Belajar Melepas Kemelekatan pada Uang

uang

Esensi ke-tidak-melekat-an bukan dengan tidak memiliki apa-apa, tapi justru pada apapun yang kita miliki tidak memiliki kita. (Adi W Gunawan​)

Bukan uang yang menjadi akar kejahatan, tapi cinta akan uang. Kemelekatan pada harta, meletakkan cinta pada harta, itulah yang membutakan mata hati. Cinta seharusnya ditujukan pada manusia, dan pada Tuhan dalam diri setiap manusia yang kita kenal. Uang adalah salah satu sarana untuk menyatakan cinta itu. Selain cinta, hal-hal yang penting sebagai sarana perwujudan cinta adalah kata-kata yang membangun, sentuhan, pelukan hangat, tindakan melayani dan waktu kebersamaan. Hal-hal yang kita lupakan kalau hati kita melekat pada uang.

Kemelekatan pada uang bukan hanya karena kita memiliki banyak uang. Bahkan kemiskinan bisa membuat orang juga melekat pada uang. Bukan kemiskinan secara finansial, melainkan secara mental. Tidak peduli kita punya uang banyak atau sedikit, kalau hati kita miskin cinta kasih kita akan melekat pada uang. Dari situ kita akan melakukan hal apapun demi uang. Yang punya akses akan menjadi koruptor, yang tidak punya akses akan menjadi maling motor. Dua-duanya sama-sama karena cinta uang.

Bagaimana melepaskan diri dari kemelekatan pada uang? Kita harus belajar melepaskan.

  1. Hanya membeli barang-barang yang kita butuhkan, bukan kita inginkan. Belajar melepaskan keinginan.
  2. Menabung. Belajar memahami fungsi uang bukan untuk dihabiskan tapi untuk disimpan sewaktu-waktu dibutuhkan. Ada orang yang memaksa diri menabung dalam bentuk properti namun secara kredit/hutang yang dicicil tiap bulan. Ini bukan menabung tapi terpaksa menabung karena kalau pegang uang cash selalu habis entah ke mana. Orang semacam ini memiliki masalah mindset tentang uang. Biasanya timbul pada orang-orang yang percaya bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan. Ketakutan dalam pikiran mereka yang membuat mereka selalu melepas uang yang susah payah didapatkan.
  3. Membeli cash, bukan kredit untuk barang-barang sekunder. Belajar memahami bahwa barang-barang sekunder adalah hanya sekedar reward atas kerja keras kita, tidak boleh membebani cashflow harian/bulanan kita.
  4. Bersedekah. Memberi adalah bukti bahwa kita tidak melekat pada uang. Memberi adalah melepaskan keterikatan kita pada uang. Belajar memahami bahwa uang hanyalah alat untuk mewujudkan kesejahteraan bagi orang lain juga.

Selamat pagi. Selamat menjemput rejeki.

Ngeliat orang pinter, punya jabatan dan kedudukan tinggi, tapi tidak bijaksana itu rasanya kasihan. Kasihan beliaunya, kasihan juga sama orang-orang yang dipimpinnya. Tapi ya sudah lah. Setiap orang belajar. Ada yang cepet, ada lambat, ada yang lambat banget. Tapi setiap orang pasti belajar.

Jadi makin sadar pentingnya setiap orang tahu cara kerja pikiran, cara menggunakan dan memanfaatkan potensi pikiran. Karena kebijaksanaan bukan sesuatu yang bisa dipelajari di bangku kuliah. Kebijaksanaan dimulai dari mengenal diri sendiri. Karena itu setiap orang yang ingin mendapat kebijaksanaan haruslah menempuh perjalanan sunyi ke dalam dirinya sendiri.

Ego Sang Guru

Bagiku, seseorang yang gampang tersinggung bila dikritik atau ditegur tidaklah pantas untuk menjadi seorang guru. Terlebih lagi dalam bidang spiritual, di mana salah satu pembelajarannya adalah bagaimana memahami gerak ego atau sang aku dalam diri dan menjadikan Aku sebagai tuan atas aku. Ini topik panjang, tapi salah satu ciri orang yang sudah mengalami kebangkitan, dilahirkan kedua kalinya, pencerahan, manunggaling kawula gusti atau apapun itu namanya, adalah ia tidak lagi mudah – atau malah tidak lagi bisa – tersinggung. Ini karena tersinggung adalah kerja ego. Seseorang yang tersinggung kemudian marah berarti egonya masih berkuasa atas dirinya. Bila seseorang telah menjadi tuan atas egonya sendiri, maka perkataan apapun dari orang lain tidak akan membuatnya tersinggung. Ia sadar bahwa ia hanya bisa marah kalau ia mengijinkan dirinya marah. Pikiran adalah seperti sebuah rumah, sementara emosi adalah tamu yang datang dan pergi. Emosi hanya bisa menguasai diri kita kalau kita mengijinkannya masuk ke dalam rumah pikiran kita.

Diri kita terdiri dari tubuh, pikiran, emosi/perasaan dan ingatan. Ketika kita tersinggung, siapa yang sebenarnya sedang tersinggung? Apakah tubuh kita, perasaan kita, ingatan kita, ataukah perasaan kita? Benar, yang tersinggung adalah perasaan kita. Tapi apakah perasaan kita sama dengan diri kita? Tidak. Kita bukanlah perasaan kita. Emosi datang dan pergi. Tapi pikiran kita tinggal tetap. Ia yang telah memahami siapa dirinya akan mudah melihat setiap gerak emosi dalam dirinya sehingga pikirannya tetap jernih dalam keadaan apapun.

