Katarsis

Sekian tahun lalu sudah niat mau bunuh orang. Sudah siapkan parang buat belah kepalanya. Beruntung kemudian bertemu dengan orang-orang hebat yang baik, mengajarkan saya mengenal diri saya, mengenal cara kerja pikiran saya, belajar mengenali dan mengendalikan emosi. Saya belajar mengampuni. Bahkan suatu waktu orang yang menyakiti perasaan saya itu sakit parah hampir mati, saya mengantarnya ke rumah sakit untuk segera dioperasi. Padahal waktu itu orang itu sudah mendiamkan saya berbulan bulan tak mau bicara dengan saya. Dokter bilang kalau telat sedikit pasti sudah mati. Pasca operasi, orang itu memeluk saya, meminta maaf dan berterimakasih.

Sekarang orang yang sama menyakiti perasaan saya lagi. Marah, iya. Kecewa, iya. Tapi saya memilih untuk berdamai dengan diri sendiri. Karena emosi itu kita yang rasakan. Kemarahan itu kita yang rasakan. Kesedihan itu kita yang rasakan. Efek / akibatnya, kita juga yang rasakan. Buddha bilang, menyimpan dendam itu seperti minum racun lalu berharap orang lain yang mati. Tidak bisa. Kita yang dendam, kita juga yang sakit. Kita menumpuk sampah di dalam diri kita sendiri. Makanya Yesus mengajarkan, berapa kali kita harus mengampuni? 7 kali? Bukan. Melainkan 70×7 kali. Mengampuni sampai kita lupa sudah berapa kali mengampuni. Tapi haruskan kita terus berusaha menjalin hubungan baik dengan orang yang selalu menyakiti perasaan kita? Tidak juga. Kalau memang tidak bermanfaat, ya tidak perlu memaksakan diri tetap berhubungan. Tidak ada gunanya menyimpan nasi basi di meja makan. Kalau sudah busuk ya sudah buang saja. Daripada bikin penyakit.

Emosi itu harus dikenali, supaya ketika muncul ia bisa dikendalikan. Bila tidak, maka ia yang akan mengendalikan kita, membuat kita bertindak di luar kesadaran kita. Tahu-tahu kita berbuat yang kemudian kita sesali. Amit-amit.

Marah itu pesan dari pikiran bawah sadar, bahwa ada bagian diri kita yang merasa diperlakukan tidak adil. Kalau pesannya sudah sampai, ambil hikmahnya, kalau perlu tindak lanjut yang ditindaklanjuti, setelah itu ya sudah. Ngapain menyimpan bara api dalam tumpukan sekam.

Dulu, saya memahami bahwa setiap orang berubah, belajar. Memang tidak semua belajar dengan cepat. Ada yang cepat, ada yang lambat. Tapi semua orang belajar. Sayangnya yang belajarnya lambat itu orangnya biasanya nyebelin. Perlu digampar dulu baru sadar. Perlu dilabrak dulu baru tersentak.

Fiuh. Sedikit lega. Maaf sudah mengganggu beranda anda. Semoga ada sedikit pelajaran yang anda juga bisa ambil.

Sekarang saya sudah tidak marah. Saya hanya menyesal dulu membawa orang itu ke rumah sakit untuk dioperasi. Seharusnya saya biarkan saja dia mati. Hahaha.

Mengapa Orang Baik Mati Muda?

Kalau orang baik mati muda, masihkah engkau mau terus berbuat baik?

Tahun ini dua orang kenalan saya meninggal dalam usia yang belum lanjut. Dua-duanya meninggal karena kanker dalam usia kepala lima. Saya tahu kanker memang penyakit yang sulit diduga kehadirannya. Orang bilang semua orang punya sel kanker, tapi apakah sel itu berkembang atau tidak tergantung berbagai macam hal yang berbeda dalam diri masing-masing orang. Ada yang bilang hubungannya erat dengan emosi, ada juga yang bilang hubungannya dengan makanan. Saya mencatatnya sebagai sebuah catatan, karena datanya tidak cukup untuk mengambil kesimpulan. Orang-orang yang saya kenal itu orang-orang baik yang rasanya jauh dari segala macam emosi yang merusak. Makanan juga tidak macam-macam. Toh mereka tetap terkena kanker.

