Sedekah

Sedekah dibalas berkali-kali lipat. Rejeki diantar. Ya bagi sebagian orang penghayatannya barangkali memang begitu. Tapi berapa persen orang yang melakukan itu benar-benar berhasil? Berapa yang tidak? Yang kita lihat dan dengar biasanya cuma kisah-kisah luar biasa, mirip keajaiban, tapi berapa banyak orang yang menggerutu dalam diam karena sudah sedekah banyak tapi gak dapat balasan apa-apa? Coba bandingkan persentase keberhasilan metodenya itu pada 1000 orang, dengan persentase keberhasilan orang-orang yang punya tujuan, tau strategi, berguru pada yang sudah berhasil di bidangnya, mau kerja keras, tekun, sambil tetap stay humble dan enjoying life.

Sedekah itu bukan berharap balasan. Sedekah itu melatih ilmu ikhlas, ketidakmelekatan pada harta. Nah orang yang tidak melekat itu kalau di tabel Map of Consciousness penelitiannya David R. Hawkins berada level energi positif Neutrality (10^250). Itulah sebabnya mereka menarik lebih banyak energi positif dalam hidupnya.

Beda dengan orang yang bersedekah mengharap balasan, mereka berada pada level energi negatif Desire (10^125). Di dalam memberi mereka menyimpan ambisi pribadi mereka. Memberi 1 M padahal karena ingin dapat 10 M. Itulah sebabnya orang-orang itu bukannya menarik hal-hal positif namun justru hal-hal negatif. Tak heran orang-orang seperti itu gampang dibohongi karena jauh sekali dari level energi positif Reason (10^400) yang cirinya emosinya adalah memahami dan berpikir mendalam.

Kalau mau sedekah, memberi, lakukanlah karena memberi itu membahagiakan. Memberi itu kita mengatakan pada diri kita sendiri, “Saya sudah berkecukupan,” berapapun harta yang kita miliki. Memberi itu memberikan kedamaian. Nah kedamaian ini ada di level energi positif yang sangat tinggi yaitu Peace (10^600).

Hidup bukan untuk orang malas. Hidup adalah untuk orang yang bekerja.

Emotional-Energy-Levels

Waktu

Waktu itu tidak ada. Yang ada adalah pergerakan benda-benda. Pergerakan sel-sel tubuh, pergerakan benda-benda langit. “Waktu” menjadi berharga karena tubuh kita “menua”. Pergerakan sel-sel tubuh kita tidak abadi. Ada saatnya kerusakan sel tubuh kita lebih cepat daripada penciptaan sel-sel baru. Ketika sel-sel tubuh tak lagi mampu menopang organ-organ vital, itulah saatnya kematian tubuh kita.

Konsep waktu menjadi berharga karena pergerakan mikrokosmos dalam tubuh kita terbatas. Konsep waktu menjadi bernilai karena ada perbandingan antara keabadian keinginan manusia dengan ketidakabadian mikro. Maka manusia hidup seperti berkejaran dengan waktu. Padahal kita berkejaran dengan pergerakan sel-sel tubuh kita sendiri. Ada orang yang umur 40-50an sudah tidak bisa apa-apa, ada orang yang umur 80an masih sibuk berkarya. Bahkan menurut cerita, ada orang-orang yang hidupnya hingga ratusan tahun. Bagi mereka barangkali hidup tak lagi soal waktu. Hidup adalah soal karya. Perubahan apa yang bisa kita lakukan terhadap diri dan lingkungan kita ketika kita masih punya kekuatan untuk berbuat.

Jadi apa yang akan anda lakukan dalam satu putaran revolusi bumi mengelilingi matahari yang akan datang terhitung mulai saat ini?

Pendeta

Udah sejak lama gak cocok lagi sama agama. Bukan agama secara hakikat, tapi agama secara ritual. Termasuk sama pendeta. Sering banget denger khotbah yang bikin tepok jidat dan geleng-geleng kepala. Pemahaman yang tidak bermutu dikhotbahkan sebagai sebuah kebenaran. Sayangnya khotbah hanya berjalan satu arah. Satu pendeta ngoceh, semua jemaat diam mendengarkan. Ini bentuk pembelajaran yang membodohkan. Ketika ada sesuatu yang salah dalam pemahaman pendeta, jemaat gak punya kesempatan untuk menyanggah. Apalagi secara ilmiah, jemaat berada dalam kondisi hypnosis. Apapun yang dikhotbahkan langsung masuk ke pikiran bawah sadar. Padahal apa yang dikhotbahkan pendeta tidak selalu benar. Lha mayoritas pendeta juga sudah dicuci otaknya selama bertahun-tahun belajar teologi, sehingga jarang pendeta yang punya pikiran terbuka terhadap ide-ide baru atau pemikiran-pemikiran yang progresif. Memang ada baiknya untuk mempertahankan kestabilan, tapi ada buruknya karena kekakuan tidak ada hubungannya dengan kebenaran. Kekakuan berpikir justru dekat dengan kebodohan.

