Signs

Baca postingan blognya Pak Roni Yuzirman, sepertinya relevan dengan apa yang sedang kualami. Ada beberapa tanda yang kudapat dalam perjalananku mencapai impian. Let’s see.

Sekitar dua minggu lalu ketemu temen SMA di Jodo. Ngobrol-ngobrol, ternyata suaminya adalah developer properti juga di Purworejo, dan menawarkan untuk membantu menjualkan properti daganganku. Oh wow. How stupid I am kalau tidak kuterima tawarannya.

Kemaren, PPh Final dan BPHTB turun jadi total 1,5% untuk DIRE (Dana Investasi Real Estate). Entah apa itu, tapi terdengar bagus untuk pebisnis properti dan yang baru beli properti.

Tadi pagi nonton Metro Bisnis, ada pengusaha tour and travel online Alfafa yang pake segala macem ilmu marketing revolution-nya Pak Tung Desem Waringin. Keren.

Byuh apalagi ya. Signs, kalau tidak dicatat begini, seringnya dilupakan dan tidak termanfaatkan.

Pilihan Bisnis

Sekian tahun mencoba belajar tentang dunia bisnis, akhirnya memang harus menentukan syarat bisnis yang mau dijalani. Karena tidak semua bisnis itu sama, dan tidak semua bisnis cocok untuk semua orang. Belajar dari Pak Adi W. Gunawan yang menentukan syarat untuk bisnis yang mau ditekuninya, aku juga mau menentukan seperti apa bisnis yang ingin kutekuni dan kukembangkan.

  1. Ngurusin produksi itu capek. Banyak detail pekerjaan yang harus diperhatikan. Akhirnya kapasitas produksi terbatas pada kemampuan fisikku. Tapi aku pernah dalam satu masa orderan banyak namun tidak merasa capek. Aku cuma menghandle beberapa bagian persiapan kerjaan, selanjutnya sampai finishing dikerjakan oleh karyawan. Aku kebagian kerja lagi di bagian quality control. Tentu saja aku harus memastikan barang produksiku sesuai standar kualitasku, demi menjaga tingkat kepuasan konsumen. Kuncinya ternyata memang harus punya karyawan, harus punya tim. Jadi syarat pertama bisnis yang ingin kutekuni adalah harus menggunakan sesedikit mungkin tenaga fisikku. Mayoritas harus dihandle oleh karyawan, sehingga aku punya banyak waktu untuk berpikir, merancang dan mempromosikan daganganku.
  2. Jualan barang fast moving itu lebih menyenangkan dalam hal kontinuitas pekerjaan. Aku sedang mencoba menjalankan bisnis properti tapi duitnya tidak datang tiap hari seperti bisnis harianku. Ya emang sekali laku untungnya gede, tapi aku masih belum dapet feelnya. Belum lagi kapitalisasi modalnya besar, jadi rasanya sumber daya sudah tersedot duluan sebelum mulai mendulang laba. Fine-fine saja sih sebenarnya. Barangkali memang harus punya bisnis harian di samping bisnis bulanan atau tahunan. Jadi syarat ke-dua bisnis yang ingin kutekuni adalah, harus mendatangkan laba harian atau setidaknya mingguan.
  3. Punya bisnis kecil itu kembang kempis. Kalo pas rame ya seneng, kalo pas sepi pusing. Apalagi tagihan jalan terus 😀 Saat ini rata-rata laba bersih bisnisku per bulan masih di kisaran low 8 digit. Itupun ada bulan-bulan rame dan ada bulan-bulan sepi. Aku ingin income yang stabil dan cukup besar untuk kebutuhan hidup keluarga. Jadi syarat ke-tiga bisnis yang ingin kutekuni adalah punya potensi laba bersih di kisaran Rp. 50-100 juta/bulan. Jadi sesepi-sepinya penjualan masih bisa ngantongi Rp. 50 juta sebulan kan masih lumayan.
  4. Salah satu alasan aku terjun ke dunia bisnis adalah agar aku bisa selalu dekat dengan keluargaku. Trauma masa laluku punya Bapak yang kerja jauh dari keluarga bikin aku ingin selalu dekat dengan keluargaku. Aku juga tidak ingin kerja kantoran yang berangkat tiap hari jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Mana tahan 😀 Aku pengen punya waktu yang cukup untuk beraktivitas bersama keluargaku. Masak bareng istri, maen sama anak, jalan-jalan, dll. Karena itu syarat ke-empat bisnis yang ingin kutekuni adalah bisnis itu harus memberiku waktu luang yang cukup supaya aku bisa menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluargaku. Barangkali butuh waktu untuk set up, tapi begitu bisnisnya sudah jalan aku bisa jalan-jalan sama keluargaku. Kalaupun harus fokus kerja harian, cukuplah kira-kira tiga jam per hari fokus ngurusi kerjaan. Sisanya bisa disambi momong 🙂

Sementara segitu dulu yang terbayang.