Tidak hanya kanker yang mengakhiri hidup orang-orang dalam usia yang belum tua. Bapak mertua saya meninggal juga dalam usia yang belum lanjut. Penyebabnya kemungkinan serangan jantung. Tapi beliau memang perokok, walaupun secara emosi beliau orang baik.

Banyak orang baik yang saya kenal meninggal dalam usia yang relatif muda, membuat saya pada suatu titik mempertanyakan mengapa orang-orang baik justru sering mati muda? Mengapa justru orang-orang yang menjengkelkan malah panjang umur nggak mati-mati? Setiap kali ada orang baik yang meninggal dalam usia muda pertanyaan itu selalu menggelayuti pikiran saya.

Bertanyalah maka engkau akan menemukan jawaban, meski jawaban itu seringkali menimbulkan pertanyaan baru.

Pergumulan sekian lama akhirnya saya menemukan benang merah mengapa orang-orang baik seringkali mati muda. Beberapa kesimpulan yang saya dapat yaitu:

1. Orang-orang baik seringkali memikirkan orang banyak namun lupa memikirkan dirinya sendiri. Akibatnya tubuhnya sendiri justru tidak terawat dengan baik. Seperti besi yang kuat bila didiamkan lama-lama pasti berkarat, tubuh juga bila tidak dirawat pasti melemah dari dalam. Akhirnya, kematian hanyalah akibat dari kerusakan sistem yang terjadi terus menerus dan saling mengkait pada tubuh fisik.

2. Orang-orang baik seringkali terlihat sangat kuat, tidak pernah mengeluh, tapi bukan karena mereka memang sangat tabah. Mereka hanya tidak suka mengeluh bahkan ketika tubuh mereka memberi isyarat ada yang tidak beres dengan sistem internalnya. Akibatnya ketika akhirnya bibir mengucap kata sakit, kondisinya sudah terlalu parah untuk diperbaiki.

Masih ada beberapa catatan lagi tapi saya lupa. Besok kapan kalau ingat saya tulis lagi.

Catatan-catatan itu membawa saya ke kesimpulan lain lagi yaitu bahwa kalau kita ingin jadi orang baik yang panjang umur, maka syaratnya:

1. Kita harus mendengar diri kita sendiri terlebih dahulu. Ketika tubuh berbisik minta istirahat, istirahatlah. Jangan tunggu sampai ia berteriak kesakitan.

2. Memperhatikan kesehatan. Merokok tidak apa-apa tapi cukup sebatang sehari. Kakek istri saya perokok tapi usianya sampai 70an. Tapi sehari paling satu dua batang saja, bukan satu dua bungkus. Olahraga khusus tidak perlu, asal kerjanya melibatkan aktivitas fisik berjalan atau angkat-angkat barang. Kalau kerjanya kebanyakan duduk, ya usahakan berangkat kerja naik sepeda atau jalan kaki, atau naik kendaraan umum biar ada olahraga ngejar bis kota. Atau kalau mau ekstrim, lari di belakang bis kota.

Tidak semua orang baik mati muda, dan tidak semua yang mati muda itu orang baik. Tapi berapapun usia kita, tua maupun muda, tetaplah berbuat baik. Kematian hanyalah soal waktu. Bukan melulu soal tubuh fisik. Saya ingat dulu kakek seorang teman sakit. Waktu saya tengok saya bisa rasakan energinya masih kuat. Saya bilang ke teman saya, umur simbah masih lama. Eh ternyata beberapa hari kemudia beliau meninggal. Barangkali beliau meninggal karena beliau memang memutuskan bahwa usianya sudah cukup. Well, we can only predict the future, but the future is about probability, not a certainty.

