33

Tahun-tahun yang berlalu tidak akan bisa kembali. Bahkan detik yang sudah terjadi tak lagi bisa dijalani.

Kadang ada hal besar dalam hidup yang harus diputuskan. Karena hidup tanpa tujuan bukanlah sebuah pilihan. Hidup harus diarahkan, karena biduk tak lagi dikayuh sendirian.

Ada cinta yang harus disemai, ada hati yang harus dibelai. Karenanya hidup tak bisa cuma berandai-andai.

Kerja keras barangkali memang tidak diajarkan, pun kadang tidak dicontohkan. Tapi kerja keras itu karakter, dan karakter memang harus secara sadar ditentukan. Dipilih, dipilah lalu diasah.

Keraguan kadang membayangi, ketakutan kadang menguasai. Tapi justru di situlah keberanian itu diuji.

Masa depan memang tanpa jaminan, seperti berlayar di gelap malam di tengah kabut yang menghadang. Ke mana arah tujuan bila mata tak lagi mampu memandang? Berhentilah barang sejenak, berdoa mengumpulkan keberanian, mematahkan ketakutan, sambil menunggu mentari terbit di ufuk pagi. Karena gelap tak selamanya gelap, karena mentari selalu setia menyapa hari.

Kadang awan kelam dan badai menghantam. Bertahanlah, karena tak ada badai yang tak berkesudahan.

Kadang lelah menerpa, lelah raga serta lelah jiwa. Berbaringlah menengadah, pejamkan mata lalu ingatlah, apa yang dulu membuatmu pertama kali melangkah. Apakah harta? Atau tahta? Atau wanita yang kini duduk bersamamu di biduk cinta? Ataukah petualangan, yang membuat semangatmu menjulang dan layarmu mengembang? Jatuh bangun lagi! Jatuh bangun lagi! Tenggelam bangkit lagi! Tenggelam bangkit lagi!

Barangkali kamu berpikir bahwa wanitamu itu alasanmu untuk bertahan. Tapi pernahkah kamu berpikir, bahwa barangkali wanitamu itu malaikat kiriman Tuhan untuk menjagamu supaya tetap bertahan?

Barangkali Tuhan dan agama bagimu adalah absurditas yang tak bisa diverifikasi kebenarannya. Tapi bukankah lebih menyenangkan bertualang mengarungi samudra nan menantang, bukan cuma untuk melatih diri menghadapi badai dan menghindari karang melainkan untuk bertemu sang kekasih pujaan di akhir perjalanan?

Ada awal dari semuanya, ada akhir untuk semuanya. Ketika kamu mengakhiri semuanya, apa yang akan kaukatakan pada dirimu sendiri? Sebagian orang tidak mengatakan apapun karena memang tidak punya kisah yang bisa diceritakan. Sebagian lagi memandang nanar masa lalunya dengan penuh penyesalan. Sebagian menyesal karena melakukan sesuatu kesalahan, sebagian lagi menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan seandainya mereka punya cukup keberanian.

Tapi kamu, kamu harus memandang masa lalumu dengan penuh syukur. Syukur karena melakukan sesuatu yang benar, syukur karena melakukan sesuatu dengan penuh keberanian, syukur karena mengakhiri petualanganmu dengan penuh kemenangan.

Selamat ulang tahun, diriku. You are a soul inside a human body. You are unlimited. You are awesome!

32

Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku yang ke-32 akhir bulan Maret lalu, istriku berkata, “Wah suamiku mau ulang tahun e. Kamu pengen apa, sayang?”

Jujur saja aku tak punya keinginan apapun untuk merayakan hari ulang tahunku. Selain karena aku sedang fokus untuk launching proyek properti perdanaku, aku sudah tak lagi terbiasa dengan segala macam perayaan, pesta dan semacamnya. Semakin meningkatnya kesadaranku terhadap waktu membuatku tahu bahwa segala macam perayaan itu adalah permainan emosi semata. Kita merasa sudah melakukan sesuatu ketika kita merayakan Natal, Paskah, hari ulang tahun, dsb. Padahal yang benar-benar berharga adalah keseharian kita, hidup kita saat ini, detik demi detik, hari demi hari. Merayakan hidup adalah merayakan kesadaran kita untuk hidup di saat ini, bukan mengenang masa lalu. Kalaupun ada yang harus diberi selamat pada peringatan hari ulang tahun, itu bukanlah diri kita. Apa yang patut dirayakan dari mak ceprot lahir ke dunia tanpa usaha? 😀 Yang perlu dipeluk diucapi selamat adalah ibu kita, yang dulu pada tanggal itu melahirkan kita sampai mungkin bertaruh nyawa demi kelahiran kita. Itulah yang patut untuk dibanggakan dan diberi ucapan selamat.

