Anak dan Pertanyaan Kehidupan

cara mendidik anak

Beberapa hari yang lalu beli lauk di sebuah gerai fast food, ada anak dimarahi dibentak-bentak sama bapaknya cuma karena si anak senang naik turun tangga yang ada di situ. Padahal mungkin dia senang karena rumahnya tidak bertingkat jadi tidak ada tangga. Si anak kemudian nurut. Ketika mau cuci tangan, dibentak lagi karena ternyata telapak tangan kanan si anak diplester. Sepertinya bekas luka yang agak panjang. Ia dibentak karena kata si bapak kalau cuci tangan nanti plesternya basah. Dengan tetap tersenyum polos si anak bilang, “Yang kiri aja.” Lalu ia mencuci tangan kirinya saja, yang kanan tidak.

Pulang dari situ aku berjalan termenung menuju mobil bersama istriku. Istriku nanya, “Kamu kenapa say? Kok jadi diem?”

“Sedih liat anak kecil dibentak-bentak gitu..” jawabku.

Kadang gemes banget kalo liat orangtua yang bentak-bentak memarahi anaknya di tempat umum cuma karena hal-hal yang sebenarnya bukan masalah. Kalaupun hal itu berbahaya bagi si anak, kan bisa diomongin baik-baik. Kalau tidak terlalu berbahaya, kan lebih baik kita yang mendekati, mengawasi dan menjaga mereka supaya mereka tetap aman. Namanya anak-anak, sifat keingintahuannya pasti besar. Sifat itu jangan diredam. Anak-anak yang selalu ingin tahu hingga dewasa mereka akan menjadi anak-anak pembelajar. Mereka akan menjadi pribadi yang kreatif, suka tantangan dan selalu berusaha supaya bisa. Sifat-sifat yang penting dimiliki oleh setiap orang dewasa. Kalau sifat itu dibunuh dari kecil, mau jadi apa anak-anak kita?

Gemes lagi liat orangtua yang menelantarkan anak-anaknya. Apalagi dalam kemiskinan, bikin anak gak kira-kira. Anaknya banyak, semuanya gak sekolah. Duh ya mbok yao kalo bikin anak itu orangtuanya sendiri belajar bertumbuh jadi orangtua yang baik, bertanggungjawab terhadap pertumbuhan anak-anaknya. Gak cuma pengen enaknya doang. Kalo mau punya anak banyak, belajar tuh kayak Halilintar. Anaknya 11, tapi semuanya pendidikan dan kebutuhan hidupnya cukup.

Kadang hal-hal seperti itu membuatku mempertanyakan apakah anak itu pemberian Tuhan atau cuma hasil yang hampir pasti ketika terjadi pertemuan antara sel sperma dengan sel ovum. Banyak orang yang memiliki pergumulan mengenai keturunan, berdoa meminta kepada Tuhan supaya diberi momongan. Eh, banyak orang yang kayaknya gak minta malah punya anak cuma gara-gara kebelet nyelup. Hamil di luar nikah, trus malah pengen menggugurkan anak dalam kandungannya. Kontradiktif. Ada juga yang gak ngegugurin kandungannya, tapi begitu lahir ditelantarin gitu aja. Sigh..

Guys, menjadi orangtua itu menurutku sebuah anugerah. Kita bisa belajar banyak hal dari anak-anak kita yang sekarang seringkali seperti old soul in a child body. Anak-anak sekarang sepertinya jauh lebih dewasa dan bijaksana daripada kelihatannya. Kita bisa belajar banyak dari mereka.

Selain itu, kita pun jadi wajib untuk bertumbuh berkembang menjadi manusia yang lebih baik, bertanggungjawab, cerdas dan dewasa. Anak-anak itu meniru apa yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Kalau anak-anak kita kok jadi galak suka teriak-teriak, coba lihat diri kita dan pasangan kita, jangan-jangan kita juga sebenernya galak tanpa kita sadari. Kalau anak-anak kita cari perhatian kita terus dengan berbuat yang aneh-aneh, jangan-jangan kita sendiri memang kurang memperhatikan mereka dengan berbagai alasan dan pembenaran kita. Memiliki anak adalah sebuah anugerah sekaligus tuntutan kewajiban.

Masih ada banyak misteri kehidupan yang ingin kuketahui, termasuk mengapa aku melihat orang-orang yang dalam penilainku kurang layak untuk menjadi orangtua malah punya (diberi oleh Tuhan?) anak banyak, sementara orang-orang yang dalam penilaianku baiknya luar biasa justru belum punya (diberi oleh Tuhan?) anak meski sudah menikah lama. Misteri yang menarikku masuk dan belajar dalam berbagai dunia ilmu pengetahuan baik yang kasat mata maupun yang tak kasat mata.

Tidak ada pembelajaran satupun yang sia-sia, teman. Satu pengalaman kurang menyenangkan, kalau kita pandang sebagai masalah maka kita akan menjadi tertekan, stress dan putus asa. Namun kalau kita memandangnya sebagai sebuah misteri, pertanyaan yang dilontarkan oleh Kehidupan, kita akan mencari jawabannya. Barangsiapa mencari akan menemukan. Apalagi kalau kita berkumpul dengan orang-orang yang mencari jawaban dari pertanyaan yang sama, insyaallah jawaban akan semakin mudah ditemukan.

Selamat hari Jumat. Semangat kawan !