Lima puluh tahun lagi mungkin bahkan manusia tidak perlu takut cepat mati karena teknologi sudah memungkinkan manusia mengganti spare part tubuhnya yang rusak dengan cukup murah. Tapi toh hidup bukan soal seberapa lama kita hidup, tapi seberapa besar kemampuan kita menghidupkan Hidup di dalam hidup kita ini.

Kalau orang baik memang mati muda, masihkah engkau mau terus berbuat baik? Masih. Karena kebaikan adalah satu-satunya cara mensyukuri kehidupan.

18 Juli 2016

Hectic day. Kerjaan bertumpuk. Nolongin orang kecelakaan cukup parah di depan rumah. Bawa ke RSUD Purworejo, eh IGD-nya gak punya bed buat bawa dari mobil ke ruang IGD. Rumah sakit busuk. Akhirnya bawa ke PKU Muhammadiyah Purworejo. Langsung ditangani, keluarganya datang trus aku pulang. Sampai di rumah adik ipar datang sambil nangis karena didiemin orang rumah. Karena sudah hapal dengan polah tingkah sikap orang rumahnya, aku cuma bisa ajarin buat memaklumi. Daripada ada yang jantungnya kumat trus koit.

Kalau pikiran sedang penuh, ditambah emosi marah/jengkel, produksi asam lambung jadi meningkat. Untung ada Promag.

The positive side: masbro yang bantu kerjaan orderan siang datang. Kemaren emang ijin pagi mau nganter anaknya ke Posyandu. Kerja setengah hari, selesai isi stok produk yang lagi banyak banget yang cari. Lumayan buat stok beberapa hari, kalau tidak diborong orang koperasi. Kemarin bikin stok 100 pcs lebih udah langsung abis diborong. Alhamdulillah ya. Puji Tuhan juga jadi bisa menggaji lebih dari standar. Masbronya sampe nanya, kok gajinya bonus terus. Ya kalau bosnya pemasukannya meningkat karena kinerja karyawannya, ya karyawan juga harus ikut ngrasain hasilnya.

Pada akhirnya, ini hari yang layak untuk disyukuri.

Aku bersyukur kerjaan banyak banget hari ini. Artinya rejeki juga banyak.

Aku bersyukur udah bisa nyetir dan ada mobil yang bisa buat nolong orang.

Aku bersyukur udah belajar mengendalikan emosi jadi tidak termakan oleh emosi sendiri.

Aku bersyukur dulu bersama istri sudah pernah merasakan kejamnya “ibu tiri” jadi sekarang bisa bersyukur hidup menjadi berkat buat orang lain, bukan jadi penyebab orang nangis kayak “sang ibu tiri.”

Pause

Kadang pengen banget ada tombol pause untuk beberapa pekerjaan, biar bisa fokus ke salah satu bidang dulu.

Don’t build half bridges, kata orang. Build one bridge at a time, finish it so it takes you from A to B. Then build another bridge to take you from B to C. Then another, then another.

Sekarang ketika semua pekerjaan bertumpuk mengantri minta diselesaikan, rasanya pengen teriak, “Faaaaaaaak !”

Fokus

Setelah mencoret game dari daftar kebiasaan, sudah langsung keliatan hasilnya bisa lebih fokus ke kerjaan baru. Sekarang mau coret satu kebiasaan lagi, cuman harus ada pola penggantinya supaya tidak kembali ke kebiasaan lama. Sedang dipikirkan, kalau perlu dibicarakan berdua supaya sama-sama enak ūüėÄ

Refreshing

Pengen refreshing in between tasks, apa aja ya pilihannya? Dulu suka main game, tapi ternyata terlalu banyak makan waktu. Alasannya cuman bentar, tahu-tahu udah tengah malam.

Being too productive can be exhausting sometimes. Nah katanya, yang bagus itu kerja maksimal sekian jam gitu (empat ato berapa gitu saya lupa) diselingi istirahat/refreshing selama sekitar 15 menit. Nah kira-kira apa aja ya pilihan refreshing 15 menit itu?

