When I See You Smile

Sometimes I wanna give up
I wanna give in
I wanna quit the fight
And then I see you, baby
And everything’s alright
Everything’s alright

When I see you smile
I can face the world, oh oh
You know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh
I see it shining right through the rain

When I see you smile
Baby, when I see you smile at me, oh yeah

Trauma

cara mendidik anak

Satu hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini adalah kenapa dalam salah satu bisnis aku sulit sekali bergerak maju. Jangankan untuk mencapai hasil akhir. Untuk melangkah saja rasanya ada saja yang bikin kaki ini dingin – ini diksi yang tidak baik, karena menggunakan kata-kata yang kalau diulang terus menerus akan diwujudnyatakan oleh pikiran bawah sadar – ragu. Lalu aku melihat tulisan-tulisan goal yang kupajang di dinding ruang kerjaku. Salah satunya, aku ingin punya sebuah bisnis tertentu, dengan alasan pengen punya penghasilan yang banyak tapi tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Lalu aku ingat bahwa ternyata di bisnis itu memaksa aku untuk sering keluar rumah. Nah, barangkali itu sebabnya pikiran bawah sadarku membuatku ragu melangkah, supaya aku bisa memenuhi goalku untuk tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Memang ada beberapa faktor, tapi barangkali faktor ini yang paling kuat karena berhubungan erat dengan trauma masa laluku yang bermuatan emosi sangat tinggi.

Aku mengamati dalam kehidupan, orang seringkali melakukan sesuatu yang sangat berkebalikan dari yang dialami di masa kecilnya. Ia mungkin melakukannya terhadap dirinya sendiri, atau terhadap keluarga termasuk anak-anaknya. Hal ini terjadi apabila ia merasa trauma dengan apa yang terjadi di masa kecilnya. Misalnya saja sering kita dengar orang-orang yang menjadi sangat kaya padahal mereka terlahir dari keluarga yang teramat miskin. Kemungkinan kemiskinan itu telah membuat mereka sangat menderita sehingga dalam pikiran bawah sadar mereka terprogam bahwa kemiskinan itu menimbulkan rasa sakit sehingga harus dijauhi. Melalui kekayaan, orang merasa menemukan kebahagiaan.

Ada pula orang yang di masa kecilnya sangat miskin hingga untuk makan pun sangat sulit. Kemiskinan itu melahirkan tekad bahwa ia harus menjadi orang kaya. Namun ketika sudah menjadi kaya, ia memiliki anak yang obesitas dari kecil. Rupanya trauma masa kecilnya membuat orang itu membiarkan anaknya makan apapun yang diinginkan tanpa peduli porsinya. Akhirnya anaknya justru yang menjadi korban trauma masa kecil ayahnya.

Aku dulu waktu kecil jauh dari bapak. Bapak bekerja di Jakarta, sementara aku, ibuku, dan adikku tinggal di Purworejo, kota kecil 500 km dari Jakarta. Bapak pulang sebulan sekali. Aku merasa sangat senang ketika Bapak pulang, dan sedih ketika Bapak harus kembali berangkat merantau. Bisa dibilang di masa kecilku aku jarang merasakan kedekatan dengan sosok ayah. Rupanya trauma itu yang membuatku memutuskan untuk sekarang bekerja di rumah. Aku ingin keluarga dan anak-anakku merasakan kebahagiaan selalu dekat dengan sosok ayah. Apalagi ketika aku belajar banyak hal tentang keluarga dan peran penting sosok ayah terhadap pertumbuhan mental anak-anak.

Sayangnya trauma masa kecilku itu kini berbalik jadi bumerang. Ketika aku hendak memulai bisnis yang memaksaku sering meninggalkan rumah, pikiran bawah sadarku menolak. Seperti yang aku pelajari, ketika ada konflik antara pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar, yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar 9 kali lebih kuat daripada pikiran sadar.

Solusinya gimana?

Salah satu solusi adalah dengan membangun bisnis yang dijalankan di rumah. Banyak bisnis yang berawal dari rumah kemudian menjadi besar karena dijalankan bersama pasangan. Untuk itu perlu komunikasi intens dengan pasangan mengenai rencana-rencana bisnis ke depan, apa yang bisa dilakukan bersama.

