Pause

Kadang pengen banget ada tombol pause untuk beberapa pekerjaan, biar bisa fokus ke salah satu bidang dulu.

Don’t build half bridges, kata orang. Build one bridge at a time, finish it so it takes you from A to B. Then build another bridge to take you from B to C. Then another, then another.

Sekarang ketika semua pekerjaan bertumpuk mengantri minta diselesaikan, rasanya pengen teriak, “Faaaaaaaak !”

When I See You Smile

Sometimes I wanna give up
I wanna give in
I wanna quit the fight
And then I see you, baby
And everything’s alright
Everything’s alright

When I see you smile
I can face the world, oh oh
You know I can do anything
When I see you smile
I see a ray of light, oh oh
I see it shining right through the rain

When I see you smile
Baby, when I see you smile at me, oh yeah

Limited Time

Salah satu kriteria memilih bisnis adalah ketersediaan waktu kita untuk mengelolanya secara maksimal untuk menghasilkan profit secara optimal. Misalkan kita memilih bisnis jadi developer properti. Artinya kita harus tahu konsekuensi menjadi developer properti adalah konsisten untuk terus berburu lahan setiap hari, sambil menjalankan proyek yang sudah berjalan, dan tetap punya waktu untuk keluarga. Kalau kita tidak full time terjun di situ ya agak repot. Misalnya Continue reading

Make Up Your Mind

Pilihan banyak, tapi kalau kita tidak memilih akhirnya kita tidak akan maksimal. Atau kita memilih semuanya, lebih banyak dari yang bisa kita handle, akhirnya juga tidak maksimal juga.

Tentukan satu, dua, tiga pilihan, tekuni sampai menghasilkan.

Fokus

Setelah mencoret game dari daftar kebiasaan, sudah langsung keliatan hasilnya bisa lebih fokus ke kerjaan baru. Sekarang mau coret satu kebiasaan lagi, cuman harus ada pola penggantinya supaya tidak kembali ke kebiasaan lama. Sedang dipikirkan, kalau perlu dibicarakan berdua supaya sama-sama enak 😀

Kekuatan yang Menggerakkan Kehidupan

Untuk ke sekian kalinya denger cerita tentang orang desa yang santai mancing dan orang kota yang kaya yang juga mau mancing. Bla bla bla, karena cerita itu lalu suatu saat di suatu titik kehidupan, saya sampai pada kesimpulan, “Kalau semua orang pada akhirnya mati, kenapa kita harus hidup?”

Untungnya seorang ilmuwan menyadarkan saya, bahwa banyak orang seringkali menganggap bahwa makna hidup, tujuan hidup, alasan mengapa kita hidup, itu adalah sesuatu yang sudah ada dan tersembunyi sehingga harus kita cari dan temukan. Hanya sedikit orang yang berpikir bahwa barangkali hal itu bukan sesuatu yang sudah ada lalu kita cari dan temukan, melainkan sesuatu yang bisa kita ciptakan sendiri.

Lalu suatu kenangan membawa sepotong ayat Alkitab ke pikiran saya, bahwa manusia diciptakan serupa dengan Tuhan. Karena itulah manusia tidak hanya menjadi ciptaan melainkan juga menjadi pencipta. Tidak hanya mencipta hal-hal di luar diri tetapi juga hal-hal di dalam diri.

Lalu kenangan lain membawa sepotong kalimat dari seorang pembelajar kehidupan, bahwa kita harus belajar mengendalikan emosi kita. Kalau tidak, maka hidup kita akan dikendalikan oleh emosi kita. Dan bagi sebagian orang yang belajar tentang emosi, mengendalikan emosi orang lain itu sesuatu yang tidak sulit. Pengetahuan tentang itu bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang baik maupun tujuan yang jahat.

Eh, anda tahu persamaan Ahok dan Jonru? Keduanya sama-sama digerakkan oleh emosi. Ahok sekian tahun lalu emosi karena pabriknya dibuat tutup oleh para pejabat bermoral bengkok, sedangkan Jonru sekian tahun lalu emosi karena perasaan superioritasnya sebagai anggota partai dakwah hancur setelah calon gubernur partainya kalah dari cagub PDIP, partai yang dianggap memusuhi ideologi PKS. Berlanjut ke pilpres, kalah lagi oleh PDIP lagi.

Emosi bisa bikin akal anda sehat, tapi bisa juga bikin anda kehilangan akal sehat. Karena itu hati-hatilah dengan emosi anda.

Refreshing

Pengen refreshing in between tasks, apa aja ya pilihannya? Dulu suka main game, tapi ternyata terlalu banyak makan waktu. Alasannya cuman bentar, tahu-tahu udah tengah malam.

Being too productive can be exhausting sometimes. Nah katanya, yang bagus itu kerja maksimal sekian jam gitu (empat ato berapa gitu saya lupa) diselingi istirahat/refreshing selama sekitar 15 menit. Nah kira-kira apa aja ya pilihan refreshing 15 menit itu?

  1. Tidur. Pilihan yang cukup bagus, kalau pakai teknik tidur otak alias relaksasi pikiran. Kalau tidur fisik butuh waktu lebih lama. Nah relaksasi pikiran 15 menit sudah cukup untuk recharging aki fisik dan psikis.
  2. Membaca. Pilihan bagus, tapi kalo bacaannya berat ya sama aja 😀 Barangkali berguna kalau membaca sesuatu yang sama sekali berbeda dengan bidang yang sedang difokuskan. Misalnya tentang budaya, atau wisata, atau wanita. 😀
  3. Nonton video. Bisa film, TV, atau Youtube dan sebangsanya. Menarik sih, tapi sepertinya 15 menit bakal berasa kurang.
  4. Bercinta. Pilihan mantap! Sayangnya perlu bantuan istri, sementara istri tidak bisa diajak bercinta tiap 4 jam 😀 Jangankan tiap jam, tiap hari pun tidak bisa. Kata dokter harus dikasih jarak 2-3 hari biar spermanya matang dulu 😀
  5. Menulis. Pilihan menarik. Sayangnya kalau sudah asyik menulis, butuh waktu setidaknya 1-3 jam untuk menghasilkan tulisan yang memuaskan. Alternatifnya barangkali menulis hal-hal ringan di blog. Tantangannya, yang ringan kadang jadi berat kalau sudah berkaitan tentang perenungan kehidupan. Mau nulis cerita panas takut jadi pengen bercinta 😀
  6. Ngelamun. Alah palingan ngelamun jorok 😀

Sepertinya dari pilihan di atas, alternatif yang paling menarik dan berguna adalah alternatif pertama. Relaksasi pikiran. Jadi inget kata-kata Pak Adi W. Gunawan, kalau kamu sedang tidak sibuk, ambillah waktu setengah jam setiap hari untuk relaksasi pikiran. Kalau kamu sedang sangat sibuk, satu jam.

Plus sepertinya relaksasi pikiran bisa dimanfaatkan untuk terapi Ego Personality.

Okesip.