Kebohongan

Satu kebohongan akan berbuah kebohongan lain untuk menutupinya. Lalu lagi, lagi dan lagi, semua untuk terus menutupi kebohongan yang kian menumpuk. Jujur adalah awal dari pembebasan. Kejujuran memutus rantai kebohongan. Barangkali pahit dan sakit, tapi hanya itu satu-satunya jalan untuk kembali mendapatkan kedamaian.

Media

Social media, media yang isinya berasal dari lingkaran-lingkaran sosial kita. Tanpa filter, jadi sering terasa riuh rendah. Seperti berada di tengah konser musik metal, lalu kita memecahkan piring untuk menambah bunyi-bunyian, atau sekedar mencari perhatian. Sebagian orang memperlakukan social media seperti pemilik koran lampu merah. Segala macam konten sampah dimasukkan untuk menambah oplah, demi merasa eksis meski menuai caci maki dan sumpah serapah.

Kita membenci televisi karena mutu siarannya rendah. Lalu kita isi media sosial dengan tulisan-tulisan yang bermutu rendah. Seperti mengumpati banjir lalu berak di meja makan.

Sedekah

Sedekah dibalas berkali-kali lipat. Rejeki diantar. Ya bagi sebagian orang penghayatannya barangkali memang begitu. Tapi berapa persen orang yang melakukan itu benar-benar berhasil? Berapa yang tidak? Yang kita lihat dan dengar biasanya cuma kisah-kisah luar biasa, mirip keajaiban, tapi berapa banyak orang yang menggerutu dalam diam karena sudah sedekah banyak tapi gak dapat balasan apa-apa? Coba bandingkan persentase keberhasilan metodenya itu pada 1000 orang, dengan persentase keberhasilan orang-orang yang punya tujuan, tau strategi, berguru pada yang sudah berhasil di bidangnya, mau kerja keras, tekun, sambil tetap stay humble dan enjoying life.

Sedekah itu bukan berharap balasan. Sedekah itu melatih ilmu ikhlas, ketidakmelekatan pada harta. Nah orang yang tidak melekat itu kalau di tabel Map of Consciousness penelitiannya David R. Hawkins berada level energi positif Neutrality (10^250). Itulah sebabnya mereka menarik lebih banyak energi positif dalam hidupnya.

Beda dengan orang yang bersedekah mengharap balasan, mereka berada pada level energi negatif Desire (10^125). Di dalam memberi mereka menyimpan ambisi pribadi mereka. Memberi 1 M padahal karena ingin dapat 10 M. Itulah sebabnya orang-orang itu bukannya menarik hal-hal positif namun justru hal-hal negatif. Tak heran orang-orang seperti itu gampang dibohongi karena jauh sekali dari level energi positif Reason (10^400) yang cirinya emosinya adalah memahami dan berpikir mendalam.

Kalau mau sedekah, memberi, lakukanlah karena memberi itu membahagiakan. Memberi itu kita mengatakan pada diri kita sendiri, “Saya sudah berkecukupan,” berapapun harta yang kita miliki. Memberi itu memberikan kedamaian. Nah kedamaian ini ada di level energi positif yang sangat tinggi yaitu Peace (10^600).

Hidup bukan untuk orang malas. Hidup adalah untuk orang yang bekerja.

Emotional-Energy-Levels

Waktu

Waktu itu tidak ada. Yang ada adalah pergerakan benda-benda. Pergerakan sel-sel tubuh, pergerakan benda-benda langit. “Waktu” menjadi berharga karena tubuh kita “menua”. Pergerakan sel-sel tubuh kita tidak abadi. Ada saatnya kerusakan sel tubuh kita lebih cepat daripada penciptaan sel-sel baru. Ketika sel-sel tubuh tak lagi mampu menopang organ-organ vital, itulah saatnya kematian tubuh kita.

Konsep waktu menjadi berharga karena pergerakan mikrokosmos dalam tubuh kita terbatas. Konsep waktu menjadi bernilai karena ada perbandingan antara keabadian keinginan manusia dengan ketidakabadian mikro. Maka manusia hidup seperti berkejaran dengan waktu. Padahal kita berkejaran dengan pergerakan sel-sel tubuh kita sendiri. Ada orang yang umur 40-50an sudah tidak bisa apa-apa, ada orang yang umur 80an masih sibuk berkarya. Bahkan menurut cerita, ada orang-orang yang hidupnya hingga ratusan tahun. Bagi mereka barangkali hidup tak lagi soal waktu. Hidup adalah soal karya. Perubahan apa yang bisa kita lakukan terhadap diri dan lingkungan kita ketika kita masih punya kekuatan untuk berbuat.

Jadi apa yang akan anda lakukan dalam satu putaran revolusi bumi mengelilingi matahari yang akan datang terhitung mulai saat ini?