18 Juli 2016

Hectic day. Kerjaan bertumpuk. Nolongin orang kecelakaan cukup parah di depan rumah. Bawa ke RSUD Purworejo, eh IGD-nya gak punya bed buat bawa dari mobil ke ruang IGD. Rumah sakit busuk. Akhirnya bawa ke PKU Muhammadiyah Purworejo. Langsung ditangani, keluarganya datang trus aku pulang. Sampai di rumah adik ipar datang sambil nangis karena didiemin orang rumah. Karena sudah hapal dengan polah tingkah sikap orang rumahnya, aku cuma bisa ajarin buat memaklumi. Daripada ada yang jantungnya kumat trus koit.

Kalau pikiran sedang penuh, ditambah emosi marah/jengkel, produksi asam lambung jadi meningkat. Untung ada Promag.

The positive side: masbro yang bantu kerjaan orderan siang datang. Kemaren emang ijin pagi mau nganter anaknya ke Posyandu. Kerja setengah hari, selesai isi stok produk yang lagi banyak banget yang cari. Lumayan buat stok beberapa hari, kalau tidak diborong orang koperasi. Kemarin bikin stok 100 pcs lebih udah langsung abis diborong. Alhamdulillah ya. Puji Tuhan juga jadi bisa menggaji lebih dari standar. Masbronya sampe nanya, kok gajinya bonus terus. Ya kalau bosnya pemasukannya meningkat karena kinerja karyawannya, ya karyawan juga harus ikut ngrasain hasilnya.

Pada akhirnya, ini hari yang layak untuk disyukuri.

Aku bersyukur kerjaan banyak banget hari ini. Artinya rejeki juga banyak.

Aku bersyukur udah bisa nyetir dan ada mobil yang bisa buat nolong orang.

Aku bersyukur udah belajar mengendalikan emosi jadi tidak termakan oleh emosi sendiri.

Aku bersyukur dulu bersama istri sudah pernah merasakan kejamnya “ibu tiri” jadi sekarang bisa bersyukur hidup menjadi berkat buat orang lain, bukan jadi penyebab orang nangis kayak “sang ibu tiri.”

Trauma

cara mendidik anak

Satu hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini adalah kenapa dalam salah satu bisnis aku sulit sekali bergerak maju. Jangankan untuk mencapai hasil akhir. Untuk melangkah saja rasanya ada saja yang bikin kaki ini dingin – ini diksi yang tidak baik, karena menggunakan kata-kata yang kalau diulang terus menerus akan diwujudnyatakan oleh pikiran bawah sadar – ragu. Lalu aku melihat tulisan-tulisan goal yang kupajang di dinding ruang kerjaku. Salah satunya, aku ingin punya sebuah bisnis tertentu, dengan alasan pengen punya penghasilan yang banyak tapi tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Lalu aku ingat bahwa ternyata di bisnis itu memaksa aku untuk sering keluar rumah. Nah, barangkali itu sebabnya pikiran bawah sadarku membuatku ragu melangkah, supaya aku bisa memenuhi goalku untuk tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Memang ada beberapa faktor, tapi barangkali faktor ini yang paling kuat karena berhubungan erat dengan trauma masa laluku yang bermuatan emosi sangat tinggi.

Aku mengamati dalam kehidupan, orang seringkali melakukan sesuatu yang sangat berkebalikan dari yang dialami di masa kecilnya. Ia mungkin melakukannya terhadap dirinya sendiri, atau terhadap keluarga termasuk anak-anaknya. Hal ini terjadi apabila ia merasa trauma dengan apa yang terjadi di masa kecilnya. Misalnya saja sering kita dengar orang-orang yang menjadi sangat kaya padahal mereka terlahir dari keluarga yang teramat miskin. Kemungkinan kemiskinan itu telah membuat mereka sangat menderita sehingga dalam pikiran bawah sadar mereka terprogam bahwa kemiskinan itu menimbulkan rasa sakit sehingga harus dijauhi. Melalui kekayaan, orang merasa menemukan kebahagiaan.

