di Youtube. Temanya “Menanam Tindakan, Membuang Penundaan, Menuai Keajaiban.” Salah satu yang dibahas adalah soal disiplin. Denger kata ini aja otakku langsung kena setrum. Yaoloh itu kata kayak udah lama banget gak aku dengar. Ternyata emang udah lama aku gak disiplin. Soal waktu, soal kerjaan, soal tindakan mencapai goal. Pantesan akhir-akhir ini kayak goyang, ternyata aku lupa satu hal paling penting dalam hidup yaitu DISIPLIN.

Salah satu yang harus didisplini adalah dalam hal prioritas tindakan. Ada empat area yang harus diperhatikan:

  1. Area yang tidak penting dan tidak mendesak. Area ini harusnya ditinggalkan. Contohnya: main game -__- Hadeh udah gak keitung berapa waktu yang benar-benar berharga tapi terbuang untuk ngegame, padahal itu tidak penting dan tidak mendesak. Menyenangkan iya, tapi tidak penting dan tidak mendesak.
  2. Area yang tidak penting tapi mendesak. Area ini harus dikerjakan segera karena sifatnya memang harus dikerjakan sekarang. Contohnya nerima telpon, ngising, dll.
  3. Area yang penting dan mendesak. Biasanya kita terpola untuk mengutamakan hal ini. Ternyata hal ini SALAH. Karena kalau kita selalu mengutamakan hal yang penting dan mendesak, kita jadi terbiasa mengerjakan sesuatu ketika waktunya sudah mepet. Akhirnya hidup kita kayak selalu dikejar-kejar deadline. Yang harus diutamakan adalah:
  4. Area yang penting dan tidak mendesak. Sebelum sesuatu itu mendesak, kita harus kerjakan terlebih dahulu. 80% waktu kita harus digunakan untuk sesuatu yang penting dan tidak mendesak, pada waktu masanya sudah tidak mendesak lagi karena sudah kita kerjakan dari awal.

Nah yang harus disiplin adalah melakukan hal-hal yang PENTING DAN TIDAK MENDESAK, supaya ketika deadlinenya hampir tiba hal itu sudah tidak mendesak lagi karena sudah kita kerjakan sebelumnya.

Thanks Pak Tung.

DISIPLIN

Shell&ServicesEngine

Jadi tiba-tiba dua hari belakangan, Gmail-ku ngadat. Link tidak bisa diklik, email tidak bisa dibuka. Pakai browser Chrome atau Firefox sama saja. Email hanya bisa dibuka jika Gmail diakses dalam mode HTML. Tadinya kupikir masalahnya terletak di Google. Tapi kok googling tidak ada yang komplain masalah yang sama dalam tempo belakangan ini.

Kecurigaanku muncul ketika loading Gmail, tanpa sengaja aku melihat ada alamat website aneh di bagian bawah browser: jserrors.info. Setelah buka di developer tools > console, ternyata ada request javascript ke alamat itu. Kalau buka website lain, ada juga request ke alamat ibox.link. Yakin dah komputerku kena virus atau malware.

Googling-googling, aku menemukan sedikit petunjuk tentang website jserrors.info. Ternyata alamat itu digunakan oleh sebuah malware bernama Shell&ServicesEngine. Aku ingat beberapa hari lalu aku mengijinkan instalasi dari popup yang muncul di desktopku. Entah darimana asalnya. Mungkin sebenarnya ada di browser tapi karena munculnya di kanan bawah, kukira itu dari desktop. Aku mengijinkannya karena namanya hampir sama dengan software ClassicShell yang memang aku gunakan. ClassicShell adalah software kecil untuk mengubah tampilan Start Menu di Windows 10 yang menurutku jelek sekali.

Kecerobohanku tidak memeriksa secara teliti nama program yang meminta ijin install itu ternyata berbuah kerepotan semalaman ini, mencoba membasmi instalasi Shell&ServicesEngine dari komputerku. Yang bikin repot adalah karena instalasinya ternyata selalu kembali lagi setiap kali komputer direstart, meski sudah diuninstall pakai Revo Uninstaller sekalipun. Dihapus manual pun selalu sama, apalagi ada file yang tidak bisa dihapus dengan cara manual karena sedang berjalan sebagai services.

Tapi bukan Berlin namaku kalau tidak bisa membereskan masalah. Cari-cari petunjuk, akhirnya ketemulah biang keladinya. Di folder baru yang dibuat si Shell&ServicesEngine ada beberapa file, salah satunya WinDivert.sys. Ketika mau dihapus, muncul keterangan nama website pembuatnya. Di sana kutemukan bahwa WinDivert memang dibuat untuk re-inject paket yang sudah dihapus setiap kali komputer direstart. Untungnya di situ diterangkan pula cara mematikannya.