Kadang ada masalah juga dengan ekspektasi terhadap pendeta. Sebagai seseorang yang dianggap “dekat dengan Tuhan” karena sudah bertahun-tahun belajar TENTANG Tuhan, kadang ekspektasi terhadap pendeta terlalu tinggi. Padahal pendeta juga manusia. Pendeta cuma manusia. Manusia yang belajar TENTANG Tuhan. Tentang belajar “tentang” ini Pak Petrus Wijayanto pernah menulis di salah satu catatannya di Facebook. Silakan klik di sini.

Ekspektasi tinggi ini seringkali tidak terpenuhi ketika melihat pemahaman dan kehidupan pendeta yang kadang bikin bertanya, “Kok gitu ya?” Apalagi kalau kita dekat secara personal dengan pendeta itu. Ada banyak hal yang kalau itu ada pada diri orang “biasa” adalah hal yang lumrah. Namun karena hal-hal itu ada pada diri seorang pendeta yang bukan orang biasa (mana ada pendeta yang mau dianggap orang biasa), menjadi aneh dan sedikit menjijikkan. Ambil contoh misalnya ngomongin orang, atau merendahkan orang. Kalau orang biasa yang melakukannya, mungkin biasa, atau paling parah ya bikin males ngobrol sama orang kayak gitu. Tapi ketika itu dilakukan oleh seorang pendeta, yaoloh rasanya jadi jijik dengernya. Itulah sebabnya sekarang kalo sama pendeta mendingan cuma kenal secara profesional, gak perlu secara personal. Karena kadang kata orang Jawa,

adoh mambu wangi, cedhak mambu tai.

Terjembahannya: jauh bau wangi, dekat bau tai.

Karena berbagai pengalaman buruk dengan pendeta, sekarang aku lebih memilih tidur kalo pas khotbah. Mau gak berangkat gereja males dicereweti istri. Lagian perlu juga berinteraksi dengan orang banyak di gereja. Tambah relasi, tambah sodara, tambah rejeki. Cuman karena males dengerin khotbah, pilihannya ada dua: tidur ato utak-atik hape ato buku catatan. Pengennya sih pake in-ear headset, biar gak denger khotbah sama sekali. Tapi kayaknya kok terlalu mencolok. Akhirnya kalo denger khotbah yang koplak dengan pemahaman kaku macam Wahabi dan logika ala Jonru, paling banter cuma bisa tepok jidat lalu bilang dalam hati: LUWEEEEEH 😀

Catatan: Ilustrasi di gambar utama saya ambil tanpa ijin dari halaman facebook Pak Petrus Wijayanto di sini.

Oh ya, ada gambar lucu dan menarik lagi tentang pemahaman yang kaku dan harafiah yang dangkal namun banyak terjadi di kalangan kaum religius. Kalo kitabnya bilang Surga di bawah telapak kaki ibu, maka sebagian dari mereka ada yang percaya begini ini:

surga di bawah telapak kaki ibu

😀

Anak dan Pertanyaan Kehidupan

cara mendidik anak

Beberapa hari yang lalu beli lauk di sebuah gerai fast food, ada anak dimarahi dibentak-bentak sama bapaknya cuma karena si anak senang naik turun tangga yang ada di situ. Padahal mungkin dia senang karena rumahnya tidak bertingkat jadi tidak ada tangga. Si anak kemudian nurut. Ketika mau cuci tangan, dibentak lagi karena ternyata telapak tangan kanan si anak diplester. Sepertinya bekas luka yang agak panjang. Ia dibentak karena kata si bapak kalau cuci tangan nanti plesternya basah. Dengan tetap tersenyum polos si anak bilang, “Yang kiri aja.” Lalu ia mencuci tangan kirinya saja, yang kanan tidak.

Pulang dari situ aku berjalan termenung menuju mobil bersama istriku. Istriku nanya, “Kamu kenapa say? Kok jadi diem?”

“Sedih liat anak kecil dibentak-bentak gitu..” jawabku.