Ada pula orang yang di masa kecilnya sangat miskin hingga untuk makan pun sangat sulit. Kemiskinan itu melahirkan tekad bahwa ia harus menjadi orang kaya. Namun ketika sudah menjadi kaya, ia memiliki anak yang obesitas dari kecil. Rupanya trauma masa kecilnya membuat orang itu membiarkan anaknya makan apapun yang diinginkan tanpa peduli porsinya. Akhirnya anaknya justru yang menjadi korban trauma masa kecil ayahnya.

Aku dulu waktu kecil jauh dari bapak. Bapak bekerja di Jakarta, sementara aku, ibuku, dan adikku tinggal di Purworejo, kota kecil 500 km dari Jakarta. Bapak pulang sebulan sekali. Aku merasa sangat senang ketika Bapak pulang, dan sedih ketika Bapak harus kembali berangkat merantau. Bisa dibilang di masa kecilku aku jarang merasakan kedekatan dengan sosok ayah. Rupanya trauma itu yang membuatku memutuskan untuk sekarang bekerja di rumah. Aku ingin keluarga dan anak-anakku merasakan kebahagiaan selalu dekat dengan sosok ayah. Apalagi ketika aku belajar banyak hal tentang keluarga dan peran penting sosok ayah terhadap pertumbuhan mental anak-anak.

Sayangnya trauma masa kecilku itu kini berbalik jadi bumerang. Ketika aku hendak memulai bisnis yang memaksaku sering meninggalkan rumah, pikiran bawah sadarku menolak. Seperti yang aku pelajari, ketika ada konflik antara pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar, yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar 9 kali lebih kuat daripada pikiran sadar.

Solusinya gimana?

Salah satu solusi adalah dengan membangun bisnis yang dijalankan di rumah. Banyak bisnis yang berawal dari rumah kemudian menjadi besar karena dijalankan bersama pasangan. Untuk itu perlu komunikasi intens dengan pasangan mengenai rencana-rencana bisnis ke depan, apa yang bisa dilakukan bersama.

Solusi lainnya, aku harus mengedukasi pikiran bawah sadarku bahwa tidak selamanya meninggalkan rumah itu buruk untuk keluarga dan anak-anak, asalkan tahu tips dan triknya. Aku ingat cerita Pak Adi W. Gunawan tentang seorang ayah yang bekerja di kantor, yang karena jabatannya ia harus sering lembur dan hampir selalu pulang ketika anak-anaknya sudah tidur. Herannya, relasinya dengan anak-anaknya sangat baik. Anak-anaknya selalu nurut dan dekat dengannya. Teman-temannya heran karena anak-anak mereka tidak dekat dengan mereka. Ya gimana, wong mereka berangkat anak-anak belum bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tidur. Ternyata rahasianya, setiap kali si ayah ini pulang kantor dan anak-anaknya sudah tidur, ia selalu memeluk anak-anaknya sambil berkata, “Ayah sayaaaang sekali sama kamu.” Anak-anaknya dalam kondisi ngantuk menjawab, “Aku juga sayaaaan sekali sama ayah.” Ternyata dalam kondisi mengantuk, anak-anak berada dalam kondisi hypnosis yang sangat dalam sehingga sangat sugestif. Apapun yang dikatakan oleh orang yang dianggap memiliki kharisma tinggi akan langsung masuk ke pikiran bawah sadarnya, terekam sebagai program yang sangat kuat. Inilah sebabnya anak-anaknya merasakan kedekatan dengan ayahnya meski secara kuantitas sebenarnya tidak sebanyak keluarga yang ayahnya bekerja dari rumah.

Ada beberapa teknik self therapy yang bisa dilakukan untuk meng-edit program di dalam pikiran bawah sadar ini. Aku bersyukur aku belajar banyak dari Pak Adi.

Keterangan gambar: Foto bersama Sherine, keponakanku. Kami jarang ketemu, paling setahun 2 kali. Tapi setiap ketemu selalu kuusahakan memasukkan kenangan-kenangan yang sangat menyenangkan dalam ingatannya. Sekarang umurnya 4 tahun dan sangat dekat dengan aku dan istriku.

