in Catatan Ulang Tahun, Pribadi

Tahun-tahun yang berlalu tidak akan bisa kembali. Bahkan detik yang sudah terjadi tak lagi bisa dijalani.

Kadang ada hal besar dalam hidup yang harus diputuskan. Karena hidup tanpa tujuan bukanlah sebuah pilihan. Hidup harus diarahkan, karena biduk tak lagi dikayuh sendirian.

Ada cinta yang harus disemai, ada hati yang harus dibelai. Karenanya hidup tak bisa cuma berandai-andai.

Kerja keras barangkali memang tidak diajarkan, pun kadang tidak dicontohkan. Tapi kerja keras itu karakter, dan karakter memang harus secara sadar ditentukan. Dipilih, dipilah lalu diasah.

Keraguan kadang membayangi, ketakutan kadang menguasai. Tapi justru di situlah keberanian itu diuji.

Masa depan memang tanpa jaminan, seperti berlayar di gelap malam di tengah kabut yang menghadang. Ke mana arah tujuan bila mata tak lagi mampu memandang? Berhentilah barang sejenak, berdoa mengumpulkan keberanian, mematahkan ketakutan, sambil menunggu mentari terbit di ufuk pagi. Karena gelap tak selamanya gelap, karena mentari selalu setia menyapa hari.

Kadang awan kelam dan badai menghantam. Bertahanlah, karena tak ada badai yang tak berkesudahan.

Kadang lelah menerpa, lelah raga serta lelah jiwa. Berbaringlah menengadah, pejamkan mata lalu ingatlah, apa yang dulu membuatmu pertama kali melangkah. Apakah harta? Atau tahta? Atau wanita yang kini duduk bersamamu di biduk cinta? Ataukah petualangan, yang membuat semangatmu menjulang dan layarmu mengembang? Jatuh bangun lagi! Jatuh bangun lagi! Tenggelam bangkit lagi! Tenggelam bangkit lagi!

Barangkali kamu berpikir bahwa wanitamu itu alasanmu untuk bertahan. Tapi pernahkah kamu berpikir, bahwa barangkali wanitamu itu malaikat kiriman Tuhan untuk menjagamu supaya tetap bertahan?

Barangkali Tuhan dan agama bagimu adalah absurditas yang tak bisa diverifikasi kebenarannya. Tapi bukankah lebih menyenangkan bertualang mengarungi samudra nan menantang, bukan cuma untuk melatih diri menghadapi badai dan menghindari karang melainkan untuk bertemu sang kekasih pujaan di akhir perjalanan?

Ada awal dari semuanya, ada akhir untuk semuanya. Ketika kamu mengakhiri semuanya, apa yang akan kaukatakan pada dirimu sendiri? Sebagian orang tidak mengatakan apapun karena memang tidak punya kisah yang bisa diceritakan. Sebagian lagi memandang nanar masa lalunya dengan penuh penyesalan. Sebagian menyesal karena melakukan sesuatu kesalahan, sebagian lagi menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan seandainya mereka punya cukup keberanian.

Tapi kamu, kamu harus memandang masa lalumu dengan penuh syukur. Syukur karena melakukan sesuatu yang benar, syukur karena melakukan sesuatu dengan penuh keberanian, syukur karena mengakhiri petualanganmu dengan penuh kemenangan.

Selamat ulang tahun, diriku. You are a soul inside a human body. You are unlimited. You are awesome!

Leave a Reply