Jadi target kita adalah menghapus WinDivert.dll, WinDivert32.sys dan WinDivert64.sys supaya si Shell&ServicesEngine nggak balik lagi. Setelah itu kita bisa hapus seluruh folder Shell&ServicesEngine dan seluruh registry yang berkaitan dengannya. Caranya:

  1. Buka Command Promt dengan klik tombol Start, ketik cmd di kolom search, lalu ketika muncul cmd.exe di sebelahnya, klik kanan lalu klik Run as Administrator.
  2. Di jendela yang terbuka, ketik
    sc stop WinDivert1.1
  3. Bila gagal (failed), coba ubah jadi huruf kecil semua
    sc stop windivert1.1
  4. Bila ada konfirmasi bahwa service sudah dihentikan, ketik
    sc delete WinDivert1.1
  5. Bila gagal (failed), biarkan saja. Nanti kita hapus secara manual.
  6. Buka Windows Task Manager dengan cara tekan Ctrl+Shift+Esc secara bersamaan.
  7. Di jendela Task Manager yang baru terbuka, klik tab Performance, kemudian klik Open Resource Monitor pada bagian bawah jendela.
  8. Di jendela Resource Monitor yang baru terbuka, klik tab CPU, kemudan cari program bernama Shell&ServicesEngine, Shell&ServicesEngine_updater (kalau gak salah namanya itu) dan netman.exe. Masing-masing diklik kanan kemudian End Process Tree.
  9. Setelah semua proses itu mati, hapus secara manual file WinDivert32.sys atau WinDivert64.sys kalau Anda pakai Windows versi 64 bit, kemudian hapus folder Shell&ServicesEngine di C:\Windows dan atau di C:\Program Files.
  10. Buka registry editor dengan cara klik Start Menu, ketik regedit di kotak search, tekan enter untuk menjalankan regedit.exe.
  11. Di jendela Registry Editor, tekan Ctrl+F untuk membuka jendela pencarian, ketik Shell&ServicesEngine kemudian Enter. Semua registry yang mengandung keyword itu harus dihapus. Tekan tombol F3 untuk melanjutkan pencarian setelah menghapus, teruskan menghapus sampai tidak ada lagi registry yang mengandung keyword Shell&ServicesEngine.
  12. Restart komputer.

So far, folder Shell&ServicesEngine tidak muncul lagi di C:\Windows dan atau di C:\Program Files setelah komputer direstart. Di Revo Uninstaller juga sudah tidak muncul lagi. Semoga sudah beres beneran.

Update: bad news. Malwarenya kembali lagi. Coba pakai WindowExeAllKiller sama arahin jserrors.info ke 127.0.0.1 di file hosts. So far so good. Tapi blom nemu caranya basmi itu inject ke jserrors.info. Dari jendela console Chrome, sepertinya itu jalur yang dipake buat download instalasi Shell&ServicesEngine.

Update2: coba buka console window halaman gmail di incognito mode di Chrome kok request ke jserrors.info tidak muncul. Di mode normal Firefox juga tidak muncul. Berarti biang keladinya kemungkinan salah satu ekstensi Chrome yang hanya berfungsi di mode normal. Karena tidak begitu banyak dan sebagian besar memang sudah lama tidak kupakai lagi, sekalian bersih-bersih lah. Menyisakan beberapa ekstensi wajib seperti LastPass, AdBlock Plus, IDM Intergration Module dan XMarks Bookmark Manager. Coba buka Gmail lagi, kok masih ada request ke jserrors.info. Lalu coba full refresh halaman dengan menekan Shift+Reload, ternyata sudah clean. Tidak ada lagi request ke jserrors.info. Semoga ini menandakan tidak ada lagi file Shell&ServicesEngine yang didownload dan diinstall secara diam-diam.

Update3: si Shell&ServicesEngine balik lagi. Sempat lihat folder ShellUninst (apa ShellInst ya? lupa) di folder Program Files tapi blom sampai didelete udah ilang duluan trus browser mati. Seperti dugaan, di folder C:\Windows sudah ada lagi folder Shell&ServicesEngine. Akhirnya dengan terpaksa jalanin WindowExeAllKiller lagi trus menyisir registry satu per satu dengan keyword pencarian shell&services. Ada banyak banget, semua di delete. Restart komputer, belum ada tanda-tanda Shell&ServicesEngine kembali lagi. Semoga tidak. Oh ya, WindowExeAllKiler diset supaya jalan setiap komputer dinyalakan. Biar aman.