2015

Mengakhiri tahun 2015 ini pengen banget nulis. Jam menunjukkan waktu pukul 2.59 dini hari. Udara panas banget. Gak kuat tidur di kamar. Akhirnya bangun dan pengen nulis.

Dulu, mengawali tahun 2015, aku gak berani bikin target macem-macem. Entah kenapa, bahkan sampai kuartal pertama berakhir aku gak punya goal tahunan. Akhirnya memang perjalanan hidupku di tahun 2015 ini agak goyah, karena target pun tidak jelas.

Paling tidak aku bisa bersyukur target yang memang sedikit beberapa sudah tercapai, di antaranya:

  1. Jadi developer properti. Meski penjualan tersendat karena berbagai hal, aku belajar banyak untuk memperbaiki performaku di tahun 2016. Belajar fokus, belajar delegasi, belajar rekrutmen karyawan, belajar bikin team yang solid, belajar birokrasi, belajar banyak hal.
  2. Punya tanah 300 m2 di tengah kota Purworejo. Ini goal agak ajaib tercapainya. Aku cuma nulis di catatan di hapeku, goal punya rumah dengan luas tanah 300m2 di dalam kota Purworejo. Pengalamanku, beli rumah dengan luas tanah sekitar 120an m2 itu ternyata terlalu sempit. Eh beberapa hari kemudian ada teman gereja yang bilang mau jual tanahnya. Luasnya? 300m2. Setelah putar otak dan bantuan beberapa pihak, akhirnya sertifikat tanah itu bisa pindah ke tanganku. Awal tahun 2016 semoga bisa segera bangun rumah di situ.
  3. Lebih bisa mengendalikan emosi dalam menghadapi masalah. Tahun 2015 ini ada beberapa masalah besar dan kecil yang kuhadapi, semuanya terselesaikan dengan baik. Semuanya karena fokus pada solusi, bukan pada masalah. Yang belum bisa kukendalikan justru emosi excitement. Aku belajar bahwa dalam kondisi bahagia, kita justru beresiko mengambil keputusan secara terburu-buru. Keputusan bisnis harus diambil dalam kondisi emosi netral, penuh perhitungan matang, untung rugi dan strategi eksekusinya. Cintai bisnisnya, bukan lokasinya, kata Pak Ari Wibowo. Semua keputusan bisnis harus berorientasi pada kelayakannya terhadap bisnisnya.

Aku pengen mengakhiri 2015 dengan meditasi, mengawali 2016 dengan meditasi pula. Kata Pak Adi W. Gunawan, kalau sedang tidak sibuk biasakan ambil waktu hening, meditasi, relaksasi, minimal 30 menit setiap hari. Kalau sedang sibuk sekali, 1 jam sehari. 😀

Tahun 2016 aku juga pengen memanfaatkan waktu dengan lebih efisien. Aku sudah lebih sadar bahwa waktu berjalan terus dan tidak akan kembali (sebelum ditemukan mesin waktu). Makanya waktu yang ada harus dimanfaatkan secara efektif dan efisien untuk manfaat yang sebesar-besarnya. Biar suatu saat di umur matang, aku sudah bisa memetik buahnya. Ada banyak contoh orang hidup sampai umur 40-50an belum mapan, masih pontang-panting cari utangan buat hidup layak, blom lagi buat sekolah anak, nikahin anak, dll. Aku pengen aku punya uang cukup ketika suatu saat aku membutuhkannya. Aku pengen punya waktu cukup ketika suatu saat aku membutuhkannya. The more, the better. It means I can give the surplus I have to help other people. Itu semua harus dipersiapkan dari sekarang.

Tahun 2015 cepat sekali berlalu. Tahun 2016 pun akan begitu juga. Sayang kalau satu tahun lewat begitu saja tanpa pencapaian apapun karena kita tidak berani pasang target, goal dan tujuan.

Sebuah Cerita dari Jakarta

Jadi saya mau cerita sedikit pengalaman hari ini.