Kadang gemes banget kalo liat orangtua yang bentak-bentak memarahi anaknya di tempat umum cuma karena hal-hal yang sebenarnya bukan masalah. Kalaupun hal itu berbahaya bagi si anak, kan bisa diomongin baik-baik. Kalau tidak terlalu berbahaya, kan lebih baik kita yang mendekati, mengawasi dan menjaga mereka supaya mereka tetap aman. Namanya anak-anak, sifat keingintahuannya pasti besar. Sifat itu jangan diredam. Anak-anak yang selalu ingin tahu hingga dewasa mereka akan menjadi anak-anak pembelajar. Mereka akan menjadi pribadi yang kreatif, suka tantangan dan selalu berusaha supaya bisa. Sifat-sifat yang penting dimiliki oleh setiap orang dewasa. Kalau sifat itu dibunuh dari kecil, mau jadi apa anak-anak kita?

Gemes lagi liat orangtua yang menelantarkan anak-anaknya. Apalagi dalam kemiskinan, bikin anak gak kira-kira. Anaknya banyak, semuanya gak sekolah. Duh ya mbok yao kalo bikin anak itu orangtuanya sendiri belajar bertumbuh jadi orangtua yang baik, bertanggungjawab terhadap pertumbuhan anak-anaknya. Gak cuma pengen enaknya doang. Kalo mau punya anak banyak, belajar tuh kayak Halilintar. Anaknya 11, tapi semuanya pendidikan dan kebutuhan hidupnya cukup.

Kadang hal-hal seperti itu membuatku mempertanyakan apakah anak itu pemberian Tuhan atau cuma hasil yang hampir pasti ketika terjadi pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum. Banyak orang yang memiliki pergumulan mengenai keturunan, berdoa meminta kepada Tuhan supaya diberi momongan. Eh, banyak orang yang kayaknya gak minta malah punya anak cuma gara-gara kebelet nyelup. Hamil di luar nikah, trus malah pengen menggugurkan anak dalam kandungannya. Kontradiktif. Ada juga yang gak ngegugurin kandungannya, tapi begitu lahir ditelantarin gitu aja. Sigh..

Guys, menjadi orangtua itu menurutku sebuah anugerah. Kita bisa belajar banyak hal dari anak-anak kita yang sekarang seringkali seperti old soul in a child body. Anak-anak sekarang sepertinya jauh lebih dewasa dan bijaksana daripada kelihatannya. Kita bisa belajar banyak dari mereka.

Selain itu, kita pun jadi wajib untuk bertumbuh berkembang menjadi manusia yang lebih baik, bertanggungjawab, cerdas dan dewasa. Anak-anak itu meniru apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Kalau anak-anak kita kok jadi galak suka teriak-teriak, coba lihat diri kita dan pasangan kita, jangan-jangan kita juga sebenernya galak tanpa kita sadari. Kalau anak-anak kita cari perhatian kita terus dengan berbuat yang aneh-aneh, jangan-jangan kita sendiri memang kurang memperhatikan mereka dengan berbagai alasan dan pembenaran kita. Memiliki anak adalah sebuah anugerah sekaligus tuntutan kewajiban.

Masih ada banyak misteri kehidupan yang ingin kuketahui, termasuk mengapa aku melihat orang-orang yang dalam penilainku kurang layak untuk menjadi orangtua malah punya (diberi oleh Tuhan?) anak banyak, sementara orang-orang yang dalam penilaianku baiknya luar biasa justru belum punya (diberi oleh Tuhan?) anak meski sudah menikah lama. Misteri yang menarikku masuk dan belajar dalam berbagai dunia ilmu pengetahuan baik yang kasat mata maupun yang tak kasat mata.

Tidak ada pembelajaran satupun yang sia-sia, teman. Satu pengalaman kurang menyenangkan, kalau kita pandang sebagai masalah maka kita akan menjadi tertekan, stress dan putus asa. Namun kalau kita memandangnya sebagai sebuah misteri, pertanyaan yang dilontarkan oleh Kehidupan, kita akan mencari jawabannya. Barangsiapa mencari akan menemukan. Apalagi kalau kita berkumpul dengan orang-orang yang mencari jawaban dari pertanyaan yang sama, insyaallah jawaban akan semakin mudah ditemukan.

Selamat hari Jumat. Semangat kawan !

