Trauma

cara mendidik anak

Satu hal yang aku pikirkan akhir-akhir ini adalah kenapa dalam salah satu bisnis aku sulit sekali bergerak maju. Jangankan untuk mencapai hasil akhir. Untuk melangkah saja rasanya ada saja yang bikin kaki ini dingin – ini diksi yang tidak baik, karena menggunakan kata-kata yang kalau diulang terus menerus akan diwujudnyatakan oleh pikiran bawah sadar – ragu. Lalu aku melihat tulisan-tulisan goal yang kupajang di dinding ruang kerjaku. Salah satunya, aku ingin punya sebuah bisnis tertentu, dengan alasan pengen punya penghasilan yang banyak tapi tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Lalu aku ingat bahwa ternyata di bisnis itu memaksa aku untuk sering keluar rumah. Nah, barangkali itu sebabnya pikiran bawah sadarku membuatku ragu melangkah, supaya aku bisa memenuhi goalku untuk tetap punya waktu banyak untuk keluarga. Memang ada beberapa faktor, tapi barangkali faktor ini yang paling kuat karena berhubungan erat dengan trauma masa laluku yang bermuatan emosi sangat tinggi.

Aku mengamati dalam kehidupan, orang seringkali melakukan sesuatu yang sangat berkebalikan dari yang dialami di masa kecilnya. Ia mungkin melakukannya terhadap dirinya sendiri, atau terhadap keluarga termasuk anak-anaknya. Hal ini terjadi apabila ia merasa trauma dengan apa yang terjadi di masa kecilnya. Misalnya saja sering kita dengar orang-orang yang menjadi sangat kaya padahal mereka terlahir dari keluarga yang teramat miskin. Kemungkinan kemiskinan itu telah membuat mereka sangat menderita sehingga dalam pikiran bawah sadar mereka terprogam bahwa kemiskinan itu menimbulkan rasa sakit sehingga harus dijauhi. Melalui kekayaan, orang merasa menemukan kebahagiaan.

Ada pula orang yang di masa kecilnya sangat miskin hingga untuk makan pun sangat sulit. Kemiskinan itu melahirkan tekad bahwa ia harus menjadi orang kaya. Namun ketika sudah menjadi kaya, ia memiliki anak yang obesitas dari kecil. Rupanya trauma masa kecilnya membuat orang itu membiarkan anaknya makan apapun yang diinginkan tanpa peduli porsinya. Akhirnya anaknya justru yang menjadi korban trauma masa kecil ayahnya.

Aku dulu waktu kecil jauh dari bapak. Bapak bekerja di Jakarta, sementara aku, ibuku, dan adikku tinggal di Purworejo, kota kecil 500 km dari Jakarta. Bapak pulang sebulan sekali. Aku merasa sangat senang ketika Bapak pulang, dan sedih ketika Bapak harus kembali berangkat merantau. Bisa dibilang di masa kecilku aku jarang merasakan kedekatan dengan sosok ayah. Rupanya trauma itu yang membuatku memutuskan untuk sekarang bekerja di rumah. Aku ingin keluarga dan anak-anakku merasakan kebahagiaan selalu dekat dengan sosok ayah. Apalagi ketika aku belajar banyak hal tentang keluarga dan peran penting sosok ayah terhadap pertumbuhan mental anak-anak.

Sayangnya trauma masa kecilku itu kini berbalik jadi bumerang. Ketika aku hendak memulai bisnis yang memaksaku sering meninggalkan rumah, pikiran bawah sadarku menolak. Seperti yang aku pelajari, ketika ada konflik antara pikiran sadar dengan pikiran bawah sadar, yang selalu menang adalah pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran bawah sadar 9 kali lebih kuat daripada pikiran sadar.

Solusinya gimana?

Salah satu solusi adalah dengan membangun bisnis yang dijalankan di rumah. Banyak bisnis yang berawal dari rumah kemudian menjadi besar karena dijalankan bersama pasangan. Untuk itu perlu komunikasi intens dengan pasangan mengenai rencana-rencana bisnis ke depan, apa yang bisa dilakukan bersama.

Solusi lainnya, aku harus mengedukasi pikiran bawah sadarku bahwa tidak selamanya meninggalkan rumah itu buruk untuk keluarga dan anak-anak, asalkan tahu tips dan triknya. Aku ingat cerita Pak Adi W. Gunawan tentang seorang ayah yang bekerja di kantor, yang karena jabatannya ia harus sering lembur dan hampir selalu pulang ketika anak-anaknya sudah tidur. Herannya, relasinya dengan anak-anaknya sangat baik. Anak-anaknya selalu nurut dan dekat dengannya. Teman-temannya heran karena anak-anak mereka tidak dekat dengan mereka. Ya gimana, wong mereka berangkat anak-anak belum bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tidur. Ternyata rahasianya, setiap kali si ayah ini pulang kantor dan anak-anaknya sudah tidur, ia selalu memeluk anak-anaknya sambil berkata, “Ayah sayaaaang sekali sama kamu.” Anak-anaknya dalam kondisi ngantuk menjawab, “Aku juga sayaaaan sekali sama ayah.” Ternyata dalam kondisi mengantuk, anak-anak berada dalam kondisi hypnosis yang sangat dalam sehingga sangat sugestif. Apapun yang dikatakan oleh orang yang dianggap memiliki kharisma tinggi akan langsung masuk ke pikiran bawah sadarnya, terekam sebagai program yang sangat kuat. Inilah sebabnya anak-anaknya merasakan kedekatan dengan ayahnya meski secara kuantitas sebenarnya tidak sebanyak keluarga yang ayahnya bekerja dari rumah.

Ada beberapa teknik self therapy yang bisa dilakukan untuk meng-edit program di dalam pikiran bawah sadar ini. Aku bersyukur aku belajar banyak dari Pak Adi.

Keterangan gambar: Foto bersama Sherine, keponakanku. Kami jarang ketemu, paling setahun 2 kali. Tapi setiap ketemu selalu kuusahakan memasukkan kenangan-kenangan yang sangat menyenangkan dalam ingatannya. Sekarang umurnya 4 tahun dan sangat dekat dengan aku dan istriku.