in Catatan Ulang Tahun, Pribadi

Beberapa hari sebelum hari ulang tahunku yang ke-32 akhir bulan Maret lalu, istriku berkata, “Wah suamiku mau ulang tahun e. Kamu pengen apa, sayang?”

Jujur saja aku tak punya keinginan apapun untuk merayakan hari ulang tahunku. Selain karena aku sedang fokus untuk launching proyek properti perdanaku, aku sudah tak lagi terbiasa dengan segala macam perayaan, pesta dan semacamnya. Semakin meningkatnya kesadaranku terhadap waktu membuatku tahu bahwa segala macam perayaan itu adalah permainan emosi semata. Kita merasa sudah melakukan sesuatu ketika kita merayakan Natal, Paskah, hari ulang tahun, dsb. Padahal yang benar-benar berharga adalah keseharian kita, hidup kita saat ini, detik demi detik, hari demi hari. Merayakan hidup adalah merayakan kesadaran kita untuk hidup di saat ini, bukan mengenang masa lalu. Kalaupun ada yang harus diberi selamat pada peringatan hari ulang tahun, itu bukanlah diri kita. Apa yang patut dirayakan dari mak ceprot lahir ke dunia tanpa usaha? šŸ˜€ Yang perlu dipeluk diucapi selamat adalah ibu kita, yang dulu pada tanggal itu melahirkan kita sampai mungkin bertaruh nyawa demi kelahiran kita. Itulah yang patut untuk dibanggakan dan diberi ucapan selamat.

“Wah suamiku mau ulang tahun e. Kamu pengen apa, sayang?”

“Aku gak pengen apa-apa. Aku udah gak terbiasa merayakan ulang tahun. Karena setiap hari layak untuk kita syukuri. Karena setiap hari layak untuk kita rayakan.”

Leave a Reply