Nah dari ke-empat syarat itu barulah aku cari bisnis yang cocok. Saat ini yang sudah ada yaitu bisnis harianku produksi atribut seragam dan bisnis propertiku yang baru satu lokasi. Dua-duanya belum memenuhi empat syarat di atas 😀 Tapi tidak apa-apa. Namanya proses, dinikmati saja. Sebenarnya bisnis harianku yang sekarang kalau sudah dapat tim yang bagus bisa lah memenuhi ke-empat syarat tadi. Kalau punya tim kerja yang cakap, aku punya cukup waktu untuk memperbaiki sisi marketingnya. Dan dengan scale up dan scale out yang tepat, profit 9 digit per bulan adalah sebuah keniscayaan. Cuman ternyata tidak gampang cari karyawan yang tekun, kerjaannya rapi dan gaya hidupnya sederhana. Pernah punya karyawan yang kerjanya bagus, ngerasa gajinya cukup trus langsung kredit motor baru. Yasalam gajinya kepotong 600ribu per bulan buat cicilan motor. Blom lagi ongkos bensin, biaya pacaran, bla bla bla. Mana jadi telat tiap hari katanya nganter mamaknya ke pasar. Byuh. Akhirnya resign sendiri karena malu sering telat n bolos. Pernah juga punya karyawan tekun, tapi kecil hati. Ditegur karena kualitas pekerjaan yang masih di bawah standarku, eh besoknya resign. Yawdah. Pernah juga punya karyawan sederhana, eh tiba-tiba suatu hari korslet kayak orang sakit jiwa. Ternyata memang dia punya banyak masalah keluarga. Hadeh.

Eh tapi pengalaman punya berbagai macam tipe karyawan itu bagus lho. Aku jadi belajar memperlakukan karyawan dengan lebih baik, mengendalikan emosiku dengan lebih baik, bicara dengan lebih baik, dll. Yang kuamati sekarang, kalau karyawan masih muda mereka tidak cuma butuh pekerjaan tapi juga aktualisasi diri. Makanya keinginannya banyak. Kalau karyawan yang sudah berkeluarga, biasanya lebih bisa irit. Tapi kadang kasihan juga karena UMR itu menurutku hanya cukup untuk hidup seorang diri alias bujangan. Kalau sudah berkeluarga, pasangannya tidak bekerja, gajinya jadi kurang. Solusinya memang kalau ada keluarga yang hidup dengan gaji UMR, suami istri harus kerja semua. Apalagi kalau anaknya tidak cuma satu dan masih usia sekolah. Kalau yang bekerja hanya suaminya, dia harus kerja di level manajemen atau marketing yang potensi pendapatannya dua kali UMR. Solusi lainnya, dia harus jadi partner produksi yang potensi pendapatannya 2,5 sampai 3 kali UMR. Dengan jadi partner, berarti dia sudah jadi pengusaha sendiri meski orderan masih bergantung pada kita.

Pilihan bisnis yang lain, aku sedang menjajaki bisnis baru yang sepertinya memenuhi empat syarat bisnisku tadi. Tantangannya adalah aku harus belajar banyak tentang periklanan. Dan karena lingkup bisnisnya adalah internasional, mau tidak mau aku harus belajar tentang bahasa dan budaya orang luar negeri. Untungnya aku dapet mentor yang sudah berhasil di bisnis itu. Besok dah kalo aku sudah dapat Rp. 50 juta/bulan atau lebih dari bisnis itu, aku banyak share di sini. Doakan ya 🙂

33

Tahun-tahun yang berlalu tidak akan bisa kembali. Bahkan detik yang sudah terjadi tak lagi bisa dijalani.

Kadang ada hal besar dalam hidup yang harus diputuskan. Karena hidup tanpa tujuan bukanlah sebuah pilihan. Hidup harus diarahkan, karena biduk tak lagi dikayuh sendirian.