Solusi lainnya, aku harus mengedukasi pikiran bawah sadarku bahwa tidak selamanya meninggalkan rumah itu buruk untuk keluarga dan anak-anak, asalkan tahu tips dan triknya. Aku ingat cerita Pak Adi W. Gunawan tentang seorang ayah yang bekerja di kantor, yang karena jabatannya ia harus sering lembur dan hampir selalu pulang ketika anak-anaknya sudah tidur. Herannya, relasinya dengan anak-anaknya sangat baik. Anak-anaknya selalu nurut dan dekat dengannya. Teman-temannya heran karena anak-anak mereka tidak dekat dengan mereka. Ya gimana, wong mereka berangkat anak-anak belum bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tidur. Ternyata rahasianya, setiap kali si ayah ini pulang kantor dan anak-anaknya sudah tidur, ia selalu memeluk anak-anaknya sambil berkata, “Ayah sayaaaang sekali sama kamu.” Anak-anaknya dalam kondisi ngantuk menjawab, “Aku juga sayaaaan sekali sama ayah.” Ternyata dalam kondisi mengantuk, anak-anak berada dalam kondisi hypnosis yang sangat dalam sehingga sangat sugestif. Apapun yang dikatakan oleh orang yang dianggap memiliki kharisma tinggi akan langsung masuk ke pikiran bawah sadarnya, terekam sebagai program yang sangat kuat. Inilah sebabnya anak-anaknya merasakan kedekatan dengan ayahnya meski secara kuantitas sebenarnya tidak sebanyak keluarga yang ayahnya bekerja dari rumah.

Ada beberapa teknik self therapy yang bisa dilakukan untuk meng-edit program di dalam pikiran bawah sadar ini. Aku bersyukur aku belajar banyak dari Pak Adi.

Keterangan gambar: Foto bersama Sherine, keponakanku. Kami jarang ketemu, paling setahun 2 kali. Tapi setiap ketemu selalu kuusahakan memasukkan kenangan-kenangan yang sangat menyenangkan dalam ingatannya. Sekarang umurnya 4 tahun dan sangat dekat dengan aku dan istriku.

Refleksi

Satu hal yang menarik dalam khotbah tadi pagi adalah ketika Pak Pendeta memaparkan ide bahwa hambatan yang menjatuhkan bisa datang dari dalam. Kemudian beliau bercerita tentang seorang warga yang datang ke rumah beliau dan berkata bahwa tidak mungkin gereja kecil yang tidak kaya ini bisa memiliki sebuah stasiun radio. Ini adalah contoh bagaimana kejatuhan bisa dimulai justru dari dalam.

Aku tidak menentang ide itu. In fact, aku malah tidak peduli dengan ide itu. Aku sudah bosan dengan curhatan beliau tentang perjuangannya menghadapi tentangan warga dan majelis yang dianggap tidak suka dengan ide beliau. Padahal menurutku tentangan itu cuma efek ketidakmampuan beliau menyederhanakan dan memaparkan ide kepada semua kalangan dan membuat semua warga memiliki keinginan untuk bekerja bersama.

Yang menarik adalah justru setelah itu, beliau melontarkan sebuah ketidakyakinannya bahwa negara Indonesia ini akan bertahan sampai umur 100 tahun. Well… Mungkin cuma aku yang melihat, tapi aku melihat kontradiksi di sini. Di satu sisi beliau memperingatkan bahwa hambatan bisa datang dari sisi internal, sementara beliau sendiri mengemukakan ide yang menjatuhkan tentang kemungkinan negara kita mencapai umur 100 tahun.

Aku tidak hendak menyerang pribadi beliau sih. Gak ada gunanya juga. Cuman yang kembali aku pelajari adalah bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah refleksi / pantulan dari apa yang kita pancarkan dari dalam pikiran kita. Ketika Pak Pendeta mengalami berbagai macam hal yang menurut beliau adalah hambatan dari dalam, itu sebenarnya reaksi dari program dalam pikiran bawah sadarnya yang menganggap bahwa selalu akan ada hambatan dari dalam. Dan itu tercermin dalam kata-kata beliau tentang ketidakyakinannya pada umur negara ini. Terlebih tadi pagi ketika aku sedang memanasi mobil, aku mendengar rekaman renungan pagi beliau di radio yang juga senada.