Siang tadi dalam perjalanan pulang dari belanja di Senen kembali ke Lippo Karawaci, saya ketilang polisi. Sebenernya karena rambu yang tidak jelas. Petunjuk arah tertera dua jalur untuk masuk tol, tapi ternyata jalur masuk tol jadi satu. Dan seorang polisi sudah mangkal di dekat situ untuk menangkap mangsanya, para pengendara mobil yang salah ambil jalur. Melayanglah Rp.250.000 ke kantong pak polisi. Ya semoga jadi berkat lah buat beliau. Eh sapa tau dia lagi butuh biaya sekolah atau kuliah anaknya. Kasihan, udah tua, udah lama jadi polisi pangkatnya segitu-gitu aja 😀

Nah yang membuatku tertawa sekaligus termenung karena ingat hal yang sebenarnya sudah aku pelajari tapi kali ini aku lupa adalah, ternyata sehari sebelumnya aku mengupload foto ini ke instagram dengan caption:

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi damai menutupi pelanggaran.

Kalau melanggar aturan lalu lintas, kasih 50.000 pasti beres.

image

Ternyata oh ternyata, sehari setelah aku memikirkan hal itu, terwujudlah menjadi kenyataan. Malah aku harus kasih 5x lipat untuk menutupi pelanggaranku. Hahaha

Jadi ternyata, kita harus lebih sadar dalam berpikir karena benih pikiran itu akan tumbuh dan berbuah menjadi kenyataan. Terlebih kalau energi diri kita besar, energi gravitasi kita juga akan besar sehingga kita akan menarik segala hal yang kita pikirkan dan disetujui oleh pikiran bawah sadar kita dengan sangat cepat.

Malam ini sebelum tidur aku berbincang tentang hal ini dengan istriku. Akupun lalu bertanya padanya, “Pikiran kita kemarin terwujud hari ini dalam jumlah lima kali lebih banyak. Kalau begitu, apa yang akan kita pikirkan malam ini?”

Istriku menjawab, “Pengen dapet rejeki satu milyar !”

“Hahaha.. iya ya. Biar besok dapetnya lima kali lipat ya. Jadi lima milyar. Hehehe..” sahutku.

Semoga dan sepertinya pikiran bawah sadarku setuju. Terlebih hari ini aku dapet pelajaran penting. Yang pertama waktu belanja di sebuah toko besaaaar yang ternyata berawal dari sebuah toko kecil berukuran 3×3 meter di Glodok pada tahun 1955. Sekarang jadi perusahaan besar yang memegang franchise jaringan toko Ace Hardware, Informa dan Toys Kingdom di seluruh Indonesia, dan juga sudah membangun Living World Alam Sutera, mall khusus Home Living dan Eat-tertainment seluas 140.000m2. Perusahaan ini juga memiliki beberapa merk produk terkenal, salah satunya Krisbow. Di situ aku belajar tentang pentingnya hardwork, networking, professional management dan ketekunan dalam mengembangkan usaha.

Pelajaran yang kedua kudapat setelah aku mengikhlaskan uang tilang buat pak polisi tadi. Malam ini waktu aku lihat-lihat boneka sambil nunggu sate dan bakmi di dekat rumah kakak iparku, ternyata ibu pemilik toko itu orang Kutoarjo. Kebetulan ketemu juga dengan suami beliau di situ. Kami ngobrol dan sharing panjang lebar tentang dunia bisnis. Beliau pensiunan PT Astra. Sebelum pensiun beliau dilatih oleh perusahaan untuk menjadi entrepeneur. Eh ternyata yang melatih adalah tim dari dari Entrepeneur University. Jadi ternyata kami sama-sama alumni EU 😀 Nambah kenalan, dapet banyak pelajaran dari senior, walah ternyata memang ikhlas itu membawa berkah. Yang bisa diubah ya diubah, yang tidak bisa ya diikhlaskan. Yakin lah ikhlas itu pasti selalu always membawa berkah 🙂

2014

It’s almost the end of the year again. And just like Jim Rohn says, it’s a good time to review our year to date. And this is mine:

1. Finansial

Made a lot of progress. Di kuartal pertama tahun 2014 ini aku menetapkan satu goal yang cukup tinggi, penghasilan sekitar 6-7 kali penghasilanku saat itu. Puji Tuhan, bulan ini sudah tercapai lebih dari 50%. Penghasilanku saat ini sudah 3-4 kali lipat dari penghasilanku waktu aku menetapkan goal itu. It’s a good thing, I think.