Ada cinta yang harus disemai, ada hati yang harus dibelai. Karenanya hidup tak bisa cuma berandai-andai.

Kerja keras barangkali memang tidak diajarkan, pun kadang tidak dicontohkan. Tapi kerja keras itu karakter, dan karakter memang harus secara sadar ditentukan. Dipilih, dipilah lalu diasah.

Keraguan kadang membayangi, ketakutan kadang menguasai. Tapi justru di situlah keberanian itu diuji.

Masa depan memang tanpa jaminan, seperti berlayar di gelap malam di tengah kabut yang menghadang. Ke mana arah tujuan bila mata tak lagi mampu memandang? Berhentilah barang sejenak, berdoa mengumpulkan keberanian, mematahkan ketakutan, sambil menunggu mentari terbit di ufuk pagi. Karena gelap tak selamanya gelap, karena mentari selalu setia menyapa hari.

Kadang awan kelam dan badai menghantam. Bertahanlah, karena tak ada badai yang tak berkesudahan.

Kadang lelah menerpa, lelah raga serta lelah jiwa. Berbaringlah menengadah, pejamkan mata lalu ingatlah, apa yang dulu membuatmu pertama kali melangkah. Apakah harta? Atau tahta? Atau wanita yang kini duduk bersamamu di biduk cinta? Ataukah petualangan, yang membuat semangatmu menjulang dan layarmu mengembang? Jatuh bangun lagi! Jatuh bangun lagi! Tenggelam bangkit lagi! Tenggelam bangkit lagi!

Barangkali kamu berpikir bahwa wanitamu itu alasanmu untuk bertahan. Tapi pernahkah kamu berpikir, bahwa barangkali wanitamu itu malaikat kiriman Tuhan untuk menjagamu supaya tetap bertahan?

Barangkali Tuhan dan agama bagimu adalah absurditas yang tak bisa diverifikasi kebenarannya. Tapi bukankah lebih menyenangkan bertualang mengarungi samudra nan menantang, bukan cuma untuk melatih diri menghadapi badai dan menghindari karang melainkan untuk bertemu sang kekasih pujaan di akhir perjalanan?

Ada awal dari semuanya, ada akhir untuk semuanya. Ketika kamu mengakhiri semuanya, apa yang akan kaukatakan pada dirimu sendiri? Sebagian orang tidak mengatakan apapun karena memang tidak punya kisah yang bisa diceritakan. Sebagian lagi memandang nanar masa lalunya dengan penuh penyesalan. Sebagian menyesal karena melakukan sesuatu kesalahan, sebagian lagi menyesal karena tidak melakukan sesuatu yang seharusnya bisa dikerjakan seandainya mereka punya cukup keberanian.

Tapi kamu, kamu harus memandang masa lalumu dengan penuh syukur. Syukur karena melakukan sesuatu yang benar, syukur karena melakukan sesuatu dengan penuh keberanian, syukur karena mengakhiri petualanganmu dengan penuh kemenangan.

Selamat ulang tahun, diriku. You are a soul inside a human body. You are unlimited. You are awesome!

What’s Your Why?

Belum pernah ada petinju yang dipukul jatuh oleh Mike Tyson lalu bangun lagi. Tapi Buster Douglas melakukannya. Ia bangkit, bahkan ia akhirnya memukul KO Mike Tyson. Kok bisa? Karena ia punya alasan yang sangat kuat untuk menang. Sekarang giliranmu. Temukan alasanmu untuk menjadi pemenang dalam hidup.

“He who has a why to live for can bear almost any how.”

 ~ Friedrich Nietzsche ~

Bug

Theme Independent Publisher ini sepertinya punya bug kalo ada postingan Quote di list paling atas halaman baru, maka infinite scroll akan membuat tag li:before di CSS-nya ter-append sejak dari halaman paling atas. Sedikit mengganggu, tapi biarlah. Tidak penting dan tidak mendesak 😀

Distraction

Salah satu alasan mengapa kita selalu menunda hal yang penting adalah karena waktu kita penuh dengan hal yang tidak penting.

~ Tung Desem Waringin

Akhir-akhir ini banyak distraction yang cukup mengganggu. Facebook semakin riuh rendah dan seperti tidak berhenti membahas isu-isu yang silih berganti. Sejak Pemilu 2014, topik politik terus saja tidak berhenti bergaung di dunia maya. Munculnya para hater ababil yang kayak gak pernah kehabisan energi menjelek-jelekkan pemerintah, akhirnya memancing para orang-orang pinter untuk ikut bersuara melawan kebodohan. Bagus sih, untuk pembelajaran masyarakat. Fitnah ditebar, kebenaran diungkapkan, masyarakat belajar. Tapi ya karena tidak pernah berhenti, lama-lama pusing sendiri bacanya.