Karena itulah sudah sejak lama kalau aku mendengar beliau (dan pendeta-pendeta setipe) berkhotbah aku selalu memegang prinsip bahwa yang masuk ke pikiran bawah sadarku hanyalah hal-hal yang aku setujui untuk masuk ke pikiran bawah sadarku. Pikiran ini terlalu berharga untuk diserahkan kepada orang lain untuk mengisinya. Kehidupan kita adalah buah dari pikiran kita. Untuk mendapatkan buah yang baik, kita harus menanam benih yang baik. Karena itu penting untuk selalu menjaga kesadaran, berjaga-jaga di depan pintu pikiran kita, supaya hanya benih yang baik yang tertanam dalam pikiran kita. Hanya dengan demikianlah kita bisa mengalami kehidupan yang baik dan menyenangkan.

On a side note, kemarin aku baru beli jam tangan baru, Casio G-Shock GA-100. Udah pengen punya jam tangan G-Shock sejak jaman masih SD atau SMP gara-gara liat iklannya di majalah Bobo. Dulu ortu gak kuat beli karena waktu itu tergolong mahal buat kantong keluarga kami. Puji Tuhan kemarin bisa beli pakai uang sendiri. Gak mahal banget sih. Cuma sekitar 1,3 juta. Tapi baru kali ini punya jam yang harganya di atas 1 juta. Pernah sekali beli jam di atas 1 juta tapi buat kado orang lain. Jamku sendiri harganya gak pernah lebih dari 500 ribu. Hehe..

Yang aku suka dari jam ini adalah kedap air, plus tampilannya keren. Fungsi memang jadi patokan utamaku kalau membeli segala sesuatu. Kalo gak fungsional, mending gak usah beli. Misalnya smartphone tablet yang segede buku. Pengen sih beli. Duitnya juga ada. Tapi aku ngebayanginnya aja males, ke mana-mana musti bawa barang yang gak bisa dikantongi. Ribet. Fungsinya juga gak jauh beda sama hape yang layarnya di bawah 5″. Paling cuma buat foto-foto, facebook, twitter, instagram, BBM, email, baca berita, udah. Hehe.

Selain kedap air, aku suka fitur auto light-nya. Jadi jam ini bisa disetting lampunya otomatis menyala kalau tangan kita berada pada sudut tertentu. Fitur ini berguna terlebih pada malam hari. Jadi ketika kita menghadapkan jam ini ke wajah kita, lampunya otomatis menyala menerangi bagian dalam jam ini.

Catatan ini bukan pamer. Hanya menunjukkan kembali bahwa apapun yang kita impikan suatu saat pasti akan terwujud asalkan kita tidak pernah berhenti memimpikannya. Karena kehidupan adalah buah dari pikiran kita.

review jam tangan casio g-shock ga-100

LIhat lampunya menyala ketika jam tangannya kuhadapkan ke wajahku. Bukan karena sensor wajah, tapi karena tanganku membentuk sudut kemiringan tertentu yang mengaktifkan lampunya. Maap gambarnya kabur. Hape yang kameranya auto fokus lagi abis baterenya. Hehe

Sebuah Cerita dari Jakarta

Jadi saya mau cerita sedikit pengalaman hari ini.

Siang tadi dalam perjalanan pulang dari belanja di Senen kembali ke Lippo Karawaci, saya ketilang polisi. Sebenernya karena rambu yang tidak jelas. Petunjuk arah tertera dua jalur untuk masuk tol, tapi ternyata jalur masuk tol jadi satu. Dan seorang polisi sudah mangkal di dekat situ untuk menangkap mangsanya, para pengendara mobil yang salah ambil jalur. Melayanglah Rp.250.000 ke kantong pak polisi. Ya semoga jadi berkat lah buat beliau. Eh sapa tau dia lagi butuh biaya sekolah atau kuliah anaknya. Kasihan, udah tua, udah lama jadi polisi pangkatnya segitu-gitu aja 😀

Nah yang membuatku tertawa sekaligus termenung karena ingat hal yang sebenarnya sudah aku pelajari tapi kali ini aku lupa adalah, ternyata sehari sebelumnya aku mengupload foto ini ke instagram dengan caption:

Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi damai menutupi pelanggaran.