  1. Tidur. Pilihan yang cukup bagus, kalau pakai teknik tidur otak alias relaksasi pikiran. Kalau tidur fisik butuh waktu lebih lama. Nah relaksasi pikiran 15 menit sudah cukup untuk recharging aki fisik dan psikis.
  2. Membaca.¬†Pilihan bagus, tapi kalo bacaannya berat ya sama aja ūüėÄ Barangkali berguna kalau membaca sesuatu yang sama sekali berbeda dengan bidang yang sedang difokuskan. Misalnya tentang budaya, atau wisata, atau wanita. ūüėÄ
  3. Nonton video. Bisa film, TV, atau Youtube dan sebangsanya. Menarik sih, tapi sepertinya 15 menit bakal berasa kurang.
  4. Bercinta.¬†Pilihan mantap! Sayangnya perlu bantuan istri, sementara istri tidak bisa diajak bercinta tiap 4 jam ūüėÄ Jangankan tiap jam, tiap hari pun tidak bisa. Kata dokter harus dikasih jarak 2-3 hari biar spermanya matang dulu ūüėÄ
  5. Menulis.¬†Pilihan menarik. Sayangnya kalau sudah asyik menulis, butuh waktu setidaknya 1-3 jam untuk menghasilkan tulisan yang memuaskan. Alternatifnya barangkali menulis hal-hal ringan di blog. Tantangannya, yang ringan kadang jadi berat kalau sudah berkaitan tentang perenungan kehidupan. Mau nulis cerita panas takut jadi pengen bercinta ūüėÄ
  6. Ngelamun.¬†Alah palingan ngelamun jorok ūüėÄ

Sepertinya dari pilihan di atas, alternatif yang paling menarik dan berguna adalah alternatif pertama. Relaksasi pikiran. Jadi inget kata-kata Pak Adi W. Gunawan, kalau kamu sedang tidak sibuk, ambillah waktu setengah jam setiap hari untuk relaksasi pikiran. Kalau kamu sedang sangat sibuk, satu jam.

Plus sepertinya relaksasi pikiran bisa dimanfaatkan untuk terapi Ego Personality.

Okesip.

Signs

Baca postingan blognya Pak Roni Yuzirman, sepertinya relevan dengan apa yang sedang kualami. Ada beberapa tanda yang kudapat dalam perjalananku mencapai impian. Let’s see.

Sekitar dua minggu lalu ketemu temen SMA di Jodo. Ngobrol-ngobrol, ternyata suaminya adalah developer properti juga di Purworejo, dan menawarkan untuk membantu menjualkan properti daganganku. Oh wow. How stupid I am kalau tidak kuterima tawarannya.

Kemaren, PPh Final dan BPHTB turun jadi total 1,5% untuk DIRE (Dana Investasi Real Estate). Entah apa itu, tapi terdengar bagus untuk pebisnis properti dan yang baru beli properti.

Tadi pagi nonton Metro Bisnis, ada pengusaha tour and travel online Alfafa yang pake segala macem ilmu marketing revolution-nya Pak Tung Desem Waringin. Keren.

Byuh apalagi ya. Signs, kalau tidak dicatat begini, seringnya dilupakan dan tidak termanfaatkan.

Distraction

Salah satu alasan mengapa kita selalu menunda hal yang penting adalah karena waktu kita penuh dengan hal yang tidak penting.

~ Tung Desem Waringin

Akhir-akhir ini banyak distraction yang cukup mengganggu. Facebook semakin riuh rendah dan seperti tidak berhenti membahas isu-isu yang silih berganti. Sejak Pemilu 2014, topik politik terus saja tidak berhenti bergaung di dunia maya. Munculnya para hater ababil yang kayak gak pernah kehabisan energi menjelek-jelekkan pemerintah, akhirnya memancing para orang-orang pinter untuk ikut bersuara melawan kebodohan. Bagus sih, untuk pembelajaran masyarakat. Fitnah ditebar, kebenaran diungkapkan, masyarakat belajar. Tapi ya karena tidak pernah berhenti, lama-lama pusing sendiri bacanya.

