Obituari: Pak Muel (Joslin Edison Aprianto Sianipar)

Sudah sejak lama aku mengamati bahwa seringkali di daerah yang berdekatan, pesta pernikahan dibarengi oleh lelayu/kematian. Awal minggu lalu aku ke Jogja. Di perjalanan aku melihat satu bendera putih lelayu, kemudian ada dua atau tiga tenda berhias janur kuning tanda ada pesta pernikahan. Dulu aku sempat bertanya apakah memang ada hubungannya orang menikah dengan orang meninggal. Mengapa -hampir- setiap ada orang menikah, tidak jauh dari situ -hampir- selalu ada orang yang meninggal. Namun karena data yang tidak lengkap dan sulit divalidasi, maka akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa orang menikah itu biasanya di bulan-bulan yang sama dengan bulan pergantian musim di mana banyak orang berusia lanjut yang fisiknya tidak cukup bagus menghadapi perubahan cuaca dan udara akhirnya fisiknya kalah dan akhirnya meninggal. Itu saja kesimpulanku. Sampai hari Jumat minggu lalu…

Kabar mengejutkan itu disampaikan oleh ibuku. “Bapak Samuel kecelakaan, ditabrak truk. Sekarang sedang di rumah sakit. Bapak sudah di sana.” Bapak Samuel, atau sering kupanggil Pak Muel, adalah saudaraku sesama marga Sianipar. Aku tak begitu paham silsilah dan aturan tata keluarga Batak, tapi Pak Muel yang berumur 47 tahun memanggilku dengan sebutan Abang.

Tanpa menunda aku segera meluncur ke RSUD Purworejo. Aku khawatir Pak Muel tidak ditangani. Beberapa pengalaman buruk dengan RSUD Purworejo membuatku berpikir bahwa Pak Muel tidak segera ditangani kalau tidak ada keluarga dekat yang mau menjadi penanggungjawabnya.

Sampai di rumah sakit, Bapakku bilang beliau belum boleh melihat kondisi Pak Muel. Harus keluarga terdekatnya. Beberapa saat kemudian Namboru datang. Karena beliau adalah orang kesehatan, beliau kenal dengan para perawat di situ. Beliaulah orang pertama yang diijinkan melihat kondisi Pak Muel.

Hanya menengok sebentar ke dalam ruangan IGD, Namboru keluar dan langsung menghampiriku yang berdiri di depan pintu lapis kedua yang terpisah satu ruangan dengan ruang IGD tempat Pak Muel berada. “Ber, kalau kamu kuat lihat darahnya, silakan lihat. Tapi kalau kamu gak kuat, jangan.” Dadaku berdebar, aku hanya menjawab dengan menggelengkan kepala. Aku sudah membayangkan situasi terburuknya, dan itu sangat tidak nyaman. Kalaupun yang terburuk yang terjadi, aku ingin mengenang Pak Muel dalam kondisi seperti terakhir kali kami bertemu. Gemuk, ceria dan ramah.

Setelah Namboru keluar, Bapakku memaksa untuk masuk melihat kondisi Pak Muel. Hanya sebentar, Bapak keluar lagi sambil menahan tangis. Bapak lalu menelpon Mama, “Anake wis ra ono…”

Dadaku sesak, tapi tak ada air mata yang keluar sama sekali. Bahkan ketika istrinya datang bersama kedua anaknya yang masih kecil. Samuel, anak pertamanya, masih duduk di kelas dua SD. Juwan, adiknya, baru TK kecil. Aku tidak menangis ketika Mamak Samuel menangis histeris di depan ruang IGD setelah sebentar mengintip kondisi suaminya yang begitu mengenaskan terbujur tak bernyawa di ruang IGD. Tak perlu lah kuceritakan bagaimana kondisinya. Bayangkan saja bagaimana orang naik motor tertabrak dan tergilas oleh dump truck bermuatan pasir, terseret sampai ke tepi jalan. Untung saja wajahnya masih utuh dan hanya luka sobek di pelipisnya. Aku tidak menangis ketika akhirnya aku melihat kondisi tubuh Pak Muel di ruang jenazah. Aku bahkan menungguinya ketika para petugas perawat jenazah memandikannya hingga memakaikannya pakaian jas meski darah tak berhenti keluar dari telinganya.

Jumat sore itu aku, Bapak dan beberapa orang Batak yang sudah berkumpul di gedung rawat jenazah RSUD Purworejo berupaya mencarikan formalin karena jenazah akan dibawa pulang ke kampung halamannya di Kisaran, Sumatera Utara. Setelah menelpon ke sana kemari, akhirnya ketemu rumah sakit yang bisa melayani suntik formalin di RS Palang Biru Kutoarjo. Malam itu di RS Palang Biru, Samuel, anak sulungnya, baru sadar bahwa Bapaknya sudah meninggal. Ia menangis pilu menyayat hati orang-orang yang mendengarnya. “Gak ada lagi yang main sama aku…” Air mataku tetap tak menetes meski dadaku makin sesak. Aku hanya bisa memeluk istriku yang juga menahan tangisnya.