Kalau melanggar aturan lalu lintas, kasih 50.000 pasti beres.

image

Ternyata oh ternyata, sehari setelah aku memikirkan hal itu, terwujudlah menjadi kenyataan. Malah aku harus kasih 5x lipat untuk menutupi pelanggaranku. Hahaha

Jadi ternyata, kita harus lebih sadar dalam berpikir karena benih pikiran itu akan tumbuh dan berbuah menjadi kenyataan. Terlebih kalau energi diri kita besar, energi gravitasi kita juga akan besar sehingga kita akan menarik segala hal yang kita pikirkan dan disetujui oleh pikiran bawah sadar kita dengan sangat cepat.

Malam ini sebelum tidur aku berbincang tentang hal ini dengan istriku. Akupun lalu bertanya padanya, “Pikiran kita kemarin terwujud hari ini dalam jumlah lima kali lebih banyak. Kalau begitu, apa yang akan kita pikirkan malam ini?”

Istriku menjawab, “Pengen dapet rejeki satu milyar !”

“Hahaha.. iya ya. Biar besok dapetnya lima kali lipat ya. Jadi lima milyar. Hehehe..” sahutku.

Semoga dan sepertinya pikiran bawah sadarku setuju. Terlebih hari ini aku dapet pelajaran penting. Yang pertama waktu belanja di sebuah toko besaaaar yang ternyata berawal dari sebuah toko kecil berukuran 3×3 meter di Glodok pada tahun 1955. Sekarang jadi perusahaan besar yang memegang franchise jaringan toko Ace Hardware, Informa dan Toys Kingdom di seluruh Indonesia, dan juga sudah membangun Living World Alam Sutera, mall khusus Home Living dan Eat-tertainment seluas 140.000m2. Perusahaan ini juga memiliki beberapa merk produk terkenal, salah satunya Krisbow. Di situ aku belajar tentang pentingnya hardwork, networking, professional management dan ketekunan dalam mengembangkan usaha.

Pelajaran yang kedua kudapat setelah aku mengikhlaskan uang tilang buat pak polisi tadi. Malam ini waktu aku lihat-lihat boneka sambil nunggu sate dan bakmi di dekat rumah kakak iparku, ternyata ibu pemilik toko itu orang Kutoarjo. Kebetulan ketemu juga dengan suami beliau di situ. Kami ngobrol dan sharing panjang lebar tentang dunia bisnis. Beliau pensiunan PT Astra. Sebelum pensiun beliau dilatih oleh perusahaan untuk menjadi entrepeneur. Eh ternyata yang melatih adalah tim dari dari Entrepeneur University. Jadi ternyata kami sama-sama alumni EU 😀 Nambah kenalan, dapet banyak pelajaran dari senior, walah ternyata memang ikhlas itu membawa berkah. Yang bisa diubah ya diubah, yang tidak bisa ya diikhlaskan. Yakin lah ikhlas itu pasti selalu always membawa berkah 🙂

US $ 1 Billion

Apa yang akan aku lakukan kalau aku memiliki uang US $ 1 billion atau sekitar Rp. 11,5 trilyun karena perusahaanku dibeli oleh perusahaan besar internasional atau karena perusahaanku go public atau karena perusahaanku berhasil tumbuh begitu besar hingga memiliki penghasilan bersih segitu?

  1. Sebagian besar uangku akan kuinvestasikan lagi ke dalam bisnis yang sudah kukenal. Uang yang tidak diputar tidak akan jadi berkat. Ingat perumpamaan tentang talenta, tiga perempuan yang diberi kepercayaan memegang uang oleh tuannya.
  2. Sebagian uangku akan kuberikan untuk riset tentang air bersih, energi dan penyakit di negara-negara miskin. Hidup menjadi bermakna kalau kita bisa memberi manfaat bagi dunia di sekitar kita.
  3. Sebagian uangku akan kuberikan untuk beasiswa pendidikan anak-anak miskin hingga ke jenjang pasca sarjana dan memberi modal usaha untuk anak-anak miskin yang ingin membangun bisnis mereka sendiri. Mungkin di antara mereka akan lahir orang-orang luar biasa yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik.
  4. Sebagian uangku akan kuberikan untuk orangtua dan mertuaku. Tanpa mereka, aku tidak akan ada.
  5. Sebagian uangku akan kunikmati sebagai reward untuk diriku sendiri. Penting untuk menghargai diriku sendiri atas keberhasilan yang sudah diraih.
  6. Sisanya – yang pasti akan jauh lebih besar dari reward yang aku terima – akan kuberikan pada istriku. Buat makan sehari-hari, dan mungkin dia akan beli Lamborghini ungu impiannya 🙂