What’s Your Why?

Belum pernah ada petinju yang dipukul jatuh oleh Mike Tyson lalu bangun lagi. Tapi Buster Douglas melakukannya. Ia bangkit, bahkan ia akhirnya memukul KO Mike Tyson. Kok bisa? Karena ia punya alasan yang sangat kuat untuk menang. Sekarang giliranmu. Temukan alasanmu untuk menjadi pemenang dalam hidup.

“He who has a why to live for can bear almost any how.”

 ~ Friedrich Nietzsche ~

Distraction

jurrasic park

Salah satu alasan mengapa kita selalu menunda hal yang penting adalah karena waktu kita penuh dengan hal yang tidak penting.

~ Tung Desem Waringin

Akhir-akhir ini banyak distraction yang cukup mengganggu. Facebook semakin riuh rendah dan seperti tidak berhenti membahas isu-isu yang silih berganti. Sejak Pemilu 2014, topik politik terus saja tidak berhenti bergaung di dunia maya. Munculnya para hater ababil yang kayak gak pernah kehabisan energi menjelek-jelekkan pemerintah, akhirnya memancing para orang-orang pinter untuk ikut bersuara melawan kebodohan. Bagus sih, untuk pembelajaran masyarakat. Fitnah ditebar, kebenaran diungkapkan, masyarakat belajar. Tapi ya karena tidak pernah berhenti, lama-lama pusing sendiri bacanya.

Tambah lagi tingkah polah para politisi yang gak berhenti bikin kontroversi. Gerombolan raksasa yang terus bikin onar, mulai foto bareng capres rasis Amerika, sampe dagelan Mahkamah Kehormatan Dewan dalam kasus Papa Minta Saham.

Lalu ada isu-isu minor seperti isu LGBT yang memancing banyak orang berpendapat, termasuk orang-orang yang tidak kompeten di bidang itu. Lalu heboh status bego Tere Liye, novelis roman yang sok bicara sejarah padahal jadi kelihatan gak tau sejarah.

Bla bla bla bla, gak rampung-rampung rasanya. Pemilu sudah tahun 2014, tahu-tahu sekarang sudah 2016. Rasanya dua tahun terbuang sia-sia ter-distract oleh Facebook.

Selain Facebook, distraction lainnya adalah game. Sejak kemunculannya, aku seperti terbius oleh game Path of Exile. Game bergenre ARPG ini awalnya hanya untuk pelarian kalau sedang stress karena kerjaan. Lama-lama kok ya mengganggu, sampai kerjaan keteter karena terlalu asyik main game. Padahal tentu saja ada hal yang lebih penting dari sekedar achievement di game. Real life achievement jelas jauh lebih penting.

Selain itu ada distraction lagi, tapi itu gak usah diomongin lah ya. NSFW 😀

Intinya, kita perlu tahu bahwa ada hal yang penting dan yang tidak penting. Nah lalu ada hal yang mendesak dan tidak mendesak. Mana yang harus didahulukan? Apakah yang penting dan mendesak? Salah. Kenapa? Klik di sini untuk tahu jawabannya.

f9d9bef1a6b57d379bad2346819bcc0a.jpg

Belajar Melepas Kemelekatan pada Uang

uang

Esensi ke-tidak-melekat-an bukan dengan tidak memiliki apa-apa, tapi justru pada apapun yang kita miliki tidak memiliki kita. (Adi W Gunawan​)

Bukan uang yang menjadi akar kejahatan, tapi cinta akan uang. Kemelekatan pada harta, meletakkan cinta pada harta, itulah yang membutakan mata hati. Cinta seharusnya ditujukan pada manusia, dan pada Tuhan dalam diri setiap manusia yang kita kenal. Uang adalah salah satu sarana untuk menyatakan cinta itu. Selain cinta, hal-hal yang penting sebagai sarana perwujudan cinta adalah kata-kata yang membangun, sentuhan, pelukan hangat, tindakan melayani dan waktu kebersamaan. Hal-hal yang kita lupakan kalau hati kita melekat pada uang.

Kemelekatan pada uang bukan hanya karena kita memiliki banyak uang. Bahkan kemiskinan bisa membuat orang juga melekat pada uang. Bukan kemiskinan secara finansial, melainkan secara mental. Tidak peduli kita punya uang banyak atau sedikit, kalau hati kita miskin cinta kasih kita akan melekat pada uang. Dari situ kita akan melakukan hal apapun demi uang. Yang punya akses akan menjadi koruptor, yang tidak punya akses akan menjadi maling motor. Dua-duanya sama-sama karena cinta uang.

Bagaimana melepaskan diri dari kemelekatan pada uang? Kita harus belajar melepaskan.

  1. Hanya membeli barang-barang yang kita butuhkan, bukan kita inginkan. Belajar melepaskan keinginan.
  2. Menabung. Belajar memahami fungsi uang bukan untuk dihabiskan tapi untuk disimpan sewaktu-waktu dibutuhkan. Ada orang yang memaksa diri menabung dalam bentuk properti namun secara kredit/hutang yang dicicil tiap bulan. Ini bukan menabung tapi terpaksa menabung karena kalau pegang uang cash selalu habis entah ke mana. Orang semacam ini memiliki masalah mindset tentang uang. Biasanya timbul pada orang-orang yang percaya bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan. Ketakutan dalam pikiran mereka yang membuat mereka selalu melepas uang yang susah payah didapatkan.
  3. Membeli cash, bukan kredit untuk barang-barang sekunder. Belajar memahami bahwa barang-barang sekunder adalah hanya sekedar reward atas kerja keras kita, tidak boleh membebani cashflow harian/bulanan kita.
  4. Bersedekah. Memberi adalah bukti bahwa kita tidak melekat pada uang. Memberi adalah melepaskan keterikatan kita pada uang. Belajar memahami bahwa uang hanyalah alat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi orang lain juga.

Selamat pagi. Selamat menjemput rejeki.

Apa Arti Hidup Ini?

This is beautiful. Seorang anak berumur 6 ¾ tahun (itu yang dia bilang :D) bertanya pada Neil deGrasse Tyson, seorang ilmuwan populer, sebuah pertanyaan yang jarang ditanyakan oleh orang dewasa, namun sekali ditanyakan akan mengubah hidup dan cara pandang si penanya tentang kehidupan: Apa sih arti hidup ini? Apa sih makna kehidupan ini? Dan Neil deGrasse Tyson menjawabnya dengan sangat indah, dalam namun sederhana. Saya belum punya waktu luang untuk menuliskan kembali dan menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia, tapi semoga anda mengerti sedikit bahasa Inggris sehingga bisa memahami apa yang Neil katakan dalam video ini. Tontonlah! 🙂