2. Bisnis

A lot of progress too. Perubahan seringkali membawa kesengsaraan bagi banyak orang, tapi tidak jika kita bisa berselancar menunggangi ombak perubahan itu. Perubahan yang tak terduga pada peraturan di bidang bisnisku ternyata membawa rejeki tak terduga pula buatku. Orderan membludak sampai aku terpaksa mengulur waktu penyelesaian order dari 1 minggu menjadi 2 minggu karena kapasitas produksiku tidak bisa mengimbangi. Padahal pertengahan tahun ini, tepat sebelum musim panen bisnisku, aku sudah membeli satu mesin baru yang sangat membantu mempercepat proses pengerjaan orderan. Berkat yang sangat patut untuk aku syukuri.

3. Keluarga

Never better. Ada beberapa kejadian yang menimpa anggota keluargaku, seperti Bapak yang kecelakaan, dll, tapi itu justru membuat hubungan keluarga kami semakin dekat. Itu lebih berharga daripada harta benda. Ada juga pergumulan yang masih terus aku perjuangkan bersama istriku seperti misalnya soal keturunan, tapi itu tidak membuat kami patah semangat. Justru kami semakin erat bergandeng tangan, berusaha dan berserah penuh pada Tuhan.

4. Materi

Motor baru dan rumah baru! 🙂 Akhirnya aku berani menegakan diri untuk meninggalkan ibuku meski tidak jauh-jauh. Setidaknya aku jadi bisa menyeimbangkan antara memberi ruang gerak yang lebih luas untuk istriku dan juga tetap memperhatikan orangtuaku. Tahun depan rumahku selesai dibangun. Semoga jadi berkat bagi keluarga kecilku.

5. Spiritual

Still in progress. Kuartal pertama tahun 2014 aku mengikuti workshop QLT yang sudah lama kudambakan dengan salah satu tujuannya adalah untuk menemukan jalan spiritualku. Meski kini aku masih terus belajar (memang harus gitu kan ya?), aku tak lagi merasa tak punya arah. Aku kini mengambil jalan sunyi, menemukan Tuhan dalam diri. Aku masih percaya keberadaan Tuhan meski bukan Tuhan personal seperti dalam agama-agama. Beberapa kejadian di 2014 juga membuatku tidak lagi percaya pada pendeta. Next time kalau ada pendeta yang beralasan, “Pendeta juga manusia,” mungkin aku akan menyahutinya, “Lho lha emangnya pendeta itu lebih dari manusia?” Karena berbagai penyebab, kini segala macam urusan agamawi bagiku menjadi lebih bersifat sosial saja ketimbang spiritual. Dan aku juga udah ogah deket-deket sama pendeta yang itu lagi. Facebooknya pun udah kuremove dan kublokir lagi untuk ke sekian kalinya. Hahaha

6. Pengembangan diri

Ikut workshop Quantum Life Transformation-nya Pak Adi W. Gunawan akan selalu kukenang sebagai salah satu titik tolak dalam kehidupanku. Aku semakin mengenal diriku, semakin mengenal dunia pikiran manusia yang begitu luas dan luar biasa. Teknik-teknik yang diajarkan juga sangat efektif untuk menyelesaikan masalah dalam diri dan juga dalam proses pencapaian impian. Istriku bilang aku banyak perubahan sejak ikut QLT. Dia juga bilang tahun depan pengen ikut QLT juga. Semoga itu membuat langkah kami semakin kompak dalam menjalani kehidupan bersama sebagai sebuah keluarga.

