Limited Time

Salah satu kriteria memilih bisnis adalah ketersediaan waktu kita untuk mengelolanya secara maksimal untuk menghasilkan profit secara optimal. Misalkan kita memilih bisnis jadi developer properti. Artinya kita harus tahu konsekuensi menjadi developer properti adalah konsisten untuk terus berburu lahan setiap hari, sambil menjalankan proyek yang sudah berjalan, dan tetap punya waktu untuk keluarga. Kalau kita tidak full time terjun di situ ya agak repot. Misalnya Continue reading

Kekuatan yang Menggerakkan Kehidupan

Untuk ke sekian kalinya denger cerita tentang orang desa yang santai mancing dan orang kota yang kaya yang juga mau mancing. Bla bla bla, karena cerita itu lalu suatu saat di suatu titik kehidupan, saya sampai pada kesimpulan, “Kalau semua orang pada akhirnya mati, kenapa kita harus hidup?”

Untungnya seorang ilmuwan menyadarkan saya, bahwa banyak orang seringkali menganggap bahwa makna hidup, tujuan hidup, alasan mengapa kita hidup, itu adalah sesuatu yang sudah ada dan tersembunyi sehingga harus kita cari dan temukan. Hanya sedikit orang yang berpikir bahwa barangkali hal itu bukan sesuatu yang sudah ada lalu kita cari dan temukan, melainkan sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri.

Lalu suatu kenangan membawa sepotong ayat Alkitab ke pikiran saya, bahwa manusia diciptakan serupa dengan Tuhan. Karena itulah manusia tidak hanya menjadi ciptaan melainkan juga menjadi pencipta. Tidak hanya mencipta hal-hal di luar diri tetapi juga hal-hal di dalam diri.

Lalu kenangan lain membawa sepotong kalimat dari seorang pembelajar kehidupan, bahwa kita harus belajar mengendalikan emosi kita. Kalau tidak, maka hidup kita akan dikendalikan oleh emosi kita. Dan bagi sebagian orang yang belajar tentang emosi, mengendalikan emosi orang lain itu sesuatu yang tidak sulit. Pengetahuan tentang itu bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang baik maupun tujuan yang jahat.

Eh, anda tahu persamaan Ahok dan Jonru? Keduanya sama-sama digerakkan oleh emosi. Ahok sekian tahun lalu emosi karena pabriknya dibuat tutup oleh para pejabat bermoral bengkok, sedangkan Jonru sekian tahun lalu emosi karena perasaan superioritasnya sebagai anggota partai dakwah hancur setelah calon gubernur partainya kalah dari cagub PDIP, partai yang dianggap memusuhi ideologi PKS. Berlanjut ke pilpres, kalah lagi oleh PDIP lagi.

Emosi bisa bikin akal anda sehat, tapi bisa juga bikin anda kehilangan akal sehat. Karena itu hati-hatilah dengan emosi anda.

What’s Your Why?

Belum pernah ada petinju yang dipukul jatuh oleh Mike Tyson lalu bangun lagi. Tapi Buster Douglas melakukannya. Ia bangkit, bahkan ia akhirnya memukul KO Mike Tyson. Kok bisa? Karena ia punya alasan yang sangat kuat untuk menang. Sekarang giliranmu. Temukan alasanmu untuk menjadi pemenang dalam hidup.

“He who has a why to live for can bear almost any how.”

 ~ Friedrich Nietzsche ~

Distraction

Salah satu alasan mengapa kita selalu menunda hal yang penting adalah karena waktu kita penuh dengan hal yang tidak penting.

~ Tung Desem Waringin

Akhir-akhir ini banyak distraction yang cukup mengganggu. Facebook semakin riuh rendah dan seperti tidak berhenti membahas isu-isu yang silih berganti. Sejak Pemilu 2014, topik politik terus saja tidak berhenti bergaung di dunia maya. Munculnya para hater ababil yang kayak gak pernah kehabisan energi menjelek-jelekkan pemerintah, akhirnya memancing para orang-orang pinter untuk ikut bersuara melawan kebodohan. Bagus sih, untuk pembelajaran masyarakat. Fitnah ditebar, kebenaran diungkapkan, masyarakat belajar. Tapi ya karena tidak pernah berhenti, lama-lama pusing sendiri bacanya.

Tambah lagi tingkah polah para politisi yang gak berhenti bikin kontroversi. Gerombolan raksasa yang terus bikin onar, mulai foto bareng capres rasis Amerika, sampe dagelan Mahkamah Kehormatan Dewan dalam kasus Papa Minta Saham.