Refleksi

Satu hal yang menarik dalam khotbah tadi pagi adalah ketika Pak Pendeta memaparkan ide bahwa hambatan yang menjatuhkan bisa datang dari dalam. Kemudian beliau bercerita tentang seorang warga yang datang ke rumah beliau dan berkata bahwa tidak mungkin gereja kecil yang tidak kaya ini bisa memiliki sebuah stasiun radio. Ini adalah contoh bagaimana kejatuhan bisa dimulai justru dari dalam.

Aku tidak menentang ide itu. In fact, aku malah tidak peduli dengan ide itu. Aku sudah bosan dengan curhatan beliau tentang perjuangannya menghadapi tentangan warga dan majelis yang dianggap tidak suka dengan ide beliau. Padahal menurutku tentangan itu cuma efek ketidakmampuan beliau menyederhanakan dan memaparkan ide kepada semua kalangan dan membuat semua warga memiliki keinginan untuk bekerja bersama.

Yang menarik adalah justru setelah itu, beliau melontarkan sebuah ketidakyakinannya bahwa negara Indonesia ini akan bertahan sampai umur 100 tahun. Well… Mungkin cuma aku yang melihat, tapi aku melihat kontradiksi di sini. Di satu sisi beliau memperingatkan bahwa hambatan bisa datang dari sisi internal, sementara beliau sendiri mengemukakan ide yang menjatuhkan tentang kemungkinan negara kita mencapai umur 100 tahun.

Aku tidak hendak menyerang pribadi beliau sih. Gak ada gunanya juga. Cuman yang kembali aku pelajari adalah bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita adalah refleksi / pantulan dari apa yang kita pancarkan dari dalam pikiran kita. Ketika Pak Pendeta mengalami berbagai macam hal yang menurut beliau adalah hambatan dari dalam, itu sebenarnya reaksi dari program dalam pikiran bawah sadarnya yang menganggap bahwa selalu akan ada hambatan dari dalam. Dan itu tercermin dalam kata-kata beliau tentang ketidakyakinannya pada umur negara ini. Terlebih tadi pagi ketika aku sedang memanasi mobil, aku mendengar rekaman renungan pagi beliau di radio yang juga senada.

Karena itulah sudah sejak lama kalau aku mendengar beliau (dan pendeta-pendeta setipe) berkhotbah aku selalu memegang prinsip bahwa yang masuk ke pikiran bawah sadarku hanyalah hal-hal yang aku setujui untuk masuk ke pikiran bawah sadarku. Pikiran ini terlalu berharga untuk diserahkan kepada orang lain untuk mengisinya. Kehidupan kita adalah buah dari pikiran kita. Untuk mendapatkan buah yang baik, kita harus menanam benih yang baik. Karena itu penting untuk selalu menjaga kesadaran, berjaga-jaga di depan pintu pikiran kita, supaya hanya benih yang baik yang tertanam dalam pikiran kita. Hanya dengan demikianlah kita bisa mengalami kehidupan yang baik dan menyenangkan.

On a side note, kemarin aku baru beli jam tangan baru, Casio G-Shock GA-100. Udah pengen punya jam tangan G-Shock sejak jaman masih SD atau SMP gara-gara liat iklannya di majalah Bobo. Dulu ortu gak kuat beli karena waktu itu tergolong mahal buat kantong keluarga kami. Puji Tuhan kemarin bisa beli pakai uang sendiri. Gak mahal banget sih. Cuma sekitar 1,3 juta. Tapi baru kali ini punya jam yang harganya di atas 1 juta. Pernah sekali beli jam di atas 1 juta tapi buat kado orang lain. Jamku sendiri harganya gak pernah lebih dari 500 ribu. Hehe..

Yang aku suka dari jam ini adalah kedap air, plus tampilannya keren. Fungsi memang jadi patokan utamaku kalau membeli segala sesuatu. Kalo gak fungsional, mending gak usah beli. Misalnya smartphone tablet yang segede buku. Pengen sih beli. Duitnya juga ada. Tapi aku ngebayanginnya aja males, ke mana-mana musti bawa barang yang gak bisa dikantongi. Ribet. Fungsinya juga gak jauh beda sama hape yang layarnya di bawah 5″. Paling cuma buat foto-foto, facebook, twitter, instagram, BBM, email, baca berita, udah. Hehe.

Selain kedap air, aku suka fitur auto light-nya. Jadi jam ini bisa disetting lampunya otomatis menyala kalau tangan kita berada pada sudut tertentu. Fitur ini berguna terlebih pada malam hari. Jadi ketika kita menghadapkan jam ini ke wajah kita, lampunya otomatis menyala menerangi bagian dalam jam ini.

Catatan ini bukan pamer. Hanya menunjukkan kembali bahwa apapun yang kita impikan suatu saat pasti akan terwujud asalkan kita tidak pernah berhenti memimpikannya. Karena kehidupan adalah buah dari pikiran kita.

review jam tangan casio g-shock ga-100

LIhat lampunya menyala ketika jam tangannya kuhadapkan ke wajahku. Bukan karena sensor wajah, tapi karena tanganku membentuk sudut kemiringan tertentu yang mengaktifkan lampunya. Maap gambarnya kabur. Hape yang kameranya auto fokus lagi abis baterenya. Hehe

Bapak itu kayaknya hobi banget curhat. Kayaknya emang segala yang dia lakukan dimotivasi oleh rasa sakit hati. Tapi maklum juga sih, prinsip hidupnya memang bahwa hidup itu pasti menderita. Jadi kalo nggak menderita rasanya nggak hidup kali ya.

Kalau saya sih ogah.