7. Liburan

Setelah tahun lalu liburan ke Danau Toba, tahun 2014 cuma bikin goal liburan sederhana tapi bermakna. Pengen liburan ke Trans Studio Bandung bareng istri dan adik cuma karena pengen naik roller coaster 😀 Tercapai juga, tapi kapok naik roller coasternya 😀 Btw, ke Bandung adalah long trip pertamaku nyetir mobil sendiri. It was fun karena tidak terpatok jadwal waktu harus ke mana, harus pulang kapan. Berbeda dengan waktu kemarin mengantar sodara tunangan di Malang, waktu yang singkat plus perjalanan yang ternyata lebih jauh ketimbang ke Bandung bikin badan super capek. Pulang hari Senin, baru bisa mulai kerja lagi hari Jumat -__-. Anyway, 2014 was a nice travelling year. Nyetir mobil itu asyik ternyata 🙂

All in all, 2014 is a successful year and I’m very grateful for it 🙂

 

31

Hari ini, 29 Maret 2014, usiaku tepat 31 tahun. Usia yang tidak muda lagi, namun belum bisa dibilang tua (ngeles). Ada banyak hal yang kusyukuri, sebagian di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Aku bersyukur usiaku menginjak 31 tahun. Itu artinya, aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup, bertumbuh, belajar dan berkarya.
  2. Aku bersyukur mengawali dekade ke-tiga umurku dengan mengikuti QLT (Quantum Life Transformation) Workshop yang sudah kuimpikan sejak beberapa tahun terakhir ini. Impian yang akhirnya tercapai pada tanggal 13-16 Maret 2014 lalu di Tretes, Jawa Timur. Workshop yang sangat mengubah hidupku, membuatku semakin memahami kehidupan dan makna kehidupan. Sangat kurekomendasikan untuk Anda yang tertarik untuk belajar tentang kehidupan dan pengembangan diri.
  3. Aku bersyukur memiliki pasangan hidup yang setia mendampingiku dalam suka duka, susah senang, sehat sakit. Istriku, aku beruntung memilikimu sebagai pendamping hidupku.
  4. Aku bersyukur sampai saat ini belum diberi momongan karena itu berarti aku masih diberi kesempatan untuk belajar membenahi dan mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anakku kelak. Dan saat ini, terlebih setelah aku mengikuti QLT, aku bersyukur aku bisa mengatakan bahwa aku siap menjadi seorang ayah.
  5. Aku bersyukur bisa berguru langsung kepada Pak Adi W. Gunawan, seorang pakar yang selama ini hanya bisa aku kenal lewat buku-buku karyanya yang memenuhi rak bukuku.
  6. Aku bersyukur dengan ilmu yang kudapat dari Pak Adi W. Gunawan, satu persatu emosi negatif, trauma dan sifat-sifat negatifku bisa kuhilangkan. Aku merasa terlahir kembali menjadi manusia baru.
  7. Aku bersyukur semua hal yang kupelajari selama lebih dari 10 tahun belakangan ini kutemukan benang merahnya dalam ilmu yang kudapat dari Pak Adi W. Gunawan.
  8. Aku bersyukur istriku dan orang-orang di sekitarku juga merasakan perubahan baik karena aku yang berubah juga karena ilmuku yang kutularkan kepada mereka membuat mereka juga bisa berubah menjadi lebih baik.
  9. Aku bersyukur kini aku menjadi pribadi yang lebih tenang, damai, dan jauh lebih bisa bersyukur.
  10. Aku bersyukur semakin mengenal diriku sendiri, memahami dan bisa mengendalikan diriku sendiri.
  11. Aku bersyukur sekarang kalau keluar kota sudah bawa mobil sendiri. Tidak lagi kehujanan, kepanasan dan kecapekan di jalan.
  12. Aku bersyukur bisa menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekitarku.
  13. Aku bersyukur malam ini bisa mulai menulis lagi di blog ini 🙂

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin kutuliskan, tapi besok pagi aku harus bangun pagi karena harus mengajar di kebaktian remaja. Aku bersyukur aku bisa berbagi pemahaman dan pengetahuanku akan kehidupan kepada adik-adik remaja di gereja 🙂

Today, my life begins a new world.