Lalu ada isu-isu minor seperti isu LGBT yang memancing banyak orang berpendapat, termasuk orang-orang yang tidak kompeten di bidang itu. Lalu heboh status bego Tere Liye, novelis roman yang sok bicara sejarah padahal jadi kelihatan gak tau sejarah.

Bla bla bla bla, gak rampung-rampung rasanya. Pemilu sudah tahun 2014, tahu-tahu sekarang sudah 2016. Rasanya dua tahun terbuang sia-sia ter-distract oleh Facebook.

Selain Facebook, distraction lainnya adalah game. Sejak kemunculannya, aku seperti terbius oleh game Path of Exile. Game bergenre ARPG ini awalnya hanya untuk pelarian kalau sedang stress karena kerjaan. Lama-lama kok ya mengganggu, sampai kerjaan keteter karena terlalu asyik main game. Padahal tentu saja ada hal yang lebih penting dari sekedar achievement di game. Real life achievement jelas jauh lebih penting.

Selain itu ada distraction lagi, tapi itu gak usah diomongin lah ya. NSFW 😀

Intinya, kita perlu tahu bahwa ada hal yang penting dan yang tidak penting. Nah lalu ada hal yang mendesak dan tidak mendesak. Mana yang harus didahulukan? Apakah yang penting dan mendesak? Salah. Kenapa? Klik di sini untuk tahu jawabannya.

f9d9bef1a6b57d379bad2346819bcc0a.jpg

Disiplin

Kayak kena tampar waktu nonton videonya Tung Desem Waringin di Youtube. Temanya “Menanam Tindakan, Membuang Penundaan, Menuai Keajaiban.” Salah satu yang dibahas adalah soal disiplin. Denger kata ini aja otakku langsung kena setrum. Yaoloh itu kata kayak udah lama banget gak aku dengar. Ternyata emang udah lama aku gak disiplin. Soal waktu, soal kerjaan, soal tindakan mencapai goal. Pantesan akhir-akhir ini kayak goyang, ternyata aku lupa satu hal paling penting dalam hidup yaitu DISIPLIN.

Salah satu yang harus didisplini adalah dalam hal prioritas tindakan. Ada empat area yang harus diperhatikan:

  1. Area yang tidak penting dan tidak mendesak. Area ini harusnya ditinggalkan. Contohnya: main game -__- Hadeh udah gak keitung berapa waktu yang benar-benar berharga tapi terbuang untuk ngegame, padahal itu tidak penting dan tidak mendesak. Menyenangkan iya, tapi tidak penting dan tidak mendesak.
  2. Area yang tidak penting tapi mendesak. Area ini harus dikerjakan segera karena sifatnya memang harus dikerjakan sekarang. Contohnya nerima telpon, ngising, dll.
  3. Area yang penting dan mendesak. Biasanya kita terpola untuk mengutamakan hal ini. Ternyata hal ini SALAH. Karena kalau kita selalu mengutamakan hal yang penting dan mendesak, kita jadi terbiasa mengerjakan sesuatu ketika waktunya sudah mepet. Akhirnya hidup kita kayak selalu dikejar-kejar deadline. Yang harus diutamakan adalah:
  4. Area yang penting dan tidak mendesak. Sebelum sesuatu itu mendesak, kita harus kerjakan terlebih dahulu. 80% waktu kita harus digunakan untuk sesuatu yang penting dan tidak mendesak, pada waktu masanya sudah tidak mendesak lagi karena sudah kita kerjakan dari awal.

Nah yang harus disiplin adalah melakukan hal-hal yang PENTING DAN TIDAK MENDESAK, supaya ketika deadlinenya hampir tiba hal itu sudah tidak mendesak lagi karena sudah kita kerjakan sebelumnya.

Thanks Pak Tung.

DISIPLIN

Media

Social media, media yang isinya berasal dari lingkaran-lingkaran sosial kita. Tanpa filter, jadi sering terasa riuh rendah. Seperti berada di tengah konser musik metal, lalu kita memecahkan piring untuk menambah bunyi-bunyian, atau sekedar mencari perhatian. Sebagian orang memperlakukan social media seperti pemilik koran lampu merah. Segala macam konten sampah dimasukkan untuk menambah oplah, demi merasa eksis meski menuai caci maki dan sumpah serapah.

Kita membenci televisi karena mutu siarannya rendah. Lalu kita isi media sosial dengan tulisan-tulisan yang bermutu rendah. Seperti mengumpati banjir lalu berak di meja makan.