“Wah suamiku mau ulang tahun e. Kamu pengen apa, sayang?”

“Aku gak pengen apa-apa. Aku udah gak terbiasa merayakan ulang tahun. Karena setiap hari layak untuk kita syukuri. Karena setiap hari layak untuk kita rayakan.”

31

Hari ini, 29 Maret 2014, usiaku tepat 31 tahun. Usia yang tidak muda lagi, namun belum bisa dibilang tua (ngeles). Ada banyak hal yang kusyukuri, sebagian di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Aku bersyukur usiaku menginjak 31 tahun. Itu artinya, aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk hidup, bertumbuh, belajar dan berkarya.
  2. Aku bersyukur mengawali dekade ke-tiga umurku dengan mengikuti QLT (Quantum Life Transformation) Workshop yang sudah kuimpikan sejak beberapa tahun terakhir ini. Impian yang akhirnya tercapai pada tanggal 13-16 Maret 2014 lalu di Tretes, Jawa Timur. Workshop yang sangat mengubah hidupku, membuatku semakin memahami kehidupan dan makna kehidupan. Sangat kurekomendasikan untuk Anda yang tertarik untuk belajar tentang kehidupan dan pengembangan diri.
  3. Aku bersyukur memiliki pasangan hidup yang setia mendampingiku dalam suka duka, susah senang, sehat sakit. Istriku, aku beruntung memilikimu sebagai pendamping hidupku.
  4. Aku bersyukur sampai saat ini belum diberi momongan karena itu berarti aku masih diberi kesempatan untuk belajar membenahi dan mempersiapkan diri untuk menjadi orangtua yang baik bagi anak-anakku kelak. Dan saat ini, terlebih setelah aku mengikuti QLT, aku bersyukur aku bisa mengatakan bahwa aku siap menjadi seorang ayah.
  5. Aku bersyukur bisa berguru langsung kepada Pak Adi W. Gunawan, seorang pakar yang selama ini hanya bisa aku kenal lewat buku-buku karyanya yang memenuhi rak bukuku.
  6. Aku bersyukur dengan ilmu yang kudapat dari Pak Adi W. Gunawan, satu persatu emosi negatif, trauma dan sifat-sifat negatifku bisa kuhilangkan. Aku merasa terlahir kembali menjadi manusia baru.
  7. Aku bersyukur semua hal yang kupelajari selama lebih dari 10 tahun belakangan ini kutemukan benang merahnya dalam ilmu yang kudapat dari Pak Adi W. Gunawan.
  8. Aku bersyukur istriku dan orang-orang di sekitarku juga merasakan perubahan baik karena aku yang berubah juga karena ilmuku yang kutularkan kepada mereka membuat mereka juga bisa berubah menjadi lebih baik.
  9. Aku bersyukur kini aku menjadi pribadi yang lebih tenang, damai, dan jauh lebih bisa bersyukur.
  10. Aku bersyukur semakin mengenal diriku sendiri, memahami dan bisa mengendalikan diriku sendiri.
  11. Aku bersyukur sekarang kalau keluar kota sudah bawa mobil sendiri. Tidak lagi kehujanan, kepanasan dan kecapekan di jalan.
  12. Aku bersyukur bisa menjadi saluran berkat bagi orang-orang di sekitarku.
  13. Aku bersyukur malam ini bisa mulai menulis lagi di blog ini 🙂

Sebenarnya masih banyak lagi yang ingin kutuliskan, tapi besok pagi aku harus bangun pagi karena harus mengajar di kebaktian remaja. Aku bersyukur aku bisa berbagi pemahaman dan pengetahuanku akan kehidupan kepada adik-adik remaja di gereja 🙂

Today, my life begins a new world.