Properti

Tahun ini aku mengambil keputusan besar untuk nyemplung ke dunia properti, menjadi developer properti. Belajarnya sih sudah lama, sudah sejak sekitar dua tahun lalu kalau tidak salah. Selama dua tahun, sempat action sesekali tapi kemudian mandeg. Rupanya tangan ini belum pantas untuk menerima rejeki sebagai developer properti.

Kuartal pertama tahun 2015 ini, aku memutuskan untuk serius di bisnis properti. Keputusan yang kuambil setelah berkonsultasi banyak hal dengan Mas Rusijo, teman workshop properti yang sudah punya beberapa lokasi proyek di Wates, Kulonprogo, Yogyakarta.

Ada banyak hal yang kupelajari di bisnis properti. Seperti biasa, melalui kesalahan kita belajar. Sedangkan langkah yang benar kita jadikan kebiasaan.

Pelajaran pertama yang kuambil adalah pentingnya perencanaan yang matang. Tanpa itu kita bisa jadi susah payah dalam proses eksekusi. Perencanaan keuangan, desain, strategi marketing, timing. One funny thing is hal perencanaan ini selalu mengingatkanku pada pengalaman masa kecilku dulu waktu ujian keterampilan di bangku SD. Aku sudah merancang lampion kertas yang cantik sekali, tapi yang lupa aku perhitungkan adalah timing. Akhirnya lampion cantikku tidak terselesaikan dalam ujian itu. Hiks. (Nah ini perlu Hypno EFT untuk menghilangkan trauma dan segala macam emosi negatif yang muncul kalau mengingat kejadian itu). Waktu proses akuisisi lahan di proyek pertamaku ini tentu saja aku melakukan beberapa kesalahan yang meski tidak terlalu fatal namun cukup memaksaku berpikir memutar otak mencari solusi. Salah satu kesalahanku adalah membeli lahan dengan sistem borongan. Seharusnya membeli lahan itu dengan harga per meter persegi, dan luasan lahan diukur terlebih dahulu. Jadi harga total harus berdasar luasan yang terukur, bukan berdasar keterangan di surat tanah yang ada. Apalagi kalau surat tanahnya belum ada, masih letter C atau yang lain.

Pelajaran kedua adalah skill negosiasi. Sabar, berproses, mendengar, mengajukan penawaran, tidak perlu terburu-buru. Cintai bisnisnya, bukan lokasinya, kalau kata Suhu AW. Negosiasi tidak harus jadi. Kalau memang tidak menguntungkan ya tidak harus jadi. Cari lokasi lain. Untungnya lokasiku ini masih masuk hitungan meski beli lahannya sedikit kemahalan.

Pelajaran ketiga adalah tentang eksekusi. Aku salah perhitungan timing, memulai proyek properti persis menjelang musim panen bisnisku yang lain yang aku masih terlibat penuh di dalamnya. Akhirnya proyekku sempat terlantar. Untungnya dengan metode yang kupelajari di QLT, aku tahu bahwa yang selama ini menghambatku mendapatkan karyawan untuk mengurus bisnisku itu adalah karena ada bagian diriku yang tidak  mau berbagi ruang kerja dengan orang lain karena berbagai alasan. Akhirnya kupindahkan komputer dan beberapa mesinku ke lantai 2. Eh lha kok njuk tiba-tiba dapet karyawan yang ndilalahnya juga cepet belajar mencapai standar hasil pekerjaan yang kuinginkan.

Pelajaran terakhir adalah konsistensi. Niat untuk menjadi sesuatu itu harus dibarengi dengan konsistensi dan kesadaran penuh bahwa kita adalah sesuatu itu. Niatku untuk menjadi pengusaha properti harus dibarengi konsistensi dan kesadaran penuh bahwa aku adalah pengusaha properti. Itu artinya aku harus bikin team kerja, cari karyawan, set up kantor, dll yang konsisten dengan diriku sebagai pengusaha properti.

Begitulah, hidup itu ya ini. Kita bukan belajar hidup, tapi dalam hidup kita belajar. Aku tidak mau lagi belajar bisnis properti, tapi aku mau berbisnis properti yang di dalamnya terkandung juga proses belajar. Semantik bro. Semantik. Penting itu.

Miracle

Barusan gak sengaja lihat nama Angelina Miracle di salah satu template kerjaanku, nama yang kusiapkan untuk anakku kalau kelak lahir perempuan. Nama yang kupilih yang bermakna malaikat keajaiban, karena ia tercipta dalam kondisi yang hampir tidak mungkin. Tiba-tiba terlintas dalam benak, bahwa itu adalah belief yang salah. Aku ingat kejadian ketika dulu punya belief bahwa kalau kita lihai menyetir mobil di jalan, selalu anggap sopir lain itu bodoh. Karena kalaupun kita sudah berhati-hati, seringkali orang lain yang tidak berhati-hati. Alhasil, belief itu membuat mobilku ditabrak orang sampai 7 kali dalam setahun. Nah, sekarang aku tidak mau anakku kelak terlahir sebagai sebuah keajaiban. Aku ingin anakku dikandung secara normal, lahir juga secara normal, tidak ada keajaiban di dalamnya.

Einstein pernah berkata,

“There are two ways to live: you can live as if nothing is a miracle; you can live as if everything is a miracle.”

— ALbert einstein —

Aku ingin anakku kelak tidak dikandung dan terlahir dalam kondisi yang hampir tidak mungkin, karena semuanya mungkin. Namanya mungkin masih akan tetap malaikat, namun sekarang aku mengubah beliefku bahwa tidak ada keajaiban, karena semuanya adalah keajaiban.

There’s no miracle because everything is a miracle.

— saya —