Update4: si Shell&ServicesEngine sudah gak balik lagi. Langkah-langkah di atas sudah saya update. Silakan dicoba, tanyakan bila ada yang belum jelas. Semoga saya bisa membantu.

Pendeta

Udah sejak lama gak cocok lagi sama agama. Bukan agama secara hakikat, tapi agama secara ritual. Termasuk sama pendeta. Sering banget denger khotbah yang bikin tepok jidat dan geleng-geleng kepala. Pemahaman yang tidak bermutu dikhotbahkan sebagai sebuah kebenaran. Sayangnya khotbah hanya berjalan satu arah. Satu pendeta ngoceh, semua jemaat diam mendengarkan. Ini bentuk pembelajaran yang membodohkan. Ketika ada sesuatu yang salah dalam pemahaman pendeta, jemaat gak punya kesempatan untuk menyanggah. Apalagi secara ilmiah, jemaat berada dalam kondisi hypnosis. Apapun yang dikhotbahkan langsung masuk ke pikiran bawah sadar. Padahal apa yang dikhotbahkan pendeta tidak selalu benar. Lha mayoritas pendeta juga sudah dicuci otaknya selama bertahun-tahun belajar teologi, sehingga jarang pendeta yang punya pikiran terbuka terhadap ide-ide baru atau pemikiran-pemikiran yang progresif. Memang ada baiknya untuk mempertahankan kestabilan, tapi ada buruknya karena kekakuan tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Kekakuan berpikir justru dekat dengan kebodohan.

Kadang ada masalah juga dengan ekspektasi terhadap pendeta. Sebagai seseorang yang dianggap “dekat dengan Tuhan” karena sudah bertahun-tahun belajar TENTANG Tuhan, kadang ekspektasi terhadap pendeta terlalu tinggi. Padahal pendeta juga manusia. Pendeta cuma manusia. Manusia yang belajar TENTANG Tuhan. Tentang belajar “tentang” ini Pak Petrus Wijayanto pernah menulis di salah satu catatannya di Facebook. Silakan klik di sini.

Ekspektasi tinggi ini seringkali tidak terpenuhi ketika melihat pemahaman dan kehidupan pendeta yang kadang bikin bertanya, “Kok gitu ya?” Apalagi kalau kita dekat secara personal dengan pendeta itu. Ada banyak hal yang kalau itu ada pada diri orang “biasa” adalah hal yang lumrah. Namun karena hal-hal itu ada pada diri seorang pendeta yang bukan orang biasa (mana ada pendeta yang mau dianggap orang biasa), menjadi aneh dan sedikit menjijikkan. Ambil contoh misalnya ngomongin orang, atau merendahkan orang. Kalau orang biasa yang melakukannya, mungkin biasa, atau paling parah ya bikin males ngobrol sama orang kayak gitu. Tapi ketika itu dilakukan oleh seorang pendeta, yaoloh rasanya jadi jijik dengernya. Itulah sebabnya sekarang kalo sama pendeta mendingan cuma kenal secara profesional, gak perlu secara personal. Karena kadang kata orang Jawa,

adoh mambu wangi, cedhak mambu tai.

Terjembahannya: jauh bau wangi, dekat bau tai.

Karena berbagai pengalaman buruk dengan pendeta, sekarang aku lebih memilih tidur kalo pas khotbah. Mau gak berangkat gereja males dicereweti istri. Lagian perlu juga berinteraksi dengan orang banyak di gereja. Tambah relasi, tambah sodara, tambah rejeki. Cuman karena males dengerin khotbah, pilihannya ada dua: tidur ato utak-atik hape ato buku catatan. Pengennya sih pake in-ear headset, biar gak denger khotbah sama sekali. Tapi kayaknya kok terlalu mencolok. Akhirnya kalo denger khotbah yang koplak dengan pemahaman kaku macam Wahabi dan logika ala Jonru, paling banter cuma bisa tepok jidat lalu bilang dalam hati: LUWEEEEEH 😀

Catatan: Ilustrasi di gambar utama saya ambil tanpa ijin dari halaman facebook Pak Petrus Wijayanto di sini.

Oh ya, ada gambar lucu dan menarik lagi tentang pemahaman yang kaku dan harafiah yang dangkal namun banyak terjadi di kalangan kaum religius. Kalo kitabnya bilang Surga di bawah telapak kaki ibu, maka sebagian dari mereka ada yang percaya begini ini:

surga di bawah telapak kaki ibu

😀