Tambah lagi tingkah polah para politisi yang gak berhenti bikin kontroversi. Gerombolan raksasa yang terus bikin onar, mulai foto bareng capres rasis Amerika, sampe dagelan Mahkamah Kehormatan Dewan dalam kasus Papa Minta Saham.

Lalu ada isu-isu minor seperti isu LGBT yang memancing banyak orang berpendapat, termasuk orang-orang yang tidak kompeten di bidang itu. Lalu heboh status bego Tere Liye, novelis roman yang sok bicara sejarah padahal jadi kelihatan gak tau sejarah.

Bla bla bla bla, gak rampung-rampung rasanya. Pemilu sudah tahun 2014, tahu-tahu sekarang sudah 2016. Rasanya dua tahun terbuang sia-sia ter-distract oleh Facebook.

Selain Facebook, distraction lainnya adalah game. Sejak kemunculannya, aku seperti terbius oleh game Path of Exile. Game bergenre ARPG ini awalnya hanya untuk pelarian kalau sedang stress karena kerjaan. Lama-lama kok ya mengganggu, sampai kerjaan keteter karena terlalu asyik main game. Padahal tentu saja ada hal yang lebih penting dari sekedar achievement di game. Real life achievement jelas jauh lebih penting.

Selain itu ada distraction lagi, tapi itu gak usah diomongin lah ya. NSFW ūüėÄ

Intinya, kita perlu tahu bahwa ada hal yang penting dan yang tidak penting. Nah lalu ada hal yang mendesak dan tidak mendesak. Mana yang harus didahulukan? Apakah yang penting dan mendesak? Salah. Kenapa? Klik di sini untuk tahu jawabannya.

f9d9bef1a6b57d379bad2346819bcc0a.jpg

Trauma

cara mendidik anak

Satu hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini adalah kenapa dalam salah satu bisnis aku sulit sekali bergerak maju. Jangankan untuk mencapai hasil akhir. Untuk melangkah saja rasanya ada saja yang bikin kaki ini dingin Рini diksi yang tidak baik, karena menggunakan kata-kata yang kalau diulang terus menerus akan diwujudnyatakan oleh pikiran bawah sadar Рragu. Lalu aku melihat tulisan-tulisan goal yang kupajang di dinding ruang kerjaku. Salah satunya, aku ingin punya sebuah bisnis tertentu, dengan alasan pengen punya penghasilan yang banyak tapi tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Lalu aku ingat bahwa ternyata di bisnis itu memaksa aku untuk sering keluar rumah. Nah, barangkali itu sebabnya pikiran bawah sadarku membuatku ragu melangkah, supaya aku bisa memenuhi goalku untuk tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Memang ada beberapa faktor, tapi barangkali faktor ini yang paling kuat karena berhubungan erat dengan trauma masa laluku yang bermuatan emosi sangat tinggi.

Aku mengamati dalam kehidupan, orang seringkali melakukan sesuatu yang sangat berkebalikan dari yang dialami di masa kecilnya. Ia mungkin melakukannya terhadap dirinya sendiri, atau terhadap keluarga termasuk anak-anaknya. Hal ini terjadi apabila ia merasa trauma dengan apa yang terjadi di masa kecilnya. Misalnya saja sering kita dengar orang-orang yang menjadi sangat kaya padahal mereka terlahir dari keluarga yang teramat miskin. Kemungkinan kemiskinan itu telah membuat mereka sangat menderita sehingga dalam pikiran bawah sadar mereka terprogam bahwa kemiskinan itu menimbulkan rasa sakit sehingga harus dijauhi. Melalui kekayaan, orang merasa menemukan kebahagiaan.

Ada pula orang yang di masa kecilnya sangat miskin hingga untuk makan pun sangat sulit. Kemiskinan itu melahirkan tekad bahwa ia harus menjadi orang kaya. Namun ketika sudah menjadi kaya, ia memiliki anak yang obesitas dari kecil. Rupanya trauma masa kecilnya membuat orang itu membiarkan anaknya makan apapun yang diinginkan tanpa peduli porsinya. Akhirnya anaknya justru yang menjadi korban trauma masa kecil ayahnya.