Tambah lagi tingkah polah para politisi yang gak berhenti bikin kontroversi. Gerombolan raksasa yang terus bikin onar, mulai foto bareng capres rasis Amerika, sampe dagelan Mahkamah Kehormatan Dewan dalam kasus Papa Minta Saham.

Lalu ada isu-isu minor seperti isu LGBT yang memancing banyak orang berpendapat, termasuk orang-orang yang tidak kompeten di bidang itu. Lalu heboh status bego Tere Liye, novelis roman yang sok bicara sejarah padahal jadi kelihatan gak tau sejarah.

Bla bla bla bla, gak rampung-rampung rasanya. Pemilu sudah tahun 2014, tahu-tahu sekarang sudah 2016. Rasanya dua tahun terbuang sia-sia ter-distract oleh Facebook.

Selain Facebook, distraction lainnya adalah game. Sejak kemunculannya, aku seperti terbius oleh game Path of Exile. Game bergenre ARPG ini awalnya hanya untuk pelarian kalau sedang stress karena kerjaan. Lama-lama kok ya mengganggu, sampai kerjaan keteter karena terlalu asyik main game. Padahal tentu saja ada hal yang lebih penting dari sekedar achievement di game. Real life achievement jelas jauh lebih penting.

Selain itu ada distraction lagi, tapi itu gak usah diomongin lah ya. NSFW 😀

Intinya, kita perlu tahu bahwa ada hal yang penting dan yang tidak penting. Nah lalu ada hal yang mendesak dan tidak mendesak. Mana yang harus didahulukan? Apakah yang penting dan mendesak? Salah. Kenapa? Klik di sini untuk tahu jawabannya.

f9d9bef1a6b57d379bad2346819bcc0a.jpg

Disiplin

Kayak kena tampar waktu nonton videonya Tung Desem Waringin di Youtube. Temanya “Menanam Tindakan, Membuang Penundaan, Menuai Keajaiban.” Salah satu yang dibahas adalah soal disiplin. Denger kata ini aja otakku langsung kena setrum. Yaoloh itu kata kayak udah lama banget gak aku dengar. Ternyata emang udah lama aku gak disiplin. Soal waktu, soal kerjaan, soal tindakan mencapai goal. Pantesan akhir-akhir ini kayak goyang, ternyata aku lupa satu hal paling penting dalam hidup yaitu DISIPLIN.

Salah satu yang harus didisplini adalah dalam hal prioritas tindakan. Ada empat area yang harus diperhatikan:

  1. Area yang tidak penting dan tidak mendesak. Area ini harusnya ditinggalkan. Contohnya: main game -__- Hadeh udah gak keitung berapa waktu yang benar-benar berharga tapi terbuang untuk ngegame, padahal itu tidak penting dan tidak mendesak. Menyenangkan iya, tapi tidak penting dan tidak mendesak.
  2. Area yang tidak penting tapi mendesak. Area ini harus dikerjakan segera karena sifatnya memang harus dikerjakan sekarang. Contohnya nerima telpon, ngising, dll.
  3. Area yang penting dan mendesak. Biasanya kita terpola untuk mengutamakan hal ini. Ternyata hal ini SALAH. Karena kalau kita selalu mengutamakan hal yang penting dan mendesak, kita jadi terbiasa mengerjakan sesuatu ketika waktunya sudah mepet. Akhirnya hidup kita kayak selalu dikejar-kejar deadline. Yang harus diutamakan adalah:
  4. Area yang penting dan tidak mendesak. Sebelum sesuatu itu mendesak, kita harus kerjakan terlebih dahulu. 80% waktu kita harus digunakan untuk sesuatu yang penting dan tidak mendesak, pada waktu masanya sudah tidak mendesak lagi karena sudah kita kerjakan dari awal.

Nah yang harus disiplin adalah melakukan hal-hal yang PENTING DAN TIDAK MENDESAK, supaya ketika deadlinenya hampir tiba hal itu sudah tidak mendesak lagi karena sudah kita kerjakan sebelumnya.

Thanks Pak Tung.

DISIPLIN