Malam itu jenazah dibawa ke rumahnya. Keluarga sudah mulai berdatangan, termasuk orangtua Mamak Samuel dari Banjarnegara. Malam itu juga aku, Bapak dan istriku berupaya mencarikan cara membawa jenazah lewat jalur udara. Aku bersyukur banyak pihak yang membantu. Aku bersyukur terlahir di keluarga Batak yang meski baru ketemu sekali dua kali, tapi sudah seperti keluarga jauh yang lama tak bertemu. Dengan bantuan mereka, malam itu juga kami terhubung dengan pihak Yayasan Kematian PUKJ Yogyakarta yang biasa mengurus pengiriman jenazah lewat udara. Jam 12 malam aku mengirim data-data yang dibutuhkan via email, jam 5 pagi kami sudah tiba di PUKJ Yogyakarta bersama ambulan jenazah dan rombongan pengantar. Jam 6 pagi kami sudah di bandara, jam 7 pagi jenazah sudah masuk pesawat siap terbang. Aku masih menunggu Mamak Samuel, anak-anaknya dan kedua orangtuanya check in jam 9 pagi sebelum aku akhirnya pamit pulang. Aku sama sekali tidak menangis karena aku sadar bahwa semua orang pasti mati. Sampai tadi pagi…

Sebuah mobil putih berhenti di depan rumahku. Rupanya beberapa keluarga datang bersama pihak Jasa Raharja untuk mengurus asuransi jiwa Pak Muel. Mobil Toyota Rush berwarna putih dengan tulisan besar Purbaraja di kaca belakang, merujuk pada garis keturunan marganya, Sianipar Purbaraja. Di kaca depan tertulis “Anak Medan.” Mobil milik Pak Muel, yang sering dipakainya kalau datang ke rumahku bersama keluarganya. Aku tak lagi bisa menahan tangisku. Aku menangis di pelukan istriku, mengingat semua tentang Pak Muel.

Aku ingat Pak Muel adalah orang yang meminjamkan mobilnya untukku latihan nyetir. Mobil Toyota Avanza yang belum lama dibelinya dari hasil kerjanya. Ketika Bapakku harus menjalani operasi usus buntu parah di Jogja, ia juga meminjami mobil yang lain. Juga ketika menjemput Bapak dari rumah sakit, ia bahkan meminjamkan mobil Daihatsu Terios hitamnya yang baru dibelinya.

Aku ingat setiap kali Pak Muel datang ke rumahku untuk menantang Bapakku bermain catur, kalau melihatku ia langsung mengangkat tangannya menyapaku, “Bang !” sambil memasang senyum khasnya yang membuat matanya jadi sipit.

Aku ingat cerita-cerita Bapakku bagaimana jelinya Pak Muel melihat peluang bisnis. Aku ingat bagaimana ia begitu menyayangi keluarganya. Aku ingat terakhir kali ia mengajak keluargaku jalan-jalan ke pantai bersama keluarganya untuk sekedar makan bersama dan berekreasi.

Aku ingat polahnya yang seringkali lucu. Kalau main catur melawan Bapakku, kadang kalau ia sudah kalah banyak di partai terakhir ia gak mau bayar taruhannya. Tapi bapakku sudah maklum dan hanya tertawa saja. Aku sebenarnya heran mengapa ia tidak kapok bermain catur melawan bapakku. Padahal dari 100 partai, ia paling hanya menang sekali dua kali saja. Pernah aku menanyakan hal itu pada Bapakku. Ternyata, meski melawan Bapakku nyaris selalu kalah, Pak Muel di wilayahnya jadi jagoan. Rupanya ia menantang Bapakku untuk mencuri ilmu catur dari permainan Bapakku. Bahkan Bapakku pernah bilang permainan catur Pak Muel sudah banyak peningkatan. Beberapa kali Bapakku dibuat nyaris kalah oleh strategi Pak Muel. Jadi ternyata kekalahan taruhan melawan bapakku dianggapnya sebagai modal belajar supaya menang melawan orang-orang lain. Kini Bapakku sedih setiap kali melihat papan catur yang biasa dipakai bermain catur dengan Pak Muel. Bapakku bilang papan catur itu mau disumbangkan saja ke Kemuning, tempat tongkrongan orang-orang yang suka bermain catur di daerahku. Bapakku ingin menangis setiap ingat bermain catur dengan Pak Muel.

Aku menghabiskan air mataku mengenang Pak Muel. Bahkan aku masih ingin menangis tiap kali mengingat tragisnya kematiannya. Aku paham setiap orang pasti mati, tapi kenapa harus setragis itu aku tidak paham. Entahlah, setelah sekian banyak pertanyaan terjawab, kehidupan masih menyisakan misteri yang belum bisa kupahami. Mungkin suatu saat.

Selamat jalan Pak Muel. Aku masih tak percaya sudah tak ada lagi yang datang menyapaku ramah, “Bang! Mana Pak Tua?”