Aku dulu waktu kecil jauh dari bapak. Bapak bekerja di Jakarta, sementara aku, ibuku, dan adikku tinggal di Purworejo, kota kecil 500 km dari Jakarta. Bapak pulang sebulan sekali. Aku merasa sangat senang ketika Bapak pulang, dan sedih ketika Bapak harus kembali berangkat merantau. Bisa dibilang di masa kecilku aku jarang merasakan kedekatan dengan sosok ayah. Rupanya trauma itu yang membuatku memutuskan untuk sekarang bekerja di rumah. Aku ingin keluarga dan anak-anakku merasakan kebahagiaan selalu dekat dengan sosok ayah. Apalagi ketika aku belajar banyak hal tentang keluarga dan peran penting sosok ayah terhadap pertumbuhan mental anak-anak.

Sayangnya trauma masa kecilku itu kini berbalik jadi bumerang. Ketika aku hendak memulai bisnis yang memaksaku sering meninggalkan rumah, pikiran bawah sadarku menolak. Seperti yang aku pelajari, ketika ada konflik antara pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar, yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar 9 kali lebih kuat daripada pikiran sadar.

Solusinya gimana?

Salah satu solusi adalah dengan membangun bisnis yang dijalankan di rumah. Banyak bisnis yang berawal dari rumah kemudian menjadi besar karena dijalankan bersama pasangan. Untuk itu perlu komunikasi intens dengan pasangan mengenai rencana-rencana bisnis ke depan, apa yang bisa dilakukan bersama.

Solusi lainnya, aku harus mengedukasi pikiran bawah sadarku bahwa tidak selamanya meninggalkan rumah itu buruk untuk keluarga dan anak-anak, asalkan tahu tips dan triknya. Aku ingat cerita Pak Adi W. Gunawan tentang seorang ayah yang bekerja di kantor, yang karena jabatannya ia harus sering lembur dan hampir selalu pulang ketika anak-anaknya sudah tidur. Herannya, relasinya dengan anak-anaknya sangat baik. Anak-anaknya selalu nurut dan dekat dengannya. Teman-temannya heran karena anak-anak mereka tidak dekat dengan mereka. Ya gimana, wong mereka berangkat anak-anak belum bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tidur. Ternyata rahasianya, setiap kali si ayah ini pulang kantor dan anak-anaknya sudah tidur, ia selalu memeluk anak-anaknya sambil berkata, “Ayah sayaaaang sekali sama kamu.” Anak-anaknya dalam kondisi ngantuk menjawab, “Aku juga sayaaaan sekali sama ayah.” Ternyata dalam kondisi mengantuk, anak-anak berada dalam kondisi hypnosis yang sangat dalam sehingga sangat sugestif. Apapun yang dikatakan oleh orang yang dianggap memiliki kharisma tinggi akan langsung masuk ke pikiran bawah sadarnya, terekam sebagai program yang sangat kuat. Inilah sebabnya anak-anaknya merasakan kedekatan dengan ayahnya meski secara kuantitas sebenarnya tidak sebanyak keluarga yang ayahnya bekerja dari rumah.

Ada beberapa teknik self therapy yang bisa dilakukan untuk meng-edit program di dalam pikiran bawah sadar ini. Aku bersyukur aku belajar banyak dari Pak Adi.

Keterangan gambar: Foto bersama Sherine, keponakanku. Kami jarang ketemu, paling setahun 2 kali. Tapi setiap ketemu selalu kuusahakan memasukkan kenangan-kenangan yang sangat menyenangkan dalam ingatannya. Sekarang umurnya 4 tahun dan sangat dekat dengan aku dan istriku.

Kebohongan

Satu kebohongan akan berbuah kebohongan lain untuk menutupinya. Lalu lagi, lagi dan lagi, semua untuk terus menutupi kebohongan yang kian menumpuk. Jujur adalah awal dari pembebasan. Kejujuran memutus rantai kebohongan. Barangkali pahit dan sakit, tapi hanya itu satu-satunya jalan untuk kembali mendapatkan kedamaian.