Belajar Melepas Kemelekatan pada Uang

uang

Esensi ke-tidak-melekat-an bukan dengan tidak memiliki apa-apa, tapi justru pada apapun yang kita miliki tidak memiliki kita. (Adi W Gunawan​)

Bukan uang yang menjadi akar kejahatan, tapi cinta akan uang. Kemelekatan pada harta, meletakkan cinta pada harta, itulah yang membutakan mata hati. Cinta seharusnya ditujukan pada manusia, dan pada Tuhan dalam diri setiap manusia yang kita kenal. Uang adalah salah satu sarana untuk menyatakan cinta itu. Selain cinta, hal-hal yang penting sebagai sarana perwujudan cinta adalah kata-kata yang membangun, sentuhan, pelukan hangat, tindakan melayani dan waktu kebersamaan. Hal-hal yang kita lupakan kalau hati kita melekat pada uang.

Kemelekatan pada uang bukan hanya karena kita memiliki banyak uang. Bahkan kemiskinan bisa membuat orang juga melekat pada uang. Bukan kemiskinan secara finansial, melainkan secara mental. Tidak peduli kita punya uang banyak atau sedikit, kalau hati kita miskin cinta kasih kita akan melekat pada uang. Dari situ kita akan melakukan hal apapun demi uang. Yang punya akses akan menjadi koruptor, yang tidak punya akses akan menjadi maling motor. Dua-duanya sama-sama karena cinta uang.

Bagaimana melepaskan diri dari kemelekatan pada uang? Kita harus belajar melepaskan.

  1. Hanya membeli barang-barang yang kita butuhkan, bukan kita inginkan. Belajar melepaskan keinginan.
  2. Menabung. Belajar memahami fungsi uang bukan untuk dihabiskan tapi untuk disimpan sewaktu-waktu dibutuhkan. Ada orang yang memaksa diri menabung dalam bentuk properti namun secara kredit/hutang yang dicicil tiap bulan. Ini bukan menabung tapi terpaksa menabung karena kalau pegang uang cash selalu habis entah ke mana. Orang semacam ini memiliki masalah mindset tentang uang. Biasanya timbul pada orang-orang yang percaya bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan. Ketakutan dalam pikiran mereka yang membuat mereka selalu melepas uang yang susah payah didapatkan.
  3. Membeli cash, bukan kredit untuk barang-barang sekunder. Belajar memahami bahwa barang-barang sekunder adalah hanya sekedar reward atas kerja keras kita, tidak boleh membebani cashflow harian/bulanan kita.
  4. Bersedekah. Memberi adalah bukti bahwa kita tidak melekat pada uang. Memberi adalah melepaskan keterikatan kita pada uang. Belajar memahami bahwa uang hanyalah alat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi orang lain juga.

Selamat pagi. Selamat menjemput rejeki.

Ego Sang Guru

Bagiku, seseorang yang gampang tersinggung bila dikritik atau ditegur tidaklah pantas untuk menjadi seorang guru. Terlebih lagi dalam bidang spiritual, di mana salah satu pembelajarannya adalah bagaimana memahami gerak ego atau sang aku dalam diri dan menjadikan Aku sebagai tuan atas aku. Ini topik panjang, tapi salah satu ciri orang yang sudah mengalami kebangkitan, dilahirkan kedua kalinya, pencerahan, manunggaling kawula gusti atau apapun itu namanya, adalah ia tidak lagi mudah – atau malah tidak lagi bisa – tersinggung. Ini karena tersinggung adalah kerja ego. Seseorang yang tersinggung kemudian marah berarti egonya masih berkuasa atas dirinya. Bila seseorang telah menjadi tuan atas egonya sendiri, maka perkataan apapun dari orang lain tidak akan membuatnya tersinggung. Ia sadar bahwa ia hanya bisa marah kalau ia mengijinkan dirinya marah. Pikiran adalah seperti sebuah rumah, sementara emosi adalah tamu yang datang dan pergi. Emosi hanya bisa menguasai diri kita kalau kita mengijinkannya masuk ke dalam rumah pikiran kita.

Diri kita terdiri dari tubuh, pikiran, emosi/perasaan dan ingatan. Ketika kita tersinggung, siapa yang sebenarnya sedang tersinggung? Apakah tubuh kita, perasaan kita, ingatan kita, ataukah perasaan kita? Benar, yang tersinggung adalah perasaan kita. Tapi apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Tidak. Kita bukanlah perasaan kita. Emosi datang dan pergi. Tapi pikiran kita tinggal tetap. Ia yang telah memahami siapa dirinya akan mudah melihat setiap gerak emosi dalam dirinya sehingga pikirannya tetap jernih dalam keadaan apapun.